Perubahan dalam keluarga tidak selalu dimulai dari langkah besar. Terkadang, Tuhan memakai sebuah proses sederhana untuk menuntun orang tua dan anak belajar berjalan bersama. Inilah salah satu kisah yang lahir dari proses tersebut.
Yosanti Makh (34), seorang ibu rumah tangga di Jemaat GMIT Efrata Karisin, mengalami proses pembelajaran yang sederhana tentang batasan, disiplin, dan kasih dalam mendidik anak yang berdampak besar bagi keluarganya.
Yosanti hidup bersama suaminya, Deni Loemnanu, seorang petani sederhana, serta tiga orang anak yang Tuhan percayakan kepada mereka.
BACA JUGA: Didik Anak Terlalu Keras, Bapak Ini Sadar Ternyata Itu Salah
Kehidupan keluarga ini berjalan sederhana, penuh perjuangan, namun disertai kerinduan besar agar anak-anak mereka bertumbuh menjadi pribadi yang baik dan takut akan Tuhan.
Yosanti menyadari satu pergumulan besar dalam keluarganya, tidak adanya batasan dan disiplin yang jelas di rumah.
“Sebelumnya itu tidak ada batasan dan disiplin terhadap anak. Pokoknya, anak-anak atur saja sendiri mereka punya jam bermain, berdoa, dan main kapan,” ucapnya.
Sebagai orang tua, Yosanti sadar bahwa ia dan suaminya memiliki banyak keterbatasan dalam mendidik anak. Ia pernah mencoba membuat aturan, tetapi ketika anak-anak tidak menaatinya, muncul rasa kecewa di hatinya.
Yosanti juga takut jika terlalu keras, anak-anak akan merasa tertekan, menjauh, dan menutup hati. Perasaan bimbang inilah yang akhirnya membuat Yosanti memilih jalan aman dengan membiarkan anak-anak tumbuh tanpa batasan yang jelas.
BACA JUGA: Rahasia Orang Tua Sukses, Terapkan Teknik 3K agar Anak Disiplin dan Hidup dalam Kristus
Tapi, pergumulan itu perlahan dijawab Tuhan ketika Yosanti mengikuti The Parenting Project, khususnya pada tentang Batasan dan Disiplin. Di situlah matanya dibukakan.
“Tapi setelah saya ikut The Parenting Project, baru saya berpikir, oh ternyata penting menerapkan batasan dan disiplin,” ungkapnya.
Mindsetnya mulai berubah, Yosanti akhirnya paham bahwa disiplin bukanlah soal menakut-nakuti anak, melainkan menuntun mereka dengan kasih dan ketegasan. Aturan yang sehat justru memberi rasa aman, mengajarkan tanggung jawab, dan membantu anak-anak memiliki arah hidup yang jelas.
Proses ini tidak hanya menyentuh hati Yosanti, tetapi juga suaminya. Mereka mulai berdiskusi, saling menguatkan, dan perlahan membangun aturan-aturan sederhana di rumah. Yosanti tahu jalan ini tidak mudah, tetapi ia percaya bahwa perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten akan membawa dampak besar bagi keluarganya.
Setelah melalui pembelajaran itu, Yosanti semakin menyadari satu hal penting bahwa tanpa disiplin, anak-anak akan meniru pola hidup orang tuanya yang tidak tertib dan itu bukanlah warisan yang baik.
Kini, ia mulai melihat perubahan, bukan hanya pada anak-anak, tetapi juga pada dirinya sendiri. Ada keberanian baru untuk berkata “ya” pada hal yang baik, dan “tidak” pada hal yang tidak membangun. Suaminya pun semakin terlibat, dan anak-anak mulai belajar menaati aturan sederhana yang mereka buat bersama.
BACA JUGA: Pola Parenting 777 Cara Jessica Iskandar dan Vincent Verhaag Mendidik Anak
Yosanti memahami bahwa disiplin yang dibangun dengan kasih bukanlah belenggu, melainkan perlindungan. Ia percaya proses ini sedang menanam fondasi yang kuat agar anak-anaknya bertumbuh dengan karakter yang kuat, mampu menghargai waktu, mengenal batasan, dan bertanggung jawab.
Ia berharap anak-anaknya tumbuh dalam kasih, sekaligus belajar hidup dengan disiplin dan batasan yang sehat, menjadi generasi yang lebih baik, lebih bertanggung jawab, dan lebih takut akan Tuhan.
Apa yang dialami Yosanti mungkin terlihat sederhana, tetapi dampaknya bisa langsung dirasakan bukan hanya bagi dirinya, tetapi bagi masa depan anak-anaknya.
Melalui program seperti The Parenting Project, banyak orang tua sedang belajar membangun keluarga dengan kasih dan disiplin yang sehat. Ketika Anda memilih untuk ambil bagian dalam pelayanan ini, Anda sedang ikut menanamkan fondasi karakter bagi generasi yang sedang Tuhan bentuk hari ini.
Sumber : Jawaban.com