Kepemimpinan Individual Sering Gagal

Kepemimpinan Individual Sering Gagal

Puji Astuti Official Writer
6651

JAWABAN.com - Jakarta-Kegagalan dalam kepemimpinan seringkali terjadi karena menganggap kepemimpinan sebagai sebuah kerja individual. Di zaman modern ini, tidak ada satu produk atau karya yang muncul karena karya individual, tetapi merupakan karya kolektif.

Pernyataan ini disampaikan Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono ketika menyampaikan sambutannya ketika membuka "Seminar Kepemimpinan yang Berwawasan Kebangsaan dalam Menjawab Krisis Multidimensi dan Tantangan Global Abad 21" di Jakarta, Kamis (1/3).

Juwono menjelaskan, di era saat ini, kepemimpinan individual sudah tidak sesuai dengan kompleksitas permasalahan yang dihadapi manusia. Misalnya saja, masalah banjir Jakarta tidak bisa diatasi oleh pemerintah DKI saja. "Semua itu menggambarkan bahwa permasalahan lokal tidak bisa diselesaikan secara lokal, tapi perlu pihak terkait untuk menyelesaikan masalah secara integratif dengan melihat masalah secara keseluruhan," ujar Juwono.

Juwono mengatakan kepemimpinan di masa depan di era yang penuh transparansi dengan kemajuan teknologi ini menuntut adanya system yang menjamin terselenggaranya keadilan. Dengan jumlah penduduk miskin yang masih sangat banyak, kebutuhan hidup minimal ini harus dipenuhi lebih dulu agar masyarakat bisa mengikuti demokrasi dengan baik.

"Baru 10 persen masyarakat yang bisa mengikuti demokrasi dengan baik, karena tidak perlu lagi memikirkan kebutuhan dasarnya. Rakyat yang miskin ini harus diangkat dengan dipenuhi kebutuhan dasarnya terlebih dahulu," ujarnya.

Kepemimpinan di Indonesia sendiri, menurutnya, harus dibangun dengan pendekatan intelektual dan moral yang disertai kemampuan menguasai berbagai keterampilan yang disyaratkan oleh kepemimpinan global.

Dalam konteks ini, sharing leadership harus diutamakan, ketimbang individual leadership. Pembangunan manusia, pemberdayaan, dan dialog di masyarakat harus mampu mengantisipasi perubahan sosial.

Sementara itu, Ichlasul Amal, Guru Besar dari Universitas Gajah Mada, mengatakan program pendidikan kepemimpinan berwawasan kebangsaan sulit diimplementasikan secara tepat. Program ini memerlukan instruktur yang berkualitas dan berpengalaman yang mungkin sulit dipenuhi oleh daerah-daerah yang jauh dari Ibu Kota.

Toleransi dan sikap demokratis harus menjadi dasar pelaksanaan dan harus dijauhkan dari sistem pengajaran yang bersifat indoktrinatif. Gaya pendidikan kepemimpinan saat ini mudah sekali terjebak dalam hierarki birokrasi yang hanya menghasilkan pemimpin formal yang artifisial dan tidak punya kemampuan riil untuk mempengaruhi massa agar massa mengadopsi kebijakan yang mereka buat.

Seminar kepemimpinan ini juga menghadirkan Menteri Dalam Negeri M. Ma'ruf, mantan Panglima TNI Endriartono Sutarto, pakar pendidikan Arief Rachman, mantan KSAU Chappy Hakim dan Ketua KPK Taufiequrrahman Ruki. (nat)

Sumber : Emmy Kuswandari - sinarharapan.co.id

Ikuti Kami