Pernah merasa cepat lelah padahal tidak melakukan banyak aktivitas? Atau sulit fokus meski hanya duduk di kamar sendiri? Bisa jadi penyebabnya bukan sekadar pekerjaan yang menumpuk, tetapi ruang yang juga ikut “menumpuk”. Di sinilah fenomena clutter dan declutter mulai banyak dibicarakan, terutama karena pengaruhnya yang besar terhadap kesehatan mental.
Fenomena clutter dan declutter yang berpengaruh banget buat kesehatan mental bukan sekadar tren media sosial. Banyak penelitian menunjukkan bahwa lingkungan yang penuh barang atau clutter bisa meningkatkan stres dan membuat pikiran terasa sesak.
BACA JUGA: Kebiasaan Menyalahkan Diri Sendiri yang Diam-Diam Merusak Diri
Apa Itu Clutter dan Kenapa Bisa Mengganggu Pikiran?
Clutter adalah kondisi ketika barang-barang menumpuk tanpa keteraturan. Bukan hanya soal jumlahnya yang banyak, tetapi barang-barang itu tidak lagi berguna, tidak punya tempat tetap, dan sering kali hanya memenuhi ruang.
Contoh sederhana, tumpukan baju yang sudah tidak dipakai bertahun-tahun, meja kerja penuh kertas, kabel, dan barang acak. Rak yang terlalu padat sampai sulit mencari satu benda kecil. Tanpa sadar, clutter seperti ini membuat otak terus menerima rangsangan visual. Akibatnya, fokus menurun dan tubuh lebih mudah lelah.
Beberapa studi psikologi bahkan menyebutkan bahwa ruang yang penuh clutter dapat meningkatkan hormon stres atau kortisol. Tidak heran jika orang yang hidup di ruang berantakan cenderung lebih mudah cemas dan sulit merasa tenang.
BACA JUGA: Stop main HP Saat Buang Air di Toilet Kalau Gak Mau Kena Penyakit Ini!
Lalu Apa Itu Decluttering?
Decluttering adalah proses sadar untuk mengurangi dan menata kembali barang agar ruang menjadi lebih rapi dan fungsional. Tujuannya bukan sekadar estetika, tetapi menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan mental.
Ada beberapa metode declutter yang populer.
1. Metode KonMari
Dipopularkan oleh Marie Kondo, metode ini mengajak kita bertanya pada diri sendiri, apakah barang ini masih membawa sukacita. Jika jawabannya tidak, maka barang tersebut bisa dilepaskan.
2. Metode 4 Kotak
Siapkan empat kotak dengan kategori berbeda yaitu Keep, Donate, Sell, dan Trash. Setiap barang yang kamu temukan harus langsung masuk ke salah satu kategori. Cara ini membantu proses decluttering jadi lebih cepat dan tidak menunda keputusan.
3. One In One Out Rule
Aturannya sederhana. Setiap kali membeli satu barang baru, satu barang lama harus keluar. Metode ini cocok untuk menjaga rumah tetap rapi dalam jangka panjang dan mencegah clutter kembali menumpuk.
Intinya, decluttering bukan soal menjadi minimalis ekstrem, melainkan memilih dengan sadar apa yang benar-benar dibutuhkan.
BACA JUGA: Kebiasaan Minum Kopi Bisa Bikin Gagal Ginjal, Ternyata Begini Alasannya...
Kenapa Declutter Bisa Bantu Kesehatan Mental?
Ketika clutter berkurang, pikiran ikut terasa lebih ringan. Ruang yang rapi membantu otak bekerja lebih fokus. Kita tidak lagi terganggu oleh tumpukan visual yang tidak perlu.
Decluttering juga memberi rasa nyaman. Dalam hidup yang sering terasa tidak pasti, menata ruang pribadi memberi perasaan stabil dan teratur. Banyak orang mengaku merasa lebih tenang dan produktif setelah melakukan declutter.
Dari sisi rohani, ruang yang rapi juga bisa membantu kita lebih fokus saat berdoa atau saat teduh. Lingkungan yang tertata mendukung hati yang lebih tenang untuk merenung.
Fenomena clutter dan declutter yang berpengaruh banget buat kesehatan mental sebenarnya mengingatkan kita pada satu hal penting. Apa yang kita simpan secara fisik sering kali mencerminkan apa yang kita simpan secara emosional.
BACA JUGA: Nahan Pipis, Bisa Bikin Gagal Ginjal Hingga Cuci Darah?!
Clutter bukan hanya soal barang, tetapi juga kebiasaan menunda, rasa takut melepaskan, atau kelekatan pada masa lalu. Sementara decluttering bisa menjadi latihan kecil untuk belajar melepaskan dan memberi ruang bagi hal yang lebih penting.
Pada akhirnya, declutter bukan tentang rumah yang terlihat sempurna. Tapi tentang menciptakan ruang yang mendukung kesehatan mental, produktivitas, dan hidup yang lebih ringan.
Mungkin sudah waktunya kita bertanya, bukan hanya apa yang perlu dibuang dari lemari, tetapi juga apa yang perlu dilepaskan dari pikiran.
Sumber : Jawaban.com