“Secara manusia pasti sakit hati.” Kalimat itu diucapkan Darius dengan nada jujur tanpa dibuat-buat. Di balik suaranya yang tenang, ada luka panjang yang pernah ia pendam sendirian.
Darius, pria 26 tahun asal Medan yang kini merantau ke Cibinong, tidak pernah membayangkan hubungannya dengan sang ayah akan retak sedalam itu. Sejak kecil, ia merasa kurang diterima. Harapan ayahnya yang menginginkan anak perempuan membuatnya tumbuh dengan perasaan tidak cukup. Namun luka terbesar datang setelah ibunya meninggal pada 2022.
Sebagai anak pertama dari lima bersaudara, Darius sangat mengharapkan ayahnya tidak lagi menikah. Cukup fokus untuk mendidik keempat adik-adiknya. Sehingga ketika sang ayah dekat dengan wanita, dia akan mulai kesal dan menyampaikan rasa penolakannya. Akibatnya, konflik pun muncul – sang ayah marah hingga memblokir dan memutus semua sumber komunikasi. Ironisnya, ia bahkan tak lagi dianggap anak.
“Setahun nggak ada komunikasi sama sekali,” katanya singkat.
Bayangkan satu tahun hidup dengan status “tidak dianggap”. Bukan oleh orang lain, tetapi oleh ayah sendiri.
Baca Juga: Saat Luka Dipulihkan dan Kutuk Dipatahkan, Kisah Anak yang Memilih Mengampuni Ibunya
Di tengah amarah dan kepahitan itu, Darius teringat sebuah tayangan yang pernah ia tonton di televisi pada 2019 – dari program Superyouth di Global TV yang pertama kalinya menghubungkannya dengan Layanan Doa CBN. Waktu itu ia hanya iseng menghubungi. Tak berlanjut.
Namun di akhir 2024, ketika ia kembali menyaksikan tayangan Superyouth di YouTube tentang relasi anak dan orang tua, hatinya seperti disentuh. “Pas banget lho, saya lagi ada masalah tentang anak dan orang tua,” tuturnya.
Pada 9 April 2025, ia mengirim pesan ke Layanan Doa CBN. Bukan lagi iseng. Tapi karena lelah memikul luka sendirian.
Titik Balik yang Mengubah Hatinya
Di awal percakapan dengan tim Layanan Doa CBN, Darius tidak datang sebagai pribadi yang sudah siap berubah. Ia datang sebagai anak yang terluka. Suaranya terdengar biasa saja, tetapi pengakuannya jujur dan mentah.
“Awal-awal saya sih masih belum tergerak hatinya. Tapi setelah ada beberapa bulan dibimbing dan diberikan pengertian supaya walaupun orang tua begitu, sudah sebaiknya anak harus memaafkan,” katanya.
Kebenaran yang terdengar sederhana ini perlahan menyentuh hatinya. Namun justru di titik itulah prosesnya dimulai. Ia tidak langsung disuruh melupakan luka, melainkan diajak kembali mengenal pribadi Yesus yang mengerti rasa ditolak. Sedikit demi sedikit, kemarahan yang tadinya terasa wajar mulai terlihat sebagai beban yang melelahkan. Ia mulai menyadari bahwa kebencian dan luka yang selama ini ia biarkan bukanlah sesuatu yang merugikan ayahnya, melainkan dirinya sendiri. Dan saat itulah dia bersedia mengundang Tuhan untuk memperbaharui hidupnya dan melepaskan pengampunan kepada sang ayah.
Bukan hanya memulihkan hatinya, tetapi Darius juga memutuskan mengikut Tuhan dengan menerima baptisan pada Oktober 2025. Sejak saat itu, sesuatu berubah di dalam dirinya. “Ada sih kak, yang dulunya mungkin lahir baru ya. Yang tadinya membenci orang tua sekarang udah gak. Aku sudah maafkan bapak dan komunikasinya berjalan dengan lancar. Jilid baru lah,” ungkapnya
Ia menggambarkan damai itu dengan sederhana namun dalam, “Iya pasti damai. Karena kan sudah menerima Tuhan kembali. Semua tubuh yang lama ini sudah dikubur dan kita mendapatkan tubuh yang baru. Sudah bisa menerima kembali (keadaan). Walaupun bisa dibilang masih proses.”
Baca Juga: Dari Pernikahan yang Penuh Luka Menuju Pelukan Kasih Tuhan yang Memulihkan
Ketika Telepon Berdering
Tak lama setelah ia memilih mengampuni, suara panggilan telepon berdering – panggilan yang selama ini ia nantinya dari ayahnya.
Ayahnya yang lebih dulu memblokir semua akses, kini menghubungi untuk memberi kabar bahwa ia akan kembali menikah. Darius punya dua pilihan. Datang dengan luka lama, atau datang dengan hati yang sudah dipulihkan.
Tetapi saat itu ia memilih hadir. “Ya saya datang. Saya memutuskan untuk memaafkan dan sudah mengampuni masa lalu,” ujarnya mantap.
Hari ini, komunikasi mereka kembali berjalan dengan baik. Semua karena ia memilih untuk mengampuni dan mengasihi. Pertumbuhan rohaninya pun terus berproses – doa dan membaca Firman Tuhan menjadi bagian dari hari-harinya meskipun tantangannya ia belum bisa konsisten ke gereja setiap minggunya karena kendala pekerjaan.
Apakah hari ini Anda juga punya luka yang sama seperti Darius? Mungkin hubungan Anda dengan orang tua sedang tidak baik, konflik yang seakan tak pernah mereda dengan suami atau istri, atau Anda sedang menanggung beban tanggung jawab yang begitu besar atas anak, keluarga maupun diri Anda sendiri? Kami hadir melalui Layanan Doa CBN 24 jam setiap hari untuk mendukung Anda dalam doa maupun setia mendengarkan Anda. Hubungi kami di nomor kontak atau 082215002424 klik tombol di bawah ini.