Melakukan Sabat adalah Solusi dari 'Burn Out'

Melakukan Sabat adalah Solusi dari 'Burn Out'

Papa Henokh Hizkia Immanuel Simamora Official Writer
      5224
Show English Version

Keluaran 34:21

Enam harilah lamanya engkau bekerja, tetapi pada hari yang ketujuh haruslah engkau berhenti, dan dalam musim membajak dan musim menuai haruslah engkau memelihara hari perhentian juga.

 

Bacaan Alkitab Setahun : [kitab]mazmu146[/kitab]; [kitab]wahyu2[/kitab]; [kitab]zakha13-14[/kitab]

 

Banyak dari kita yang hidup dalam jaman ini, sangat sulit untuk bisa mempraktekan prinsip Alkitab tentang hari Sabat, mungkin kita akan berargumen bahwa hal tersebut hanya berlaku pada masa perjanjian lama dan sudah tidak up to date lagi bila dipraktekan hari ini yang menuntut manusia untuk bergerak cepat dan haram hukumnya bila bersantai-santai. 

Masalah utamanya bukanlah “tidak bisa” melainkan lebih kepada “tidak mau” untuk berhenti atau beristirahat. Pola gaya hidup masyarakat kita sekarang adalah pencapaian kepada kemaksimalan. Dengan padatnya jadwal, aktivitas yang bervariasi, tugas yang banyak, pekerjaan ganda adalah hal yang sudah menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari.

Oleh sebab itu sering sekali prinsip tentang berhenti dari segala kesibukan lalu masuk dalam hadirat-Nya jarang dibicarakan sebagai suatu ”perintah” tetapi lebih menjadi ”saran” dan “pilihan”. Mereka selalu berlindung dibalik kata "sibuk" dan "harus maksimal".

Berbicara tentang kemaksimalan dalam produktivitas, alangkah baiknya bila kita belajar dari alam dan pertanian. Tahukah Anda ada satu saat bahwa tanah yang digunakan untuk menanam harus diistirahatkan untuk memulihkan kembali kondisi tanah tersebut, unsur-unsur penting yang membantu tanaman untuk tumbuh dari tanah tersebut yang hilang bisa mengalami pemulihan kembali, hingga pada waktu tertentu tanah tersebut bisa ditanami lagi dan menghasilkan.

Demikian juga dengan manusia, ada saat-saat dimana kekuatan tubuh, jiwa dan roh kita berada pada ambang keterbatasan bahkan sudah tidak ada lagi “api” alias “burn out”. Sehingga kita mengalami dimana sepertinya apa pun yang kita lakukan mengalami kemandegan, sepertinya semua yang dikerjakan sia-sia. Saat itulah waktunya untuk kita tidak mengambil langkah apapun dan diam di hadapan Tuhan.

Sebab dalam keadaan kelelahan, pekerjaan kita tidak berbuahkan apa-apa. Banyak orang tidak mengerti bahwa kerja keras bukan faktor utama penentu keberhasilan, tetapi hikmat dan pewahyuan yang datang dari Tuhan saat kita melekat pada-Nya, yang akan menuntun kita pada kemenangan, terobosan, dan pelipatgandaan, yang pada akhirnya berdampak baik kepada keluarga, dan orang-orang di sekitar kita.

Ada kekayaan dan kekuatan yang maha besar saat seseorang bisa diam dan tenang di dalam hadirat TUHAN

Ikuti Kami