Pernah Abaikan Anak, Hati Ibu Yani Kini Kembali Menjalani Perannya Sebagai Orang Tua
Sumber: dok. Istimewa

Impact Story / 24 March 2026

Kalangan Sendiri

Pernah Abaikan Anak, Hati Ibu Yani Kini Kembali Menjalani Perannya Sebagai Orang Tua

Claudia Jessica Official Writer
905

Tidak semua orang tua langsung tahu bagaimana membentuk karakter anak dengan benar. Ada yang harus melewati proses, jatuh bangun, bahkan merasa berada di titik buntu. Itulah yang dialami oleh Yani Herdiani (46), seorang ibu rumah tangga yang berjemaat di BNKP Jemaat Kota Gunungsitoli.

Sebagai seorang ibu, Yani memiliki kerinduan yang sama seperti banyak orang tua lainnya, yakni melihat anaknya bertumbuh dengan baik dan takut akan Tuhan. Tetapi dalam perjalanannya mendidik anak, tidaklah mudah.

 

BACA JUGA: Guru Sekolah Minggu Bukan Penitipan Anak! Parents Yuk Bersikap Bijak, Baca Pesan Ini

 

Sang Anak ingin setiap permintaannya dituruti, dan akan cepat marah ketika orang tua tidak mengabulkannya. Kondisi itu membuat Yani mulai merasa lelah dan tidak tahu harus memulai dari mana.

“Dulu, kalau saya bilang tidak, ya tidak. Anak harus ikut apa yang saya katakan,” ungkapnya.

Tanpa disadari, metode disiplin yang ia terapkan justru membuat anaknya tertekan dan semakin memberontak. Yani kewalahan dan rasa lelahnya perlahan berubah menjadi pengabaian.

Saat itu, Yani mulai mundur dari perannya sebagai orang tua dan membiarkan anaknya tenggelam dalam handphone setiap hari.

“Sempat saya biarkan… saya sibuk sendiri. Rasanya lelah sekali,” ceritanya.

Namun, ketika melihat anaknya tertidur, Yani merasakan sesuatu yang menusuk hatinya, ada perasaan bersalah karena telah mengabaikan anaknya.

“Waktu saya melihat anak saya tidur, saya merasa bersalah. Saya tahu saya harus kembali menjalankan tanggung jawab saya sebagai orang tua,” ungkapnya dengan jujur.

 

BACA JUGA: Normalisasikan Suami Mengurus Anak Karena Kewajiban, Bukan “Membantu Istri”

 

Dari sanalah mulai terjadi perubahan. Ia tidak ingin membiarkan anaknya terus tenggelam dalam kebiasaan yang tidak membangun. Ia mulai belajar kembali, mencari berbagai cara untuk mendidik anaknya seperti yang Tuhan kehendaki.

Jawaban yang lebih jelas datang ketika gerejanya mengadakan The Parenting Project. Selama ini Yani merindukan komunitas dan pembelajaran yang benar tentang pengasuhan anak yang sesuai dengan nilai-nilai Firman Tuhan.

Baginya, kehadiran program ini terasa seperti jawaban doa.

Melalui setiap modul yang diikuti, Yani mulai memahami bahwa mendisiplinkan anak tidak hanya dilakukan dengan ketegasan.

"Setelah mengikuti The Parenting Project ini, saya pelajari kita memang mendisiplinkan anak tapi cara mendisiplinkannya itu sudah berbeda. Bukan hanya mendisiplinkan, tapi bagaimana kita juga bisa mendengar pendapatnya, keluh kesahnya, seperti itu"

Salah satu materi yang paling berkesan baginya adalah tentang mengisi tangki emosi anak.

“Anak itu seperti tangki yang kosong. Kita sebagai orang tua harus mengisi—apakah dengan kasih atau dengan ketegasan. Buat saya yang masih belajar jadi orang tua, itu sangat berkesan,” ujarnya.

Proses ini mengubah cara Yani mendidik, juga mengubah dirinya sebagai pribadi. Ia mulai menyadari bahwa menjadi orang tua bukan hanya soal memberi instruksi, tetapi menjadi teladan.

“Kita tidak bisa hanya mengatakan, tapi harus mempraktikkan.”

 

BACA JUGA: Ratusan Orang Tua Telah Diwisuda dan Siap Jadi Agen Pemulihan Keluarga!

 

Perubahan itu juga ia bagikan kepada suaminya. Setiap selesai mengikuti pelatihan The Parenting Project, Yani berdiskusi dan berbagi dengan suami agar mereka bisa berjalan searah dalam membangun pola asuh di rumah.

“Kalau kita tidak kompak, anak akan bingung. Jadi kami saling mendukung.”

Perlahan, perubahan mulai terlihat dalam keluarga mereka. Anak yang sebelumnya mudah memberontak kini mulai lebih terbuka, mau mendengarkan, bahkan belajar mencurahkan isi hatinya kepada orang tua.

Dalam hal emosi, anaknya juga mulai belajar mengendalikan diri.

“Kalau dulu menangis bisa lama, sekarang setelah dijelaskan, dia bisa mengerti dan tidak merengek lagi,” tutur Yani.

Ia juga mulai menerapkan batasan yang jelas, termasuk dalam penggunaan handphone. Jika sebelumnya anak bebas menggunakan setiap hari, kini ada aturan yang disepakati bersama.

 

BACA JUGA: Retret Hamba Tuhan di Manokwari Dorong Gereja Bangun Keluarga yang Berpusat pada Kristus

 

Semua perubahan ini tidak terjadi dalam semalam. Tetapi Yani percaya, setiap langkah kecil yang dilakukan dengan konsisten akan membentuk karakter anak dalam jangka panjang.

Setelah mengikuti tujuh modul hingga wisuda, Yani merasakan transformasi yang luar biasa, bukan hanya pada anaknya, tetapi juga dalam hatinya sebagai seorang ibu.

“Saya bukan lagi ibu yang mengabaikan tugas sebagai orang tua. Sekarang saya lebih hadir, lebih peduli, dan lebih sadar bahwa tugas terbesar saya adalah mempersiapkan anak menjadi generasi yang takut akan Tuhan.”

Ia kini memegang satu keyakinan bahwa mendisiplinkan anak memang tidak selalu mudah, bahkan terkadang terasa menyakitkan. Namun di balik proses itu, ada masa depan yang sedang dibentuk.

Kisah Yani adalah gambaran bahwa banyak orang tua sedang berjuang, belajar, jatuh, dan bangkit kembali dalam membentuk karakter anak-anak mereka.

Melalui program The Parenting Project, semakin banyak keluarga diperlengkapi untuk membangun pola asuh yang sehat, penuh kasih, dan berdampak bagi masa depan generasi.

Ketika Anda memilih untuk ambil bagian dalam pelayanan ini, Anda tidak hanya mendukung sebuah program, tetapi ikut menanamkan fondasi karakter dalam kehidupan anak-anak dan keluarga yang sedang Tuhan bentuk hari ini.

Mari, ambil bagian dalam perjalanan ini sebagai Mitra CBN dan jadilah berkat bagi keluarga-keluarga yang sedang dipulihkan.

Sumber : Jawaban.com
Halaman :
1

Ikuti Kami