Jangan Jadi Miskin di Atas Gundukan Gunung Emas

TUESDAY, 04 JANUARY 2011

Total View : 2429 times


Negara kita begitu kaya, kita seperti berada di atas gunung emas. Namun apa yang terjadi? Geliat kewirausahaan penduduk Indonesia terbilang rendah dibandingkan dengan yang lain. Kita masih terlena dengan banyaknya sumber daya alam yang menjadi kekayaan bangsa kita, tetapi lupa memberdayakannya secara optimal. Ibarat hidup, kita masih tergolong bangsa yang miskin, justru rumah kita berdiri di atas gundukan emas.

Ambil contoh ketika kita masih mengekspor bahan baku mentah ke negara lain, apa jadinya? Kita ekspor minyak alam mentah kita ke negara lain, mereka mengolahnya menjadi bahan jadi dan menjualnya kembali ke negara-negara lain bahkan termasuk Indonesia dengan harga yang berkali lipat ganda. Kita seperti seorang ‘budak’ atas kekayaan alam sendiri untuk kemakmuran negara lain.

Karena apa? Mungkin kita malas menciptakan inovasi baru dan nilai tambah. Kita belum mengerti apa yang harus kita lakukan, mungkin? Sesungguhnya, hal-hal seperti inilah yang membuat kita sulit menjadi negara maju. Tapi tidak ada yang mustahil. Dalam lima tahun terakhir ini banyak momentum yang membuat kita sadar bahwa hanya bangsa yang memiliki kewirausahaan tinggi yang akan mampu mengantarkan rakyatnya menuju gerbang kesejahteraan.

Kewirausahaan itu bukan lagi milik sekelompok orang tertentu, jaringan bisnis tertentu. Kewirausahaan kini telah menjadi gerakan nasional dan menjadi pilihan yang tepat bagi bangsa ini untuk menuju bangsa yang sejahtera di masa mendatang. Karena itulah, berdayakan potensi kekayaan alam negara kita dengan optimal dan berdayakan potensi yang ada dalam diri kita dengan optimal. Jangan merusak alam, tapi diberdayakan.

Jepang, Korea, China sudah membuktikannya. Negara tetangga terdekat seperti Singapura juga jadi contoh betapa kewirausahaan itu dibutuhkan. Lalu, bekal apa yang harus ditumbuhkan agar kita menjadi bangsa yang berkewirausahaan tinggi? Hanya butuh keberanian kita, bangsa ini, untuk menghasilkan manusia-manusia Indonesia yang berani dan tidak takut gagal.

Dalam berwirausaha, yang diukur adalah keberanian menghadapi segala resiko, jeli menangkap peluang, serta mampu menciptakan nilai tambah. Karena itu, sangat menggembirakan kini banyak berdiri komunitas kewirausahan, buku-buku, majalah, acara radio, siaran TV, hingga seminar yang diselenggarakan di berbagai tempat di Indonesia. Sudah saatnya kita berpikir dan melakukan semuanya itu.

Bangsa ini harus belajar tentang ketekunan, kesabaran, selalu berfikir optimis, serta memiliki kemauan yang keras untuk sukses dan maju. Lima tahun lagi, bila kita semuanya sebagai satu kesatuan bangsa mengembangkan kewirausahaan masing-masing, kita tidak lagi menjadi bangsa miskin, tidak ada lagi kelaparan, dan juga bukan bangsa yang hanya bisa mengekspor TKI ke luar negeri.

Source : majalahwk/lh3


CBN renungan mobile


COMMENTS

COUNSELLING

Add Your Comment

Nickname
Email
Comment

  • * GBU

    2011-01-05 07:27:17
    Setuju utk menciptakan peluang2 bisnis dan pekerjaan melalui gereja. Sehingga dengan dmkn ada dampak nyata dari gereja ke market place. Jangan hanya hidup di dalam menara gading tetapi umat Kristen harus membumi (down to earth). Saat ini banyak sekali kantong2 Kristen di Indonesia yg hidup dalam kemiskinan spt NTT dan Papua, gereja dan umat seharusnya mulai memikirkan dan investasi ke daerah2 tsb. GBU
  • * Assa

    2011-01-04 05:44:37
    Saatnya grja inovatif utk mensejahterakan umat & masyarakat skitarnya spya brdampak.Umat Tuhan jga hrs lebih kreatif & inofatif pndai bca peluang utk merubah ekonomi keluarga.
  • * Assa

    2011-01-04 05:44:37
    Saatnya grja inovatif utk mensejahterakan umat & masyarakat skitarnya spya brdampak.Umat Tuhan jga hrs lebih kreatif & inofatif pndai bca peluang utk merubah ekonomi keluarga.
  • * Assa

    2011-01-04 05:44:37
    Saatnya grja inovatif utk mensejahterakan umat & masyarakat skitarnya spya brdampak.Umat Tuhan jga hrs lebih kreatif & inofatif pndai bca peluang utk merubah ekonomi keluarga.

"Quote Of The Day"

Berkat seringkali terbungkus dalam ujian dan masalah. Sikap kita menentukan apakah kita dapat menemukan berkat itu. Bagaimana sikap Anda menghadapi ujian dan masalah? 2 Kor 4:17CBN MOBILE REG(SPASI)BERKAT Kirim ke 7266