Semua Indah, Jangan Menangis Mama

Semua Indah, Jangan Menangis Mama

Lois Official Writer
10828

Bu Sally segera bangun ketika melihat dokter bedah keluar dari ruang operasi. Dia bertanya dengan penuh harapan, “Bagaimana anakku? Apakah dia dapat disembuhkan? Kapan saya bisa menemuinya?”

Dokter bedah menjawab, “Saya sudah berusaha semampu saya, tapi sayangnya anak Ibu tidak tertolong.”

Bu Sally bertanya dengan hati remuk, “Mengapa anakku yang tidak berdosa bisa terkena kanker? Apa Tuhan sudah tidak peduli lagi? Dimana Engkau Tuhan ketika anak laki-lakiku membutuhkan-Mu?”

Dokter bedah bertanya, “Apakah Ibu ingin bersama dengan anak Ibu selama beberapa waktu? Perawat akan keluar untuk beberapa menit sebelum jenazahnya di bawa ke universitas.”

Bu Sally meminta si perawat untuk menemaninya saat dia mengucapkan selamat jalan kepada anaknya. Dengan penuh kasih dia mengusap rambut anaknya yang hitam itu.

“Apa Ibu ingin menyimpan sedikit rambutnya sebagai kenangan?” perawat itu bertanya. Ibu Sally mengangguk.

Perawat itu kemudian memotong sedikit rambut sang anak dan menaruhnya di dalam kantung plastik untuk disimpan.

Ibu Sally berkata, “Jimmy anakku ingin mendonorkan tubuhnya untuk diteliti di universitas. dia mengatakan mungkin dengan cara ini dia dapat menolong orang lain yang memerlukan.”

“Awalnya saya tidak membolehkan tapi Jimmy menjawab, ‘Ma, saya kan sudah tidak membutuhkan tubuh ini lagi setelah mati nanti. Mungkin tubuhku ini dapat membantu anak lain untuk bisa hidup lebih lama dengan ibunya.’”

Bu Sally terus bercerita, “Anakku itu memiliki hati emas. Jimmy selalu memikirkan orang lain. Selalu ingin membantu orang lain.”

Bu Sally meninggalkan rumah sakit setelah menghabiskan enam bulan lamanya merawat Jimmy. Dia membawa kantong yang berisi barang anaknya. Perjalanan sungguh sulit baginya. Lebih sulit lagi ketika dia memasuki rumah yang terasa kosong.

Barang-barang Jimmy ditaruhnya bersama kantong plastik yang berisi segenggam rambut itu di dalam kamar anak lelakinya. Dia meletakkan mobil mainan dan barang-barang milik pribadi Jimmy, anaknya, di tempat Jimmy biasa menyimpan barang-barang itu.

Kemudian dibaringkan dirinya di tempat tidur. Dengan membenamkan wajahnya pada bantal, dia menangis hingga tertidur. Sekitar tengah malam, Sally terjaga. Di samping bantalnya terdapat sehelai surat yang terlipat.

Bunyinya begini, “Mama tercinta, saya tahu Mama akan kehilangan saya. Tetapi saya akan selalu mengingatmu, Ma. Dan tak akan berhenti mencintaimu walaupun saya sudah tidak bisa mengatakan, ‘Aku sayang Mama.’

Saya selalu mencintaimu bahkan semakin hari semakin sayang padamu, Ma. Sampai suatu saat kita akan bertemu lagi. Sebelum itu tiba, jika Mama mau mengadopsi anak lelaki agar tidak kesepian, bagiku tidak apa Ma. Dia boleh tidur di kamarku, dan bermain dengan mainanku.

Tetapi jika Mama memungut anak perempuan, mungkin dia tidak melakukan hal-hal yang dilakukan oleh kami, anak lelaki. Mama harus membelikannya boneka dan barang-barang yang diperlukan oleh anak perempuan.

Jangan sedih memikirkan aku, Ma. Tempat aku berada sekarang begitu indah. Kakek dan nenek sudah menemuiku begitu aku sampai di sini. Mereka menunjukkan tempat-tempat yang indah. Tapi perlu waktu lama untuk melihat segalanya di sini. Malaikat itu sangat pendiam dan tampak dingin tapi aku senang melihatnya terbang.

Mama tahu apa yang kuliat? Yesus tidak terlihat seperti gambar-gambar yang dilukiskan manusia. Tapi ketika aku melihat-Nya, aku yakin Dia adalah Yesus. Yesus sendiri mengajakku menemui Allah Bapa!

Tebak Ma apa yang terjadi? Aku boleh duduk di pangkuan Bapa dan berbicara dengan-Nya seolah-olah akau ini orang yang sangat penting. Aku menceritakan kepada Bapa bahwa aku ingin menulis surat kepada Mama untuk mengucapkan selamat tinggal dan kata-kataku yang lain. Namun aku sadar bahwa hal ini pasti tidak diperbolehkan-Nya.

Tapi Mama tahu, Allah sendiri memberikan sehelai kertas dan pensil-Nya untuk menulis surat ini kepada Mama.

Saya pikir malaikat Gabriel akan mengirimkan surat ini kepadamu, Ma. Allah mengatakan akan menjawab pertanyaan Mama ketika Mama bertanya, ‘Dimana Allah pada saat aku membutuhkan-Nya?

Allah mengatakan Dia berada bersama diriku seperti halnya ketika putera-Nya Yesus disalib. Dia ada di sana Ma, dan Dia selalu berada bersama semua anak.

Ngomong-ngomong, tidak ada orang yang dapat membaca apa yang aku tulis selain Mama sendiri. Bagi orang lain, surat ini hanya selembar kertas kosong. Luar biasa kan, Ma?

Sekarang saya harus mengembalikan pensil Bapa yang kupinjam. Bapa memerlukan pensil ini untuk menuliskan nama-nama dalam buku kehidupan. Malam ini aku akan makan bersama Yesus dalam perjamuan-Nya. AKu yakin makanannya akan lezat sekali.

Oh, aku hampir lupa memberitahumu, Ma. Aku sudah tidak kesakitan lagi. Penyakit kanker itu sudah hilang. Aku senang karena aku tidak tahan merasakan sakit itu dan Bapa juga tidak tahan melihat aku kesakitan. Itulah sebabnya mengapa Dia mengirimkan Malaikat Pembebas untuk menjemputku. Malaikat itu mengatakan bahwa diriku kiriman istimewa. Bagaimana Ma?

Salam dari Bapa, Yesus, dan aku.”

 

Baca juga :

Menjadi Sahabat Bagi Pasangan : Suami Kepada Istri (2-end)

Mengapa Natal Jadi Sukacita Terbesar dalam Hidup?

Saat Orangtua Ikut Campur Ngurus Anak

Film Terbaik Tentang Kalkun : Free Birds

10 Cara Makan Fast Food Tapi Tetap Sehat

9 Pernikahan Artis Hollywood Tersingkat, Paling Lama 9 Hari Saja

Forum : Bakti Sosial 7 Desember 2013, Mau Ikutan?

Sumber : youtube.com by lois horiyanti/jawaban.com

Ikuti Kami