Menyelidiki Hati, Meluruskan Motivasi
Kalangan Sendiri

Menyelidiki Hati, Meluruskan Motivasi

Lori Official Writer
      93

Ayat Renungan: Mazmur 139: 23–24 - “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!"

 

Saudara yang dikasihi Tuhan, bagaimana sukacita Anda hari ini? Sukacita adalah sebuah keputusan. Sama seperti kita memutuskan hari ini mau makan apa atau memakai baju apa, demikian pula secara rohani kita perlu memutuskan untuk memilih hal yang baik.

Firman Tuhan mengingatkan kita untuk bersukacita dalam segala hal (1 Tesalonika 5: 16). Namun, kenyataannya sebagai manusia, hati kita tidak selalu dalam kondisi yang baik. Tidak selamanya hati kita “on” dan bersih. Pengaruh masa lalu, pergumulan masa kini, dan kekhawatiran akan masa depan sering kali membuat hati kita menjadi terhimpit dan tidak selaras.

Karena itu, firman Tuhan dalam Mazmur 139: 23–24 memberi kita tuntunan yang jelas: kita perlu menyelidiki hati kita. Ada sebuah lagu yang berkata: Selidiki aku, lihat hatiku, apakah ku sungguh mengasihi-Mu Yesus. Lagu ini mengingatkan kita untuk meminta Tuhan menyelidiki hati kita. Namun pada saat yang sama, kita perlu menyadari bahwa urusan menjaga dan membereskan hati adalah tanggung jawab kita.

Kitalah yang perlu menyelidiki diri sendiri. Apakah hati kita sungguh murni di hadapan Tuhan? Apakah motivasi kita benar-benar jelas dan lurus di hadapan-Nya? Sebab ketika kita mulai merasa bete, iri, mudah marah, baper, atau merasa segala sesuatu tidak berjalan sesuai rencana, itu adalah tanda bahwa hati kita perlu diperiksa. “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” (Amsal 4:23)

Kemudian, kita perlu kembali kepada dasar dari semuanya: apa motivasi hidup kita?

Jika engkau seorang kepala rumah tangga, apa motivasimu menikah dan membangun keluarga? Jika engkau seorang karyawan atau pelayan Tuhan, apa motivasimu bekerja dan melayani? Motivasi adalah fondasi yang menentukan kokohnya sebuah bangunan. Jika fondasinya salah, bangunan itu tidak akan bertahan lama.

Karena itu, untuk memiliki motivasi yang benar, kita perlu terus membersihkan dasar-dasar kehidupan kita. Bahkan resolusi rohani tidak harus menunggu awal tahun; itu bisa kita lakukan setiap hari, bahkan setiap minggu. Kita sedang menyelidiki apakah kita masih satu arah dengan Tuhan, apakah kita mulai berjalan sendiri, menyimpang, panik, atau mengandalkan kekuatan sendiri. Firman Tuhan berkata, “Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.” (Amsal 3:5)

Saudara yang dikasihi Tuhan, ini adalah sebuah permulaan yang baik ketika kita mau menyelidiki hati kita. Sebuah kebiasaan sederhana, misalnya sebelum tidur, mengambil waktu untuk mengingat kembali hari yang telah dilalui—apa yang tidak sesuai, apa yang perlu diperbaiki—adalah bagian dari proses pembenahan diri. Di situlah kita belajar untuk terus bertumbuh dan menjadi lebih baik.

 

Momen Refleksi:

1. Luangkan waktu hari ini untuk bertanya kepada diri sendiri:

2. Bagaimana kondisi hatiku saat ini di hadapan Tuhan?

3. Apakah motivasi hidup dan pelayananku masih murni dan selaras dengan kehendak-Nya?

Mari kita terus menyelidiki hati, memperbaiki motivasi, melakukan yang baik, dan hidup dengan tujuan untuk menyenangkan Tuhan. Sebab keberhasilan sejati lahir dari hati yang benar dan motivasi yang berpusat kepada Tuhan, bukan kepada diri sendiri atau manusia.

 

Tuhan Yesus memberkati.

 

Hak Cipta ©Maria Kaesmetan, Departemen Spiritual Life CBN Indonesia

Ikuti Kami