Nyawa Nyaris Melayang Akibat 50 Tusukan Brutal

Impact Story / 5 December 2011

Nyawa Nyaris Melayang Akibat 50 Tusukan Brutal
Puji Astuti Official Writer
8169

Minggu, pukul 2 pagi, Puji beserta istri dan anaknya masih tertidur lelap. Tanpa disadarinya, seorang tamu tak di undang sedang mengendap-ngendap memasuki kamarnya.

“Awalnya saya mendengar suara klotak, saya pikir suara tikus jadi saya tidak menanggapi suara itu,” tutur Puji.

Namun kemudian ada suara pintu dibuka, Puji berpikir itu istrinya yang sedang keluar kamar untuk mengambil sesuatu. Tapi karena suara itu mengganggu, Puji akhirnya memanggil-manggil istrinya.

“Waktu saya panggil ‘Mah..mah…!’ orang itu dengan penutup kepala naik ke tempat tidur dan memukul saya dengan sebuah alat pemijat ke arah wajah. Ketika pukulannya berhenti, saya merasa ada tusukan di dada dan perut saya.”

Kesakitan dan merenggang nyawa, itulah yang dirasakan oleh Puji. Istrinya yang mendengar suara jeritan Puji segera terbangun. Kaget bukan kepalang, istri Puji melihat seorang pria bertopeng sedang menusuk tubuh suaminya. Ia pun berteriak, “Maling! Maling!” Sadar dirinya terancam, pelaku menyerang istri Puji dengan pisau. Wanita malang itu pun terluka di atas dadanya.

Puji menahan maling tersebut dengan mendekapnya, sehingga istri dan anaknya yang paling kecil bisa lari keluar kamar. Pelaku berusaha mengejar, namun istri puji berhasil mengunci pintu.

“Saya lihat pelaku berusaha buka pintu, tapi tidak bisa. Saya coba telephone satpam, tapi tidak bisa digunakan, “ tutur Endah istri Puji. “Saya merasa takut sekali, waktu saya pegang gagang telephone, saya lihat pelaku berusaha membuka pintu. Kemudian dia berbalik menyerang suami saya lagi.”

Istri Puji terus berteriak-teriak histeris sambil menahan rasa sakit akibat luka tusukan di dadanya. Tak lama kemudian, anak laki-lakinya yang tertua bangun dan keluar dari kamar.

“Saya lihat mama saya teriak maling-maling dengan kondisi berdarah-darah dan lemas,” tutur Peter anak Puji. Peter lari menuju kamar dan menyaksikan ayahnya sedang mati-matian berusaha menghindari tusukan pisau dari pelaku.  

“Saya langsung masuk dan saya langsung dekap orang itu,” jelas Peter. Tanpa buang waktu, dengan sisa tenaganya Puji mengambil kabel yang ada di dekatnya dan langsung menjerat leher pria tidak di kenal tersebut. Dipukulnya pria itu beberapa kali hingga tak berdaya.

“Saya pegang lagi orang itu, sepertinya tidak ada kekuatan,” ungkap Puji. “Saya buka topengnya, saya lihat, wah, saya ngga kenal.’’

Dengan darah yang terus mengalir di dada dan perutnya, Puji mengambil alat pijat yang tadinya dipakai sang pencuri untuk memukulinya. Dengan sekuat tenaga ia memukulkannya pada si pencuri hingga alat itu pecah. Pria itu masih diam tak bergerak, Puji pun mengambil kabel rol yang ada di dekatnya dan memukulkannya lagi ke pria itu.

“Dia diam, saya pikir pingsan karena tidak bergerak. Jadi saya tinggal.”

Puji menuju ruang tengah dengan dada penuh darah, dan duduk sebentar di sofa. Waktu ia akan kembali lagi ke kamar, pria itu sudah bangun dan akan keluar. Mata Puji bertemu pandang dengan sang pelaku. Dengan mata nanar, pria itu pergi melarikan diri.

