Orangtua, Filter Anak Untuk Tidak Seks Bebas

Orangtua, Filter Anak Untuk Tidak Seks Bebas

Lois Official Writer
5471

Tidak bisa dipungkiri, keluarga mempunyai peran penting dalam membentuk karakter anak-anak, begitu pula para remaja agar terhindar dari pengaruh seks bebas maupun seks sebelum menikah. Orangtua sebagai kepala dari keluarga itu, baik ayah maupun ibu merupakan filter bagi mereka. Seorang ahli kejiwaan seks, Zoya Amriin mengatakan prilaku seks bebas di kalangan remaja menjadi keprihatinan sendiri. Maka dia pun membagikan apa yang seharusnya dilakukan orangtua untuk menjadi filter tersebut.

Memahami Masa-Masa yang Dialami Anak

Orangtua telah melalui masa-masa yang sama seperti yang dialami oleh anaknya. Maka, seharusnya dapat memahami apa yang terjadi saat anak remaja mulai bertumbuh dewasa. Orangtua bisa berbagi sekaligus mendidik bagaimana menyikapi perubahan yang terjadi pada diri anak.

Pembagian Tugas Ayah dan Ibu

Ayah bisa berperan sebagai sahabat anak laki-laki saat si anak mengalami pubertas atau mimpi basah. Ayah bisa bilang setelah mengalami mimpi basah, kita tertarik dan terangsang melihat perempuan karena itu memang hormon yang bertumbuh. Alangkah baiknya kalau sang ayah bisa memberi pengertian kepada anak agar tidak pacaran di usia muda sampai dia bisa mencari uang sendiri dan mampu mengendalikan pubertas tersebut.

Peran ibu dalam pendidikan seks dalam keluarga menjadi penting saat anak perempuan memasuki masa menstruasi. “Kalau anak perempuan mengalami mens, ibu harus memberi pengertian bahwa anak perempuan akan mulai naksir lawan jenis dan mereka pun bisa hamil.” ujar psikolog sekaligus dosen di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia ini.

Dari situ orangtua bisa mengarahkan anak agar mampu menolak lawan jenis yang mereka sukai untuk berbuat sesuatu yang lebih, dan menolak pelecehan seksual yang dilakukan orang lain kepada mereka.

Pentingnya Sampaikan Informasi Bahaya Seks Sebelum Menikah

Charles Wibbelsman, M.D. mengungkapkan bahwa hamil bukan satu-satunya masalah yang harus dikuatirkan remaja, melainkan ada bahaya lain yang lebih menakutkan seperti penyakit menular seksual dan lainnya. “Bahaya seks dini dinilai dapat mempengaruhi kondisi emosional dan sosial remaja,” ungkapnya. Selain itu, remaja yang berhubungan seks terlalu dini berisiko terkena kanker serviks dibanding mereka yang tidak.

Namun bagaimana jika kejadian itu sudah terlanjur dialami anak? Ini cara yang jitu untuk memperbaiki kesalahan tersebut, klik di sini. Perlu diingat bahwa bukanlah hal yang tabu untuk mengajarkan anak-anak pendidikan seksual, namun yang paling penting adalah berikan mereka suatu pengertian yang benar seks di dalam Tuhan, dimana harusnya hal itu hanya terjadi antar suami dan istri saja.

Sumber : berbagai sumber by lois horiyanti/jawaban.com

Ikuti Kami