Pemerintahan baru Presiden dan Wakil Presiden RI SBY-Boediono sudah dapat dipastikan akan diisi oleh orang-orang yang hanya memiliki satu istri atau suami.
Berita ini berhembus sangat kencang di kalangan media dan para aktivis lembaga sosial kemasyarakatan berkenaan dengan pemanggilan para calon kandidat menteri oleh SBY yang sudah dimulai sejak Jumat (16/10) kemarin. Dan seperti biasa, pro dan kontra terhadap hal ini pun bergulir.
Pendiri LBH Asosiasi Perempuan untuk Keadilan Nursyahbani Katjasungkana menyatakan bahwa dirinya tidak mempermasalahkan ada pejabat yang memiliki lebih dari satu istri.
"Poligami itu kan masih dibolehkan dalam sistem hukum kita. Maka kalau sesuai hukum, yah kita terima, setuju saja. Kalau kita tidak setuju, maka undang-undang perkawinannya harus diubah dulu,"
Lain Nusyahbani, lain pula pendapat yang diutarakan aktivis Solidaritas Perempuan Indonesia (SPI), Yenny Rosa Damayanti. Menurut Yenny, seorang pejabat tidak boleh berpoligami karena itu akan berpotensi si pejabat akan melakukan tindakan korupsi.
Ditambahkannya lagi, masalah korupsi adalah masalah yang hendak diberangus oleh SBY sejak dirinya memimpin negeri ini selama lima tahun belakangan. Jadi, tidaklah bijak bila seorang menteri yang notabene adalah pembantu Presiden malah melakukan perbuatan melanggar hukum tersebut.
Poligami seharusnya bukanlah hal yang harus diperdebatkan karena bagi kita terutama umat Kristiani, satu pria/wanita jika harus menikah haruslah hanya dengan satu orang dan tidak ada lagi setelahnya. Satu untuk selamanya itulah prinsip pernikahan yang diajarkan di Alkitab. Kalau sudah begini, untuk apa diperdebatkan poligami?
Sumber : inilah.com/bmIkuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”