Pernah dengar ungkapan seperti ini, "Mumpung masih muda, puas-puasin deh hidup ini!" atau "Sok suci amat sih, enjoy aja dulu, soal dosa nanti minta ampun sama Tuhan, beres kan?" Di jaman akhir makin banyak orang percaya yang menganggap enteng kasih setia dan pengampunan Allah sebagai barang obralan. Orang semakin berani berurusan dengan perkara dosa. Karena yakin setelah meminta ampun, bekas-bekas dosa dihapuskan dan tidak diperkarakan oleh Allah yang maha pengasih dan panjang sabar.
Firman Tuhan memang berbicara tentang pengampunan yang diberikan cuma-cuma bagi mereka yang mengaku dosanya (Yohanes 1:9). Tapi, Alkitab juga berbicara tentang Allah yang murka terhadap kejahatan (Bilangan 25:3, Yesaya 30:37, Efesus 5:6) dan menindak tegas tiap orang yang bersalah (2 Samuel 6:7, Kisah Para Rasul 5). Bahkan, Ia tidak sekali-kali membebaskan hukuman (Nahum 1:8b). Dosa dapat diampuni asalkan dengan pertobatan yang sungguh nyata, tapi konsekuensi dosa menjadi pertanggungjawaban pribadi di hadapan-Nya. Allah adalah kasih, tapi bukan kasih murahan. Ia menuntut pertanggungjawaban dari setiap kita akan kasih-Nya.
Panjang dan lebar kasih Allah bukanlah lampu hijau untuk mengulang kesalahan di hadapan-Nya.
Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”