Nutrisi Bagi Pengidap HIV / AIDS

Nutrisi Bagi Pengidap HIV / AIDS

Lestari99 Official Writer
18243

Masih ingat pebasket internasional Earvin Johnson? Pemain NBA tersohor itu membuat berita mengejutkan dalam karier bermain basketnya. Bukan karena poin yang dicetak dalam pertandingan paling populer di Amerika Serikat itu, tetapi karena kehidupan pribadinya yang diungkap secara blak-blakan pada publik. Pada 7 November 1991, Johnson yang mendapat julukan magic karena kecemerlangannya di lapangan basket, mengaku telah mengidap HIV positif saat usianya baru menginjak 32 tahun.

Kini Magic Johnson telah berusia 47 tahun dan tidak pernah menunjukkan gejala yang berhubungan dengan HIV/AIDS. Johnson mengaku bahwa sejak positif terinfeksi HIV, dia tetap melakukan olahraga dan selalu melakukan diet yang teratur. Kebanyakan jenis makanan yang dimakan adalah ayam dan ikan, serta selalu mengonsumsi buah dan sayuran yang banyak. Dengan nutrisi yang baik dan istirahat yang cukup, Johnson dapat menjalani hidup secara normal.

Nutrisi yang baik pada orang dengan HIV/AIDS (ODHA) memang dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas hidup ODHA, sehingga hidup lebih sehat. Menurut Dr Basuri dari Program Studi Ilmu Gizi Kekhususan Ilmu Gizi Klinik Departemen Gizi FK UI, malnutrisi dapat menyebabkan komplikasi infeksi HIV/AIDS dan juga meningkatkan morbiditas dan mortalitas.

"Pada saat orang terinfeksi HIV/AIDS, maka sistem kekebalan dalam tubuh akan menurun. Pada saat itu, bila terjadi malnutrisi, maka sistem imun akan turun dan kemungkinan timbulnya penyakit semakin besar," katanya dalam diskusi yang diselenggarakan di RSCM beberapa waktu lalu.

Nutrisi yang baik berarti terjadi asupan makanan yang baik, berat badan terjaga, dan jaringan otot, juga status mikronutriea dalam tubuh tetap dalam kondisi baik. Hasilnya, dapat menguatkan sistem imun sehingga mampu melawan HIV dan infeksi lainnya. Daya tahan terhadap infeksi pun meningkat, misalnya diare, tuberkulosis, dan infeksi pernapasan.

Asupan diet yang tidak cukup bisa menyebabkan malabsorbsi, diare, gangguan metabolisme dan penyimpanan nutriea, sehingga terjadi defisiensi nutriea. Berikutnya, defisiensi nutriea ini bisa mendorong meningkatkan stres oksidatif dan menurunkan sistem imun. Akibatnya, replikasi HIV meningkat dan juga kemungkinan terkena penyakit semakin meningkat, juga morbiditas.

Selain itu, orang yang terinfeksi HIV biasanya mengalami gejala yang berpengaruh pada asupan nutrisi yang bisa mengakibatkan terjadinya malnutrisi. Diantaranya, anoreksia atau kehilangan nafsu makan, diare, demam, mual dan muntah yang sering, infeksi jamur dan anemia. Karena itu, ODHA mempunyai kebutuhan nutrisi tersendiri dibandingkan orang sehat.

"Kebutuhan energi pada ODHA dihitung berdasarkan ada atau tidak adanya gejala seperti demam, penurunan berat badan dan wasting. Wasting adalah terjadinya penurunan massa otot tubuh, gangguan fungsi metabolisme dan gangguan fungsi sistem imun dan penurunan berat badan," katanya.

Seseorang dikatakan mengalami wasting bila terjadi penurunan berat badan lebih dari 10 persen berat badan normal disertai dengan lebih dari 30 hari diare, demam, dan gangguan penyakit lainnya.

Dengan melihat kondisi tersebut, maka diperlukan asupan makronutriea yang memadai, seperti karbohidrat, protein, dan lemak pada ODHA. Selain itu, diperlukan mikronutriea lain, yakni vitamin dan mineral.

"Pada ODHA butuh tambahan energi karena energi digunakan untuk mengatasi infeksi HIV/AIDS dan juga infeksi oportunistik, malabsorbsi dan gangguan metabolisme," jelas Basuri.

Memadai

Pada kategori A (tidak ada gejala HIV dan akut HIV), kebutuhan kalori 30 - 35 kilokalori per kilogram. Sementara kebutuhan protein mencapai 1,1 - 1,5 gram per kilogram. Kemudian kategori B (ada gejala HIV dan komplikasi oleh HIV), maka kebutuhan kalori 35 - 40 kilokalori per kilogram dan kebutuhan protein 1,5 - 2 gram per kilogram. Kemudian pada kategori C (dengan tingkat kekebalan (CD4) di bawah 200 dan terjadi infeksi oportunistik), kebutuhan kalori meningkat menjadi 40 - 50 kilokalori per kilogram dan kebutuhan protein menjadi 2 - 2,5 gram per kilogram.

WHO sebenarnya merekomendasikan kebutuhan mikronutriea ODHA sama dengan kebutuhan orang sehat. Tetapi sering kali pada ODHA ditemukan defisiensi mikronutriea, seperti vitamin A, C, E, B kompleks, selenium, dan seng.

"Idealnya, asupan diet yang memadai akan didapatkan asupan mikronutriea yang memadai juga. Untuk menjaga status nutrisi yang memadai, ODHA dianjurkan memakan makanan yang bervariasi, seperti karbohidrat, susu, kacang-kacangan, daging, lemak, dan minyak, buah-buahan, dan sayur-sayuran. Kuantitasnya juga cukup untuk kebutuhan tubuh akan energi, protein dan mikronutriea. ODHA harus diet yang seimbang agar kebutuhan energi tercukupi, terjaga berat badan ideal, dan fungsi tubuh berjalan dengan baik," jelas Basuri.

Meski demikian, jelasnya, pemberian nutrisi harus tetap memperhatikan kesehatan per individu. Untuk beberapa kondisi, perlu diet khusus. Misalnya, ODHA yang menderita ginjal, hati dan diabetes melitus.

Di Indonesia sendiri, jumlah penderita HIV/AIDS terus meningkat. Data terakhir menunjukkan jumlah penderita HIV/AIDS mencapai 10.859. Dalam periode waktu April - Juni 2006, tercatat 509 penderita AIDS baru dan 194 orang terjangkit HIV. Jumlah penderita AIDS baru paling tinggi ditemukan di DKI Jakarta, mencapai 105 kasus. Sementara HIV positif baru paling banyak ditemukan di Sumatera Utara, mencapai 92 orang. Selain kedua provinsi tersebut, tercatat 15 provinsi lain yang juga memiliki kasus HIV/AIDS baru.

Sumber : suarapembaruan.com
Halaman :
1

Ikuti Kami