Begitulah pertanyaanku pada-Mu, Tuhan! Haruskah aku percaya pada-Mu? Tuhan pun menjawabku, "Kenapa harus? Siapa yang mengharuskanmu percaya pada-Ku?" Aku bingung, "Ya tradisi iman orangtuaku mengatakannya, kita wajib percaya pada Tuhan!" Lalu sambil memegang dagu-Nya, Tuhan pun menyahut, "Ehmm....kalau percaya itu kewajiban, lalu kamu mau menuntut hak apa?" Aku juga tidak mampu menjawab dengan kata yang baik, "Ya tidak sejauh itu aku berpikir, tahunya kewajiban itu keharusan! Selesai sudah!"
Dalam mimpiku, Tuhan mengajakku jalan jalan, lalu Dia mencabut rumput dan memberikan padaku, "Met, haruskah Aku menciptakan rumput ini? Padahal rumput ini tanaman yang tumbuh begitu saja, lalu sering dicabut, dan dicampakkan ke api! Paling kalau jumlahnya banyak, rumput itu jadi makanan ternak: sapi, kambing, kerbau, kuda, dst. " Aku mulai mencoba memahami pertanyaan Yesus, "Iya Tuhan, mestinya tidak harus menciptakan, tapi karena Engkau memikirkan semuanya...Engkau memperhatikan semuanya....! Engkau mencintai semuanya. Yang Engkau ciptakan, engkau sayangi"
Lalu Tuhan pun bertanya lagi padaku, "Jadi bisakah kau jawab sendiri pertanyaanmu?" Aku terbangun, "Iya Tuhan, aku tidak harus percaya pada-Mu, tapi karena aku mencintai Engkau, aku tidak akan merasa terpaksa percaya pada-Mu".
Sumber : Blasius Slamet Lasmunadi Pr - pondokrenungan.comIkuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”