Memulihkan Luka Batin Anak yang Punya Ibu Narsistik (Part 2)
Sumber: Canva.com/Generate AI

Parenting / 12 March 2026

Kalangan Sendiri

Memulihkan Luka Batin Anak yang Punya Ibu Narsistik (Part 2)

Harry Lee Contributor
2324

Meninggalkan hubungan narsistik yang penuh kekerasan membawa jenis duka yang berbeda. Anda tidak hanya berduka atas hubungan yang pernah Anda jalani, tetapi juga atas hubungan yang sebenarnya pantas Anda dapatkan namun tidak pernah Anda alami.

Tidak apa-apa jika Anda merasa sedih. Tidak apa-apa juga jika Anda berseru kepada Allah, seperti yang dilakukan oleh para pemazmur.

“Doa seorang sengsara, pada waktu ia lemah lesu dan mencurahkan pengaduhannya ke hadapan TUHAN. TUHAN, dengarkanlah doaku, dan biarlah teriakku minta tolong sampai kepada-Mu. Janganlah sembunyikan wajah-Mu terhadap aku pada hari aku tersesak. Sendengkanlah telinga-Mu kepadaku; pada hari aku berseru, segeralah menjawab aku!”— Mazmur 102:1-2 (TB)

Allah adalah “Bapa bagi anak yatim,” dan Ia juga seperti seorang “Ibu” dalam cara Ia menghibur. Yesaya 66:13 berkata, “Seperti seseorang yang dihibur ibunya, demikianlah Aku ini akan menghibur kamu.” Ketika ibu duniawi Anda gagal memberikan penghiburan, Allah turun tangan. Ia bukanlah seorang narsisis. Ia tidak membutuhkan Anda untuk berprestasi. Ia mengasihi karena Anda adalah milik-Nya.

 

Baca Juga: Memulihkan Luka Batin Anak yang Punya Ibu Narsistik (Part 1)

 

Mengganti “Inner Critic”

Seorang ibu narsistik sering menanamkan “Inner Critic” dalam pikiran anaknya—sebuah suara di dalam diri yang terus berkata:

“Kamu egois.”

“Kamu berlebihan.”

“Kamu bukan apa-apa tanpa aku.”

Untuk pulih, suara itu perlu “diusir”.

 

Pertukaran Kebenaran

Kebohongan: Saya bertanggung jawab atas kebahagiaan ibu saya.

Kebenaran: “Tiap-tiap orang memikul tanggungannya sendiri.” (Galatia 6:5)

Kebohongan: Aku tidak layak dicintai kecuali aku sempurna.

Kebenaran: “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” (Roma 5:8)

Kebohongan: Menetapkan batasan adalah “tidak Kristen”.

(Kebohongan yang sering kita dengar adalah: dengan menempatkan batasan, engkau tidak menunjukkan kasih seperti orang Kristen)

Kebenaran: Yesus sendiri juga menetapkan batasan terhadap orang-orang yang datang berbondong-bondong kepada-Nya, sehingga Ia dan para murid-Nya tetap memiliki waktu untuk beristirahat, seperti yang tertulis dalam Lukas 5:16, “Akan tetapi Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa.”

 

Membangun Kembali “Inner Voice" atau "Suara Batin”

Anak-anak yang dibesarkan oleh ibu narsistik sering memiliki inner critic yang terdengar persis seperti suara ibu mereka.

Kenali suara itu: Ketika Anda membuat kesalahan dan berpikir, “Aku bodoh sekali,” tanyakan pada diri sendiri: Apakah itu suara saya, atau suara dia?

Latih belas kasih kepada diri sendiri: Mulailah berbicara kepada diri sendiri seperti Anda berbicara kepada seorang teman dekat. Pada awalnya mungkin terasa “palsu”, tetapi seiring waktu hal ini dapat mengubah cara kerja otak Anda.

 

Fokus pada “Pengasuhan Diri”

Karena Anda mungkin tidak menerima dukungan emosional yang Anda butuhkan ketika masih kecil, sekarang Anda perlu memberikannya kepada diri Anda sendiri.

