Mengajarkan Pemecahan Masalah Sejak Dini

Kata Alkitab / 21 November 2005

Kalangan Sendiri

Mengajarkan Pemecahan Masalah Sejak Dini

yosefel Official Writer
8625

"Jangan gunakan kunci pintu keberhasilan lama untuk membuka sebuah pintu kesempatan yang ada di depan" (Family DISCovery)

Kita harus sadari bahwa bagaimanapun baiknya pun kita sebagai orangtua maka problem atau masalah pasti akan dialami oleh anak-anak kita, karena masalah adalah bagian dari hidup yang tidak dapat dipisahkan. Ada yang menganggap masalah itu sebagai hambatan dan yang lainnya menganggap sebagai sebuah tantangan, tetapi tetap cukup sulit bagi kebanyakan orangtua untuk melihat anak-anaknya mengalami masalah. Semua orangtua akan berusaha membuat anak-anak mereka terbebas dari masalah atau problem, walaupun sebenarnya itu mustahil.

Apalagi dengan latarbelakang orangtua yang pernah hidup susah dan penuh masalah pada waktu kecilnya, maka ketika anaknya bertumbuh dewasa sebisanya mereka akan berusaha sekeras mungkin untuk menyelamatkan anak-anaknya atau minimal menghindarkan mereka dari masalah-masalah atau pengalaman buruk serupa yang pernah dialami mereka. Banyak orangtua juga sering menggunakan kunci pintu keberhasilan mereka untuk membuka pintu-pintu kesempatan bagi anak mereka, mereka berpikir bahwa pengalaman dan pengetahuan mereka akan mampu menyelamatkan anak-anak dari masalah. Secara alamiah memang setiap orangtua ingin melindungi anak-anaknya dari membuat kesalahan namun pada akhirnya kebanyakan orangtua terjebak menjadi "Problem Solver" bagi anak mereka, padahal mereka sebenarnya harus mengajarkan teknik problem solving pada anak mereka.

Akibat orangtua yang berperan sebagai Problem Solver

Resiko atau akibat yang dapat terjadi bilamana terlalu sering memecahkan masalah anak daripada menolongnya untuk menyelesaikannya sendiri.

1. Anak menjadi Pasif

Anak akan merasa terbiasa dilayani, merasa nyaman dengan pelayanan yang kadang-kadang overprovided. Sehingga tidak ada lagi dorongan untuk berusaha sendiri untuk survive karena semuanya terlayani.

Contohnya, kita sering melihat di pusat-pusat perbelanjaan sebuah keluarga berjalan berbaris, setiap anak didampingi oleh satu orang baby-sitter atau perawatnya. Semua kebutuhan sekecil apapun sang baby-sitter akan segera siap melayaninya, sedangkan kedua orang tuanya sibuk dengan aktifitasnya sendiri-sendiri.

2. Anak menjadi Penikmat

Selain mengalami overprovided, anak-anak kita juga sering diperlakukan secara overprotective. Dijaga sedemikian rupa oleh orangtuanya, sehingga ia hanya menerima yang terbaik, sangat berkecukupan dan jauh dari masalah.

Anak penikmat akan selalu menuntut lingkungannya untuk selalu melayaninya, menjaganya dan melindunginya. Tidak akan ada survival mode di dalam jiwa anak tersebut, hidupnya terasa "serba aman" karena merasa selalu ada orang lain yang siap melindunginya dan mau berkorban untuknya.

Pernahkah kita melihat seorang anak pada setiap pagi sedang asik menonton film kartun kesukaan di hadapan TV layar lebar, sedangkan pada saat itu juga orangtuanya terbungkuk-bungkuk berusaha memasangkan sepatunya untuk bisa segera berangkat ke sekolah supaya tidak terlambat.

3. Anak menjadi Egois

Ia akan selalu merasa benar dan ingin menang sendiri, semua hal diperhitungkan demi kepentingannya sendiri, kita tidak dapat bayangkan seberapa sulitnya ketika ia besar nanti dalam bersosialisasi dan bergaul dengan lingkungannya.

Tiga langkah dalam melatih problem solving pada anak

Untuk memulai langkah-langkah di bawah ini kita harus mengawalinya dengan menghentikan peran orangtua yang "segera selesaikan masalah anakmu", biarkan anak-anak mulai memikirkan cara-cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalahnya. Maka langkah selanjutnya mulai dapat dilakukan sebagai berikut:

1. Diskusi

Pemecahan masalah dimulai dengan komunikasi terbuka antar orangtua dan anak. Nyatakan masalah yang dihadapi dengan jelas dan tenang. Bila kita sedang emosi, sebaiknya kita tenangkan diri kita sejenak sebelum membahas masalah tersebut dengan anak. Ingat jangan gunakan kata-kata tuduhan atau mempersalahkan ketika kita berdiskusi, sampaikan hanya apa yang menjadi masalah. Contoh:

"Ánakku, saya perhatikan kamu masih meletakkan handuk di tempat tidurmu tadi pagi"
"Waktu kamu memutar televisi dengan suara keras di atas jam 10 tadi malam, saya dan ibumu tidak bisa tidur.
"

Mintalah usulan atau daftar pemecahan masalah dari sang anak terlebih dahulu sebelum kita menambahinya, jangan beri penilaian atas usulan sang anak - catat saja. Kalau dia mulai kesulitan memberi usulan, mungkin kita dapat memancingnya dengan perkataan: "Bagaimana kalau kamu coba yang..." sering kali langkah ini terbukti berhasil.

2. Konsekuensi Logis

Setelah mendaftarkan semua alternatif pemecahan lalu diskusikan satu persatu, setelah menentukan pemecahan yang paling menjanjikan, buat kesepakatan dapat secara verbal atau tertulis. Gunakan konsekuensi logis sebagai sanksi bila terjadi ketidak patuhan atas kesepakatan, disiplin tidak selalu berbentuk hukuman fisik tetapi dapat juga berupa melarang perbuatan yang disukai anak (bersepeda sore hari, membaca komik, menonton televisi ataupun bermain komputer game). Sebaiknya konsekuensi logis berhubungan dengan permasalahan yang dihadapi.

3. Evaluasi

Setelah selang waktu tertentu, sebaiknya kita mengevaluasi kesepakatan yang telah dilakukan, apakah konsisten dilakukan? Evaluasi seberapa jauh keberhasilan pemecahan masalah tersebut.

Mulailah mendidik anak untuk memecahkan masalahnya sendiri dan mulailah hal itu sekarang!

"The trouble with most of us is that we stop trying in trying times" (Dennis Waitley)


Ditulis oleh:
Ir. Bambang Syumanjaya, MM, MBA, CBA
International Certified Behavior Analyst & Multiple Intelligence Consultant, Konsultan Bisnis & Konsultan Keluarga yang berpengalaman dalam pengembangan dan pelatihan kepemimpinan, pengembangan pribadi dan peningkatan motivasi. Founder dan Konsultan Utama dari Family DISCovery, sebuah Konsultan Keluarga Pertama dan Terlengkap di Indonesia. Seorang ENTER-TRAINER, Public Speaker di dalam Seminar dan Training Motivasi untuk Perusahaan maupun Organisasi.
Hotline: (021) 4587 4066 (Hunting) • www.family-discovery.com

Halaman :
1

Ikuti Kami