Melihat Melampaui Label “Pemberontak”
Sumber: Canva.com/Freepik

Parenting / 25 March 2026

Kalangan Sendiri

Melihat Melampaui Label “Pemberontak”

Harry Lee Contributor
129

1 Samuel 16:7

"Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.”

 

Di banyak rumah dan ruang kelas, terdapat seorang anak yang tidak sepenuhnya cocok dengan cetakan yang ada. Mereka akan senantiasa bertanya “Mengapa?” ketika diberi tahu, “Karena aku yang bilang begitu” jawaban yang diberikan kepada mereka. Mereka melontarkan pendapat yang berbeda ketika orang lain hanya mengangguk setuju. Bagi orang tua yang kelelahan atau guru yang sibuk, anak ini sering kali mendapatkan sebuah label yang berat dan melekat erat: Pemberontak.

Namun, jika kita menyingkap label itu, kita sering kali menemukan sesuatu yang indah.

Bayangkan seekor elang muda di dalam sebuah peti kayu yang kecil. Seiring elang itu tumbuh, sayap-sayapnya mulai merentang. Ia mendesak dinding-dinding peti, mencakar-cakar kayu, dan membuat banyak kegaduhan. Bagi seseorang yang mengamati dari luar, elang itu tampak “destruktif” atau “sulit diatur.” Namun, elang itu tidak sedang berusaha menjadi nakal; ia hanya merespons panggilan angkasa luas yang ia rasakan mengalir dalam DNA-nya. Ia tidak sedang memberontak melawan peti itu; ia sedang menggapai cakrawala.

Kita sering kali melabeli apa yang tidak kita pahami. Renungkanlah kisah Thomas Edison, salah satu penemu terbesar dalam sejarah.

Ketika Edison masih kecil, ia hanya bertahan selama tiga bulan di sekolah formal. Gurunya merasa frustrasi dengan rentetan pertanyaannya yang tak henti-henti dan pikirannya yang “berkelana” ke mana-mana. Sang guru akhirnya melabelinya sebagai anak yang “bingung” —sebuah kata yang pada masa itu digunakan untuk menggambarkan seseorang yang otaknya kacau atau “rusak.” Pihak sekolah memandangnya sebagai pengganggu yang suka memberontak dan enggan mematuhi aturan.

Namun, ibunya—Nancy Edison—memahami keadaannya dengan lebih baik. Ia tidak melihat seorang pemberontak; ia melihat sebuah cahaya terang yang membutuhkan ruang untuk bersinar. Ia mengeluarkan Edison dari sekolah dan mendidiknya sendiri di rumah (homeschooling), memberinya kebebasan untuk membentuk pendapatnya sendiri dan mengeksplorasi gagasan-gagasannya sendiri. Karena sang ibu mampu melihat melampaui label “pemberontak” itu dan memandang kemandirian anaknya sebagai sebuah anugerah, Edison pun tumbuh menjadi penemu bola lampu dan mengubah dunia. 

Saya ingin mengajak Anda sekalian untuk tidak melihat apa yang ingin Anda lihat, tapi justru melihat apa yang seharusnya Anda lihat dengan perkataan lain “Melihat Sebagaimana Tuhan Melihat.”

Kaum muda kita sering kali menyuarakan hasrat mereka akan kemandirian. Mereka ingin memahami alasan di balik keyakinan yang mereka anut. Mereka ingin memastikan bahwa iman dan pendapat mereka benar-benar milik mereka sendiri, bukan sekadar topeng yang dikenakan demi menyenangkan hati orang-orang dewasa.

Dalam Galatia 5:1 (TB), tertulis: “Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.” Tuhan merancang kita untuk hidup dalam kemerdekaan. Ketika seorang anak berusaha mengekspresikan dirinya, ia sedang berlatih demi hari di mana ia harus berdiri tegak seorang diri di dunia ini. Jika kita mematahkan pertanyaan “Mengapa” mereka, kita mungkin tanpa sengaja turut mematahkan “Tekad” mereka.

Alih-alih Memberi Label, Cobalah Menggunakan Lensa Pandang:

Label: “Mereka sedang bersikap membangkang.”

Lensa Pandang: “Mereka sedang mencari jati diri dan suara mereka sendiri.”

Label: “Mereka adalah pembuat onar.”

Lensa Pandang: “Mereka memiliki pikiran yang sangat cepat dan membutuhkan tantangan yang lebih besar.”

Ketika kita berhenti memberi label dan mulai mendengarkan, kita akan menyadari bahwa sebagian besar kaum “pemberontak” sebenarnya tidak berniat meruntuhkan rumah—mereka hanya berusaha membuka jendela agar dapat melihat bintang-bintang.

 

Doa

"Tuhan, bantulah aku untuk melihat hati kaum muda yang hadir dalam kehidupanku. Ampunilah aku karena telah menggunakan label-label tertentu, padahal seharusnya aku menggunakan kasih. Berikanlah aku kesabaran untuk mendengarkan pertanyaan-pertanyaan mereka, serta hikmat untuk mendukung kemandirian mereka, dengan menyadari bahwa Engkau telah menciptakan mereka untuk menjadi cahaya yang unik di dunia ini. Amin."

 

 

Artikel ini adalah hasil karya dari kontributor kami dan segala isi artikel ini adalah tanggung jawab kontributor.

Halaman :
1

Ikuti Kami