Negara Para Dewa Diterobos Injil

Negara Para Dewa Diterobos Injil

Puji Astuti Official Writer
5636

Negara-negara dengan agama utama Budha mulai terbuka untuk pemberitaan injil, para misionaris yang bekerja di negara-negara yang menyembah dewa-dewa tersebut menceritakan terobosan yang terjadi dengan penuh sukacita.

Beberapa waktu lalu, orang kristen yang memberitakan injil di Nepal pasti akan ditangkap dan dipenjara. Seorang hamba Tuhan bernama Narayan Sharma, salah satu pemimpin dari Gospel for Asia yang mengepalai pelayanan di Nepal menceritakan hal itu pada konfrensi GFA "Renewing Your Passion" di Dallas, Texas pada Jumat (8/7) lalu. Dia juga menceritakan bagaimana dia dulu juga pernah merasakan berada di penjara bawah tanah karena memberitakan injil.

 

"Dalam kegelapan seperti itu, tidak pernah terbayangkan bahwa negara ini akan mulai terbuka bagi injil," kata Sharma.

 

Tetapi pada bulan April lalu, Nepal melakukan pemilihan umumnya yang pertama untuk membentuk dewan legislatifnya, dan pada bulan Mei, membuat keputusan yang untuk meniadakan kerajaan Nepal dan beralih menjadi sebuah republik. Di Nepal, raja yang berkuasa dianggap sebagai titisan dewa. Namun kali ini, dewa itu disingkirkan dari tahtanya. Pemerintahan yang baru juga menjanjikan adanya kebebasan beragama bagi Nepal.

 

Dan hal luar biasa lainnya adalah, sekarang sebuah program pemberitaan injil disiarkan oleh stasiun radio milik pemerintah Nepal yang dulunya digunakan untuk memberitakan laporan tentang orang Kristen yang ditangkap, jelas Sharma.

 

"Alkitab menyatakan, habis gelap, sukacita akan terbit seperti fajar pagi hari, dan saat ini, fajar pagi hari itu telah terbit atas Nepal," demikian Sharma bersaksi dihadapan lebih dari 1000 orang hadirin.

 

Selain Sharma, ada juga misionaris dari Myanmar (yang dikenal juga sebagai Burma), Srilangka, India dan Amerika yang menjadi pembicara dalam konfrensi ini.

 

Misionaris Myanmar menceritakan tentang bagaimana penduduk Myanmar merasakan hati Tuhan saat para misionaris dan sukarelawan membawakan mereka makanan dan perbekalan pasca badai yang meluluh lantahkan negara tersebut.

 

"Buddha tidak melakukan sesuatu ketika kami menderita. Tetapi Yesus-mu mencintai kami," demikian misionaris tersebut mengucapkan sebuah kalimat yang dinyatakan oleh satu keluarga yang merekan tolong. "Dan hari ini, setiap minggu mereka datang ke gereja dan memuji Tuhan,"dia menambahkan.

 

Selain berbagai kesaksian yang meneguhkan, pada konfrensi GFA ini juga menyampaikan pesan akan pentingnya peranan doa dalam penginjilan, bahkan para pemimpin GFA pergi kebukit doa hingga larut malam pada hari Sabtu.

 

GFA menyatakan bahwa saat ini ada 16.500 misionaris asing yang melayani di 11 negara asia selatan.

 

Konfrensi GFA ini dimulai pada hari Jumat yang dihadiri oleh pemimpin dan pendirinya, K.P Yohannan yang membuka acara tersebut dan berakhir pada hari minggu.

Sumber : Christian Post/VM
Halaman :
1

Ikuti Kami