Sebagai orang tua, Anda pasti ingin memberikan yang terbaik bagi anak. Namun tanpa disadari, ada luka lama yang ikut terbawa dalam pola asuh sehari-hari. Luka ini bukan selalu berupa kekerasan fisik, tetapi bisa hadir dalam bentuk kata-kata, nada suara, atau cara kita merespons emosi anak. Inilah yang sering disebut sebagai trauma yang diwariskan dari generasi ke generasi.
BACA JUGA: Hai Ibu Inilah Hadiah Terbaik untuk Anak Anda Bukan Mainan atau Uang
Saat ini, banyak orang tua, terutama dari kalangan milenial dan Gen Z mulai sadar bahwa pola asuh lama tidak selalu sehat. Bentakan, ancaman, meremehkan perasaan anak, atau membuat anak merasa bersalah atas emosinya sendiri adalah contoh pola asuh toksik yang dulu dianggap normal. Padahal, pola ini bisa meninggalkan luka emosional yang panjang.
Memutus rantai trauma bukan berarti menyalahkan orang tua kita dulu. Yang terpenting adalah kesadaran bahwa kita punya pilihan untuk tidak meneruskannya. Fokus utama dari parenting sadar trauma adalah penyembuhan diri dan menciptakan keamanan emosional bagi anak. Anak perlu merasa aman untuk menjadi dirinya sendiri, termasuk saat ia sedih, marah, atau kecewa.
Cara memulainya dimulai dari Anda. Ketika anak menangis atau meluapkan emosi, cobalah berhenti sejenak dan periksa kondisi emosi Anda sendiri. Apakah Anda sedang lelah, tersinggung, atau terpicu oleh pengalaman masa lalu? Orang tua yang mampu mengatur emosinya akan jauh lebih mudah menghadirkan rasa aman bagi anak.
Alih-alih berkata, “Kamu lebay banget sih!” atau “Ah, gitu aja nangis,” Anda bisa menggantinya dengan kalimat yang lebih empatik. Misalnya, “Ayah/Ibu lihat kamu lagi sedih. Mau ditemani atau butuh waktu sendiri?” Kalimat ini mengajarkan anak bahwa perasaannya valid dan ia tidak sendirian menghadapinya.
Dampaknya sangat besar. Anak yang tumbuh dalam lingkungan aman secara emosional cenderung memiliki harga diri yang sehat. Mereka merasa diterima apa adanya, bukan hanya saat berprestasi atau berperilaku “baik”. Anak seperti ini lebih percaya diri, mampu mengenali emosinya, dan tidak takut untuk jujur pada dirinya sendiri.
BACA JUGA: 5 Alasan Pentingnya Orang Tua Memahami Bahasa Kasih Anak Agar Tercipta Hubungan yang Kuat
Namun, jujur saja, proses ini tidak mudah. Jika Anda sendiri masih membawa trauma masa lalu, mengasuh dengan cara baru bisa terasa berat. Jika Anda merasa belum pulih dari trauma, berdoalah kepada Tuhan dan mintalah pemulihan hati. Dan jika Anda ingin didukung dalam doa, hubungi Layanan Doa CBN dengan klik tombol di bawah ini. Anda tidak harus kuat sendirian. Orang tua yang mau sembuh sedang membuka jalan bagi masa depan anak yang lebih sehat.
Sumber : Jawaban.com