Aku Berseru Tuhan Menjawab

Aku Berseru Tuhan Menjawab

Admin Spiritual Official Writer
18126

Sumber Kesaksian: Yeti Ipiet

Baik dan buruk datang dan pergi. Secepat datangnya kebaikan, sesegera mungkin keburukan datang untuk mencuri. Yang diperlukan tetaplah berjaga-jaga. Inilah juga pengalaman yang dialami oleh ibu Yeti Ipiet.

Saya pulang dari gereja dengan menaiki mobil omprengan. Waktu itu mobil omprengan yang saya naiki berjalan dengan cepat. Ketika berjalan dengan cepat, ada sebuah truk yang berjalan mundur ke arah jalan mobil yang saya naiki. Saat itu tangan saya agak keluar dari jendela mobil. Seketika itulah tangan saya tergencet badan mobil dan bak truk yang sedang mundur itu. Mobil omprengan berjalan terus hingga tangan saya terluka dan mengalami robek yang dalam.

Siku tangan ibu Yeti mengalami cedera cukup berat.
Mulanya saya memang seperti tidak merasakan sakit. Yang saya tahu tangan saya ini sudah berdarah banyak dan mengalami luka yang parah dan dalam. Teman saya, ibu Meli lalu turun dari mobil untuk memberitahu keluarga saya tentang peristiwa ini. Ibu Meli juga memberitahukan pada keluarga bahwa saya langsung dibawa ke rumah sakit.

Teman Yeti, Ibu Lili bahkan tidak kuat melihat cedera ibu Ipiet.
Sewaktu kejadian itu, saya melihat begitu banyak darah yang keluar dari luka di tangan ibu Ipiet. Saya begitu ngeri melihat darah yang begitu banyak, belum lagi luka itu begitu dalam hingga terlihat tulang dari tangan ibu Ipiet. Saya tidak kuat melihat hal itu hingga akhirnya saya tidak sadarkan diri.

Ibu Ipiet harus menerima vonis berat dari dokter.
Dokter yang memeriksa mengatakan bahwa tangan saya harus diamputasi. Jika tidak cepat diamputasi dengan jalan operasi maka akibatnya akan parah dan akan terjadi
komplikasi hingga ke jantung. Jika itu sampai terjadi maka nyawa saya tidak akan tertolong. Luka saya sudah terlalu parah dan sempat membusuk sehingga hari itu juga harus dioperasi. Saya bukan tidak mau dioperasi tapi keadaan semua itu terbentur masalah biaya. Biaya untuk operasi yang dibutuhkan sebanyak 10 juta, saya tidak punya uang sebanyak itu. Saya tidak tahu mendapat uang dari mana untuk operasi itu.

Dari RS Sumber Waras ibu Ipiet dibawa ke RS Cipto.
Di rumah sakit ini saya butuh biaya sebesar 7 juta dan juga harus diamputasi. Saya kuatir dengan keadaan saya nantinya karena saya masih punya tanggung jawab membesarkan anak-anak yang masih bersekolah. Walaupun mereka sudah besar tapi mereka masih sangat membutuhkan keberadaan saya. Kalau nanti tangan saya sampai buntung, saya tidak tahu harus bagaimana lagi!. Sopir omprengan yang saya naiki memang masih mau bertanggung jawab menolong biaya pengobatan sebanyak satu juta. Karena keadaan sopir itu juga termasuk tidak mampu maka saya harus menerima bantuannya yang terbatas. Sopir itu sudah berusaha mencari bantuan kesana kesini. Hanya karena kasih Tuhan saja yang membuat saya mampu mengampuninya.

Dalam kebimbangan hatinya, ibu Ipiet sempat berobat ke dukun tulang.
Dari Cipto saya sempat dibawa ke dukun dan dirawat disana. Saat itu darah tidak mau berhenti, keluar terus dari luka saya. Sampai beberapa hari pendarahan itu tetap terjadi. Karena di dukun itu saya tidak diapa-apakan, saya tidak mau diberi mantera-mantera. Tidak ada hasil, saya memutuskan untuk pulang.

Peluang untuk kesembuhan seakan makin kecil bagi ibu Ipiet.
Sepulang dari dukun itulah seorang sahabat saya, ibu Pin datang ke rumah. Ibu Pin lalu membawakan hasil pemeriksaan tangan saya ini pada familinya yang seorang dokter. Dokter itu, Handoyo Suryo menyatakan bahwa tangan saya mengalami patah tulang yang disertai peradangan. Ibu Pin menanyakan bagaimana penanganannya, apakah harus diamputasi atau bisa hanya dioperasi atau menggunakan cara lainnya. Dokter itu mengatakan bahwa jalan satu-satunya yang terbaik memang adalah dengan operasi namun tidak perlu dilakukan amputasi. Dengan operasi tulang yang patah dan lepas akan dapat ditempelkan kembali. Dengan pemasangan pen maka tulang siku tangan saya bisa disambungkan kembali dan tangan saya diharapkan berfungsi kembali dengan baik. Tapi bila saya tidak dioperasi maka dokter itu hanya akan mengobati bagian luka yang terbukanya saja.

Mengetahui tangannya tidak perlu diamputasi, iman ibu Ipiet-pun dibangkitkan.
Setelah itu saya hanya makan obat selama 4 bulan yang diberikan dokter yang kerabat ibu Pin ini. Selama itu juga saya terus berdoa dengan dukungan dari teman-teman yang lain. Di rumah saya terus berdoa, dengan iman saya percaya bahwa Tuhan Yesus mampu sembuhkan saya. Apapun yang terjadi, saya percaya Tuhan Yesus mampu sembuhkan saya karena dia adalah Tuhan yang dahsyat dan hidup.

Dengan imannya ibu Ipiet akhirnya menerima kesembuhan. Keadaan tangannya pulih bahkan melebihi apa yang dapat seorang dokter bayangkan. Saat kemampuan manusia begitu terbatas, seruan kepada Tuhan Yesus membuatnya terlepas.

Dokter yang memeriksa ibu Ipiet mengatakan bahwa tulang yang dahulu patah saat ini sudah pulih. Dokter itu bahkan menyatakan keheranannya karena ibu Ipiet mampu melakukan gerakan tangan yang cukup baik. Dia sebelumnya tidak yakin akan terjadi kesembuhan yang sebaik ini. Bagian tulang ibu Ipiet yang sempat pecah dan patah ternyata sudah sembuh dan menempel kembali di tempatnya. Dokter mengatakan bahwa ada bagian tulang yang dulu terlepas yang hingga saat ini masih terlepas. Namun ibu Ipiet ternyata mampu menggerakkan tangannya dengan normal, ini sesuatu yang luar biasa.

Sebab itu TUHAN menanti-nantikan saatnya hendak menunjukkan kasih-Nya kepada kamu; sebab itu Ia bangkit hendak menyayangi kamu. Sebab TUHAN adalah Allah yang adil; berbahagialah semua orang yang menanti-nantikan Dia! Sungguh, hai bangsa di Sion yang diam di Yerusalem, engkau tidak akan terus menangis. Tentulah Tuhan akan mengasihani engkau, apabila engkau berseru-seru; pada saat Ia mendengar teriakmu, Ia akan menjawab. (Yesaya 30:18-19)

Halaman :
1

Ikuti Kami