Mengendalikan Amarah

Mengendalikan Amarah

Puji Astuti Official Writer
5200

Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu (Efesus 4:26 TB).

Pertengkaran dalam rumah tangga seringkali diawali dengan sebuah pernyataan yang sangat provokatif, kritikan tajam, sindiran ataupun pernyataan yang sifatnya menuduh tentang bagaimana mengelola rumah tangga. Siapapun dari antara suami istri dapat memulai pertengkaran dengan gaya teknik masing-masing. Memulai pertengkaran itu sesungguhnya mudah, tetapi bagaimana mengakhirinya? Apakah mengakhiri pertengkaran itu juga semudah memulainya? Jika mengakhiri pertengkaran itu semudah memulainya, maka dapat dipastikan hampir tidak pernah ada pertengkaran, karena masing-masing pihak dapat mengendalikan emosinya sehingga sebelum pertengkaran timbul, kemarahan dapat diredam karena solusi untuk berdamai sudah tersedia. Tapi bukan demikian halnya bukan?

Pertengkaran juga dimulai karena masing-masing pihak merasa benar dan berhak untuk berperilaku seperti yang mereka lakukan. Perilaku ini mereka bawa dari rumah tangga dimana mereka dibesarkan. Sekalipun perilaku mereka sangat kontra produktif mereka tetap bersikeras menampilkan perilaku mereka tersebut dan hal ini mungkin saja timbul karena memang mereka tidak sadar akan perilaku mereka yang kontra produktif atau mereka justru beranggapan bahwa perilaku mereka sanga effektif untuk menaklukan pasangan hidup mereka. Apakah anda dapat membayangkan apa yang akan terjadi jika hal ini berkelanjutan? Apakah anda dapat membayangkan bahwa kebencian, sakit hati, kepahitan, serta keinginan untuk membalas dendam terhadap perilaku pasangan hidup akan muncul tanpa kedua belah pihak sadari? Sikap yang baru ini akan mendorong kasih yang tadinya bergelora dan jika kasih telah menjadi sirna maka pertengkaran lepas pertengkaran akan mewarnai kehidupan rumah tangga ini. Apakah ini tujuan utama anda berumah tangga?

Sesuai dengan topik artikel kali ini "Mengendalikan Amarah", kedua belah pihak harus bersedia belajar untuk tidak menjadikan pernikahan mereka sebagai musuh yang harus dihadapi sehingga sikap permusuhan dapat diredamkan. Pada saat masalah muncul, kedua belah pihak harus bersedia untuk mengungkapkannya dengan santai dan kedua belah pihak setuju untuk saling mendengarkan dengan suara yang rendah. Apakah dengan menaikkan nada anda sewaktu menyampaikan masalah yang ada, pasangan hidup anda lebih bisa mengerti atau lebih bisa mendengarkan anda? Siapakah sesungguhnya yang terlebih dahulu mendengar tentang masalah anda jika anda menyampaikannya dengan nada yang tinggi? Bukankah mereka yang bekerja dirumah anda, anak-anak anda dan kemudian para tetangga? Apakah nada yang tinggi akan menghasilkan solusi atau sebaliknya malahan frustrasi yang timbul yang justru memperburuk kehidupan rumah tangga anda?

Jika perdebatan timbul dan memanas, hendaklah anda cepat menyadarkan diri anda, minta waktu beberapa saat untuk menyejukkan hati yang sedang panas sehingga emosi yang sedang bergelora dapat dipadamkan dan akal sehat muncul. Jika kedua belah pihak bersedia belajar untuk mengenali pola pikiran mereka yang negatif yang muncul secara otomatis dan mengacu kepada pertengkaran, maka baik suami maupun istri harus belajar untuk menggantikan pikiran-pikiran yang selalu mengacu kepada pertengkaran dan bersifat otomatis ini dengan pikiran yang konstruktif, pikiran yang berguna, pikiran yang membangun. Kedua belah pihak harus mampu melihat bahwa menikah itu adalah sebuah pilihan yang diambil atas dasar suka rela setelah menimbang, memikirkan baik buruknya pasangan hidup yang akan dinikahi.

Penulis percaya keputusan untuk menikah diambil karena pasangan hidup yang akan dinikahi lebih banyak memiliki karakter yang positif dan dapat diajak untuk berbagi kasih maupun bergagi kesulitan hidup yang pasti akan muncul dalam mengarungi bahtera kehidupan berumah tangga. Apakah masing- masing pihak bersedia kembali keposisi semula yaitu pada saat keputusan diambil untuk mengatakan "I love You" dan calon istri menyambut baik pernyataan kasih itu.

Menikah itu merupakan sebuah ikrar atau janji yang diambil oleh dua orang yang tidak sempurna untuk menghabiskan perjalanan hidup mereka bersama-sama. Karena kedua belah pihak tidak sempurna dan masing-masing dapat membuat kesalahan, maka didalam ketidak sempurnaan ini juga masing-masing harus mampu untuk saling memaafkan. Masalah timbul, jika salah satu pihak berfungsi sebagai orang yang sempurna dan selalu benar sehingga kesalahan yang kecil akan menjadi sangat besar dan hal ini hanya memperbesar jarak antara suami dan istri. Penulis sekali lagi mengajak para pembaca sekalian yang mungkin mengalami hal-hal yang tertulis diatas ini untuk segera kembali kepada tujuan pernikahan semula.

Jika saran-saran ini anda kerjakan, penulis yakin masalah apapun yang sedang anda alami tidak ada yang kekal, anda akan menemukan jawaban dalam kasih yang sempurna - Tuhan itu Kasih (God is love). Jika anda berdalih dengan memberikan alasan-alasan yang mendukung pernyataan anda bahwa pernikahan anda tidak dapat diteruskan lagi, maka anda sedang mengatakan bahwa masalah anda kekal adanya dan anda sedang memposisikan masalah anda seimbang atau sebanding dengan Tuhan yang kekal. Saran penulis dalam keadaan seperti inipun perceraian bukan merupakan sebuah solusi karena kedua belah pihak pasti suatu saat akan menyesal serta menderita dan penderitaan yang terbesar akan dirasakan oleh anak-anak anda yang tidak tahu menahu tentang permasalahan anda. Segera kembali kepada tujuan semula kenapa anda menikahi pasangan hidup anda, maka anda akan menemukan jawabannya yang singkat, yaitu KASIH dan KASIH menutupi segala kelemahan, menutupi kekurangan, menutupi kesalahan, menutupi pelanggaran. Jika langkah ini anda ambil maka kemarahan anda akan dapat disalurkan dalam bentuk dialog yang penuh dengan kedewasaan dan solusi yang membangun sudah dapat diambil sebelum matahari terbenam dan Tuhan dipermuliakan. Semoga bermanfaat.

Penulis
Rev.Dr. Harry Lee, MD.,PsyD
Gembala Restoration Christian Church di Los Angeles - California
www.rccla.org

 

Baca juga artikel lainnya :

Kasih Mula-Mula

Janji Setia

Aku Berkencan Dengan Wanita Yang Telah Menikah

Bebaskan Dirimu

The Art Of Marriage

Sumber : Rev.Dr. Harry Lee, MD.,PsyD
Halaman :
1

Ikuti Kami