Peter lari ke luar menyusul mamanya yang saat itu sedang teriak-teriak di dekat pagar untuk mencari pertolongan. Sayangnya, pagi buta itu semua orang sedang nyenyak tidur dan tidak satupun merespon teriakkan Enda. Peter pun langsung melompat pagar dan berlari menuju pos satpam untuk mencari bantuan.

“Saya teriak rasanya sampai putus asa karena tidak ada tetangga yang bangun,” ungkap Endah sedih. “Saya merasa pasti akan kehilangan suami saya. Anak-anak saya tidak akan punya papa lagi.”

Satpam datang, Enda sudah kehabisan tenaga dan hanya bisa terduduk di depan rumahnya.

“Cepat masuk pak, malingnya masih ada di dalam, tolong suami saya pak..!”

Saat Enda dipapah masuk oleh Peter dan satpam, Puji keluar rumah dengan kondisi dada penuh darah.

“Saya lega, karena ternyata suami saya masih bisa keluar dari kamar,” ungkap Enda.

Puji yang mengalami lima puluh tusukan di dada dan perutnya bertanya pada satpam apakah ada yang bisa menyetir mobil untuk membawa dirinya dan istrinya ke rumah sakit, sayangnya dua satpam yang datang tidak ada yang bisa menyetir. Dengan terpaksa, ia menahan sakit dan membawa kendaraan sendiri menuju rumah sakit bersama istrinya.

Pencuri sadis yang masih di dalam rumah Puji berusaha melarikan diri, namun akhirnya tertangkap oleh polisi dan satpam karena terjatuh dalam kondisi terluka.

Mobil yang dikendarai Puji dalam keadaan oleng, namun Endah sang istri terus menguatkannya agar bisa menjaga kesadaran dan bisa sampai di rumah sakit.

Nama Yesus, itulah yang diserukan terus menerus oleh Endah agar suaminya dapat bertahan dan mengendarai mobil hingga rumah sakit. Setibanya di rumah sakit, Endah langsung di tolong petugas keamanan dan dibawa masuk dengan kursi roda. Sebaliknya Puji, dengan luka dan darah yang terus mengucur berjalan menyusuri lorong rumah sakit dan mencari bantuan.

Begitu di tangani oleh dokter jaga dan suster, luka-luka Puji segera di jahit. Namun karena tidak tahu pasti apakah ia ditusuk dengan pisau yang steril atau tidak, dirinya harus menjalani operasi. Dalam kondisi menahan sakit yang luar biasa itu, Puji masih sempat menghibur dan menenangkan putranya yang kecil yang mengikuti kejadian itu dari awal hingga tiba di rumah sakit.

Puji kemudian harus menjalani operasi karena tusukan yang dialaminya mengenai organ penting. Luka pada diri Endah relatif lebih aman, namun ia mengalami trauma yang dalam akibat kejadian tersebut. Satu doa Endah, ia minta Tuhan menguatkannya dan menyembuhkan dirinya dan suaminya sehingga bisa melalui kondisi kritis.

Nyawa Puji terselamatkan, operasinya berhasil. Namun masa pemulihannya sangat menyakitkan.

“Hidung saya diberi selang, jadi langsung masuk ke lambung. Hari pertama itu saya tidak boleh mengkonsumsi apapun juga. Saya bilang pada perawat, saya haus. Dia menjawab, bapak belum boleh minum, karena bapak harus puasa. Saat itu hausnya luar biasa. Saya membayangkan Tuhan Yesus pada waktu di salib. Tuhan, Engkau pernah merasakan hal seperti ini dan dilukai. Saya hanya mencicipi sedikit dari luka itu, mungkin seperti itulah penderitaan-Nya karena kehausan yang luar biasa.”

