Stok BBM Indonesia Terbatas 20 Hari, Ancaman Harga Minyak Jika Perang Berlarut
Sumber: Dokumentasi Pertamina Patra Niaga Jawa Bagian Tengah

News / 4 March 2026

Kalangan Sendiri

Stok BBM Indonesia Terbatas 20 Hari, Ancaman Harga Minyak Jika Perang Berlarut

Claudia Jessica Official Writer
4881

Cadangan bahan bakar minyak (BBM) Indonesia saat ini diperkirakan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sekitar 20 hari ke depan. Informasi tersebut disampaikan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

“Kalau cadangan BBM saat ini masih 20 hari,” ujar Bahlil dalam keterangannya, seperti dikutip dari Kontan.

Meski demikian, pemerintah menilai cadangan tersebut masih cukup untuk menjaga kebutuhan energi dalam negeri dalam jangka pendek.

Namun, situasi global yang tidak menentu membuat risiko kenaikan harga minyak dunia tetap perlu diwaspadai, terutama jika konflik internasional berlangsung lebih lama dari perkiraan.

Konflik Timur Tengah Dorong Ketidakpastian Energi

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang diperkirakan berpotensi memicu gejolak pasar energi global. Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahkan menyatakan bahwa militer negaranya siap menghadapi konflik yang bisa berlangsung selama 4-5 minggu.

“Sejak awal kami memperkirakan empat hingga lima minggu, tetapi kami memiliki kemampuan untuk bertahan jauh lebih lama dari itu,” ujar Trump dalam laporan yang dikutip dari Al Jazeera.

Pernyataan tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa konflik dapat berkepanjangan. Jika situasi ini terus memanas, maka negara-negara pengimpor minyak seperti Indonesia berpotensi menghadapi kenaikan harga energi yang signifikan.

Indonesia Berpotensi Membeli Minyak Lebih Mahal

Pengamat energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, menjelaskan bahwa cadangan BBM yang dimiliki Indonesia saat ini merupakan stok yang dibeli sebelum konflik Timur Tengah memanas.

Artinya, jika perang berlangsung lama, Indonesia kemungkinan harus membeli minyak dengan harga yang lebih tinggi.

“Kalau perang lebih lama, Indonesia terpaksa membeli minyak dengan harga yang lebih mahal,” kata Fahmy.

Ia memperkirakan harga minyak dunia berpotensi melonjak hingga sekitar 100 dolar AS per barel jika eskalasi konflik terus meningkat. Bahkan, serangan awal saja telah memicu kenaikan harga minyak global.

Data perdagangan menunjukkan harga minyak mentah Brent sempat melonjak 6,7% menjadi US$ 77,74 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga naik sekitar 6,3% menjadi US$ 71,23 per barel.

Kenaikan tersebut terjadi setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memberi sinyal kesiapan untuk menyerang kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz, jalur penting distribusi minyak dunia.

Pemerintah Pastikan Distribusi Energi Tetap Terpantau

Di sisi lain, PT Pertamina Patra Niaga memastikan bahwa ketersediaan energi dalam negeri tetap dalam pengawasan, terutama menjelang periode Ramadhan dan arus mudik.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M. V. Dumatubun, menjelaskan bahwa pengawasan dilakukan melalui pembentukan Satgas RAFI.

“Untuk ketersediaan energi selama Ramadhan akan dipantau melalui Satgas RAFI agar kelancaran distribusi energi tetap terjaga,” ujarnya.

Satgas tersebut juga bertugas melakukan pemantauan dan evaluasi apabila diperlukan langkah-langkah tambahan untuk menjaga pasokan energi nasional di tengah gejolak global.

Risiko Dampak Ekonomi Jika Krisis Berkepanjangan

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, menilai konflik berkepanjangan dapat menimbulkan dampak serius bagi perekonomian Indonesia.

Menurutnya, jika pasokan BBM terganggu, masyarakat berpotensi menghadapi antrean panjang di SPBU hingga munculnya praktik penjualan ilegal.

“Antrian panjang mencari BBM bahkan bisa memicu transaksi ilegal di pasar gelap,” kata Bhima seperti yang dikutip dari Kompas.com.

Ia juga memperingatkan bahwa krisis energi dapat berdampak luas pada sektor transportasi, industri, hingga kelistrikan. Ketergantungan Indonesia pada energi fosil membuat sistem energi nasional masih rentan terhadap gejolak minyak dunia.

Selain itu, tekanan ekonomi akibat kenaikan harga energi berpotensi menurunkan daya beli masyarakat dan memicu risiko inflasi yang tinggi.

Karena itu, para pengamat menilai percepatan transisi menuju energi terbarukan menjadi langkah penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional di masa depan.

 

Sumber : Berbagai Sumber
Halaman :
1

Ikuti Kami