  • Prioritaskan kebutuhan Anda: Orang tua narsistik sering mengajarkan anak-anak bahwa kebutuhan dan perasaan mereka tidak penting. Mulailah dari hal kecil. Sepanjang hari, tanyakan kepada diri sendiri: “Apa yang saya butuhkan saat ini?”
  • Mungkin Anda membutuhkan: segelas air, tidur siang, berjalan-jalan, menonton sesuatu untuk beristirahat. Perhatikan juga perasaan Anda setelah mengalami perlakuan dari ibu narsistik. Anda mungkin merasa marah? Jengkel? Sedih? Perasaan-perasaan ini valid, karena itulah yang Anda rasakan. Jangan biarkan ibu narsistik mengatakan bahwa perasaan Anda tidak nyata.
  • Izinkan diri Anda untuk bermain: Temukan hobi atau aktivitas yang membuat Anda bahagia, hanya untuk kesenangan semata.

 

Baca Juga: Hati-hati! Pujian Picu Narsisme Pada Anak

 

Cari Dukungan Profesional

Trauma akibat pelecehan narsistik sangat kompleks dan sering disebut C-PTSD. Sangat sulit untuk menghadapinya sendirian.

1. Temukan terapis yang memahami trauma.

Carilah terapis yang memahami tentang pelecehan narsistik atau sistem keluarga.

2. Bergabung dengan kelompok dukungan.

Berbicara dengan orang lain yang memiliki pengalaman dengan ibu yang serupa dapat sangat membantu proses penyembuhan. Hal ini mengingatkan Anda bahwa Anda tidak sendirian.

Ingatkan diri Anda bahwa "penyembuhan bukanlah proses yang selalu berjalan lurus." Akan ada hari-hari baik dan hari-hari yang sulit.

Tujuannya bukan untuk menjadi sempurna, tetapi untuk menjadi bebas—bebas menjadi diri sendiri tanpa suara ibu Anda yang terus berbicara di dalam kepala Anda.

Berikut ini panduan refleksi yang bisa Anda coba selama 7 hari ke depan:

Hari 1: Mengakui rasa sakit

Ayat Renungan: Mazmur 34:18 – “TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.”

Hari 2: Mendefinisikan identitasmu

Ayat Renungan: Mazmur 139:14 – “Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.”

Hari 3: Melepaskan rasa bersalah

Ayat Renungan: Roma 8:1 – “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.”

Hari 4: Menemukan keamanan

Ayat Renungan: Amsal 18:10 – “Nama TUHAN adalah menara yang kuat, ke sanalah orang benar berlari dan ia menjadi selamat.”

Hari 5: Kekuatan kebenaran

Ayat Renungan: Yohanes 8:32 – “Kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”

Hari 6: Pengampunan vs. kepercayaan

Ayat Renungan: Matius 18:21-22 – Ampunilah kesalahan, tetapi kepercayaan perlu dibangun kembali melalui perubahan dari pihak yang bersalah.

Hari 7: Beristirahat dalam kasih Tuhan

Ayat Renungan: Zefanya 3:17 – “Ia memberi engkau kemenangan dan Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya.”

 

Doa:

"Bapa, aku bersyukur kepada-Mu karena Engkau adalah Orang Tua yang sempurna. Di saat aku dimanipulasi, berikanlah aku kebijaksanaan. Di saat aku dipermalukan, berikanlah aku kasih karunia-Mu.

Hari ini aku memilih untuk keluar dari bayang-bayang narsisisme dan masuk ke dalam terang kasih-Mu. Bantulah aku menetapkan batasan yang menghormati-Mu dan melindungi kedamaian yang telah Engkau berikan kepadaku.

Dalam nama Tuhan Yesus, Amin."

 

Rev.Dr. Harry Lee, MD.,PsyD

Gembala Restoration Christian Church di Los Angeles - California

 

Artikel ini adalah hasil karya dari kontributor kami dan segala isi artikel ini adalah tanggung jawab kontributor.

Halaman :
1

Ikuti Kami