Rasa sakit yang luar biasa mendera Puji, gerakan sedikit pun akan membuatnya merasakan penderitaan yang luar biasa. Tapi inilah yang ia ingat:

“Saya cuma ingat satu lagu, Tuhan adalah kekuatanku.. bersama Dia ku tak akan goyah.. Ketika lagu itu saya nyanyikan dalam hati, lagu itu menguatkan saya. Lagu itu memompa semangat saya. Saya harus sembuh! Saya harus sembuh! Saya nyanyikan lagu “Hati yang gembira adalah obat” Jadi yang bisa menyembuhkan saya adalah kalau saya gembira, kalau saya semangat, dan berharap pada Tuhan,” demikian tutur Puji.

Dengan lima puluh tusukan dan dua operasi besar yang harus ia lewati, terbukti kuasa Tuhan bekerja dan Puji dapat sembuh seperti sedia kala.

Polisi melakukan penyelidikan, dan sebuah kenyataan yang tidak pernah di duganya terungkap. Pelaku pernah di lihatnya berada di rumah tetangganya, sekalipun demikian ia bertanya-tanya karena keluarganya tidak pernah mengenal pria tersebut. Beberapa hari setelah Puji pulang dari rumah sakit, pintu rumahnya di ketuk. Ternyata yang datang adalah istri pelaku. Sambil menangis, wanita tersebut meminta maaf atas nama suaminya. Kesal, marah, dan merasa tak terima, Endah mengungkapkan rasa amarahnya kepada wanita tersebut. Tapi Puji menahannya.

“Ketika dia mau marah, saya pegangin dia. Saya bilang, ‘Boleh saya ngomong ma?’ Saya sampaikan kepada istrinya bahwa saya sudah mengampuni dan tidak ada lagi rasa marah dan rasa dendam.”

Sebelum wanita itu pulang, Puji bahkan sempat mendoakannya dan juga pelaku yang ada di penjara. Namun masalah belum selesai, Endah masih mengalami trauma yang mendalam. Setiap jam dua malam, ia selalu terbangun dan dibayang-bayangi peristiwa mengerikan itu.

“Saya katakan kepada istri saya, jika kita masih diberi kesempatan hidup, maka kita masih diberi kesempatan untuk menjadi anak Tuhan yang lebih baik. Untuk itu kita harus mengampuni orang lain. Tidak menyimpan dendam, tidak menyimpan luka di hati. Karena jika kita menyimpan luka di hati, itu akan merampas sukacita, itu akan merampas sukacita kita.”

Sebuah ayat yang berkata “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” (Matius 5:44) melembutkan hati Endah.

“Itu harus saya lakukan, kalau mau memiliki kasih yang sempurna,” ujar Endah. “Artinya saya harus mengampuni pelaku.”

Empat bulan setelah kejadian tragis itu, Puji dan Endah sudah bisa mengampuni pelaku.

“Saya bisa mengampuni orang yang menganiaya saya karena saya sudah terlebih dahulu diampuni oleh Tuhan Yesus. Meskipun orang itu mungkin menganiaya kita, mungkin membenci kita, tapi Tuhan Yesus sudah pernah mengalami itu. Dia dibenci, Dia dianiaya. Tapi Dia bisa mengampuni dan Dia bisa mengasihi. Saya belajar juga dari Tuhan. Tuhan itu luar biasa baik. Saya bisa hidup sampai sekarang ini bersama istri dan anak-anak itu karena kebaikan Tuhan. Jadi jika saya diijinkan mengalami peristiwa ini, itu karena Tuhan mau saya bisa naik kelas.” 

Sumber Kesaksian:

Puji & Endah

Sumber : V110512101212
Halaman :
1

Apakah Anda rindu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat pribadi dalam hidup Anda?

Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”

Apakah Anda sudah mengucapkan doa ini?
Jawaban untuk Kamu! 😊
Halo, Sahabat Jawaban!
Kami ada untuk mendengar, menjawab, mendoakan dan mendampingi perjalanan kamu.

Apa yang bisa kami bantu hari ini?