Di balik keseharian yang terlihat biasa, Ibu Mariance menjalani peran yang tidak ringan.
Sebagai seorang ibu dari dua anak kecil, ia harus membagi waktu, tenaga, dan hati - bekerja sebagai guru agama di sekolah di pagi hari dan mengurus rumah dan anak-anaknya di siang hingga malam hari. Bahkan tanggung jawab ini seringkali ia kerjakan sendirian karena suaminya, yang bekerja sebagai polisi, harus menjalani sistem tugas yang membuatnya tidak selalu hadir di rumah.
Meski begitu, keluarga mereka masih tetap menghadapi situasi ekonomi yang pas-pasan. Tetapi bagi ibu Mariance, itu bukanlah tantangan utama melainkan ketika kedua anaknya bertengkar.
Dengan jarak usia yang sangat dekat, konflik kecil sering terjadi. Rebutan mainan, saling memukul, menangis. Dan di momen itulah, tanpa sadar ia sering terpancing emosi dan membentak.
Anak-anak memang diam setelah itu. Tapi bukan damai yang ia rasakan — melainkan penyesalan.
“Ada rasa bersalah. Sebagai ibu, mendidik anak tidak boleh kasar. Tapi karena capek, terbawa emosi," ungkapnya.
Di titik itu, ia mulai mempertanyakan dirinya sendiri sebagai seorang ibu.“Jadi saya berdoa supaya Tuhan berikan kesabaran," tegasnya.
Baca Juga: Ingin Membawa Pemuridan Keluarga, Tuhan Mulai dari Hidup Saya
Hingga akhirnya, ia mengikuti The Parenting Project, seri pengajaran parenting dari CBN Indonesia - yang diadakan oleh gereja dengan mengundang papa mama dari jemaat gereja ikut pertemuan dan belajar bersama dari 7 modul yang disediakan.
Ia mengaku salah satu pelajaran yang paling membekas baginya adalah dari modul 7 "Orangtua Sepanjang Masa" dimana ibu Mariance belajar bahwa menjadi orangtua ibarat seperti "Mendaki Gunung" - dalam perjalanan, akan selalu ada lelah, tantangan dan proses. Namun yang menentukan bukanlah seberapa berat jalannya, melainkan kepada siapa kita bersandar.
Ia mulai menyadari sesuatu yang sederhana namun mengubahkan: anak-anaknya bukan sedang “melawan” tetapi mereka hanya belum tahu mana yang benar.
“Saya sadar… anak-anak belum paham mana yang baik dan tidak baik.”
Kesadaran itu mengubah cara ia merespons - dari reaksi emosi menjadi kasih yang lembut.
Perubahan ini tidak langsung terjadi dalam satu malam. Perlahan ia mulai menerapkan apa yang ia pelajari. Seperti saat anak-anak bertengkar, ia tidak lagi langsung marah.
Ia memilih diam. Menahan diri dan menunggu sampai emosi mereda. Baru kemudian ia mendekat, menjelaskan dengan lembut.
Baca Juga: Ketika Anak Menyaksikan Kekerasan, Tuhan Memulihkan Keluarga Kami
Ia juga mulai menyadari satu hal penting—bahwa membentak anak bukan solusi, justru meninggalkan luka. “Saya menyesal… karena kalau dibentak, nanti mereka jadi takut dan punya rasa takut yang berlebihan.”
Kini, keadaannya sudah berbeda dan dia bisa menyaksikannya sendiri. “Kalau mereka bertengkar…mereka minta maaf sambil berpelukan," ucap ibu Mariance dengan tawa bahagia.
Meski beban tanggung jawab merawat dan membesarkan anak hampir sepenuhnya ada dipundaknya, ibu Mariance justru belajar menjadi ibu yang lebih sabar, lebih kuat dan lebih bergantung kepada Tuhan. Ia tidak lagi melihat dirinya sebagai ibu yang gagal, melainkan seorang ibu yang sedang diproses.
Baca Juga: Ingin Membawa Pemuridan Keluarga, Tuhan Mulai dari Hidup Saya
Seperti yang ia ucapkan dengan jujur, “Kalau susah atau senang, kita harus serahkan kepada Tuhan.”
Apa yang dialami ibu Mariance juga terjadi kepada ratusan papa mama yang sudah mengikuti The Parenting Project di gereja mereka.
Jika hari ini Anda membaca kisah ini, ini adalah undangan bagi Anda untuk ambil bagian bersama The Parenting Project - melatih orangtua dan memulihkan keluarga di Indonesia.