Langkah Gelap Menuai Petaka

Langkah Gelap Menuai Petaka

Admin Spiritual Official Writer
4370

Dulu saya merasa hidup ini tidak ada artinya. Saya hanya menghabiskan waktu saya dengan teman-teman dengan hidup di jalanan. Saya yang seharusnya bersekolah malah lebih banyak nongkrong, merokok, mengisap ganja, mabuk atau bermain judi. Malam hari adalah waktu untuk pergi ke diskotik dan hidup hura-hura sampai pagi. Seringkali saya lupa kalau besok harus bersekolah.

Beberapa waktu kemudian saya meninggalkan rumah keluarga saya. Saya memilih tinggal di sembarang tempat, kadang di rumah teman, atau di sebuah posko pemuda dan tidak jarang malah tidur di jalanan bersama teman. Semakin lama hidup saya semakin rusak seakan apa yang sudah saya lakukan selama ini belum cukup. Sampai akhirnya saya pergi ke tempat-tempat pelacuran dan saya bergaul dengan perempuan-perempuan nakal.

Hidup saya sudah tidak karu-karuan lagi. Saya tidak lagi sadar akan kesehatan dan saya juga tidak memperhatikannya. Satu waktu saya jatuh sakit. Saya merasakan demam dan lemas sekali, seluruh tubuh panas. Yang mengagetkan adalah munculnya bentol-bentol merah yang sangat banyak pada seluruh tubuh saya.

Selain itu pada saat saya hendak membuang air kecil, rasanya sakit sekali dan juga panas. Air seni saya menjadi pekat bercampur nanah dan darah. Saat itu saya kaget dan sangat ketakutan. Saya langsung ingat dengan semua hal-hal buruk yang pernah saya lakukan. Saya merasa hidup saya ini sangat kotor, saya malu sekali. Saya bingung sekaligus ketakutan. Siapa yang mau berteman dengan saya, siapa yang mau menolong saya?. Apalagi setelah mendengar bahwa dokter memvonis saya mengidap penyakit AIDS, saya semakin putus asa dan tidak punya harapan sama sekali.

Saya menyesal dengan apa yang selama ini saya perbuat. Tubuh saya sudah sangat lemah dan kurus. Bentol-bentol merah telah menutupi tubuh saya. Saya tidak tahu lagi harus berbuat apa, saya sendiri tidak berani memberitahukan hal ini kepada orang tua atau pada keluarga saya. Dua minggu kemudian saya memutuskan untuk pergi ke Purwakarta, disana saya masih mempunyai abang dan kakak. Setelah satu minggu di Purwakarta itulah saya mengikuti satu ibadah. Saya dilayani oleh seorang hamba Tuhan, bapak Amos Tumangkey.

Bapak Amos mengingat pertemuannya dengan Paulus.
Pertama kali saya melihat anak itu, saya merasa sangat jijik sekali. Melihat benjolan-benjolan serta keadaan yang pucat dan juga nafasnya amis seperti bau ikan laut. Tapi seperti ada sesuatu yang menggerakkan hati saya seperti mau memeluk dan mengasihi dia. Saya merangkul dia dan hilanglah rasa jijik itu.

Saya menyerahkan hidup saya sepenuhnya pada Tuhan Yesus. Saya minta ampun pada Tuhan dan sungguh-sungguh mau bertobat. Saya yakin dan percaya Tuhan mau menerima saya, mengmapuni segala dosa-dosa walaupun hidup saya sudah sangat kotor.

Setelah itu saya diajari bapak Amos untuk berdoa dan membaca Firman setiap hari dan berpuasa. Lewat bapak Amos, saya bisa merasakan kasih Tuhan dan bagaimana Tuhan Yesus mengasihi saya. Saya ternyata berharga dimata Tuhan dan saya sangat percaya itu. Walau hidup saya sudah sangat kotor tapi Tuhan mau mengangkat hidup saya. Semakin lama saya merasa keadaan saya semakin membaik. Bentol-bentol yang ada di tubuh saya juga semakin lama semakin hilang dan habis. Saya juga bisa kembali membuang air kecil dengan lancar, tidak ada nanah dan darah lagi. Saya lalu pergi ke dokter dan ternyata dokter menyatakan saya tidak mengidap penyakit apa-apa.

Sekarang saya mengerti betapa Yesus sangat mengasihi hidup saya. Walau hidup saya sudah sangat kotor dan dosa saya sangat banyak, tapi Tuhan Yesus telah menebus dosa saya dengan nyawaNya sendiri. Dia sudah menyucikan segala dosa-dosa dan mengangkat kehidupan saya supaya saya berarti di hadapanNya.

Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. (1 Yohanes 1: 7,9)

Sumber Kesaksian: Paulus Sitompul

Halaman :
1

Ikuti Kami