Jangan Menanggung Kesulitanmu Sendiri!
Kalangan Sendiri

Jangan Menanggung Kesulitanmu Sendiri!

Lori Official Writer
      78

Amsal 17:17 

"Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran." 

 

Beberapa waktu lalu, saya tercengang mendengar seorang teman yang sedang sakit berkata, “Orang gak perlu tahu kondisiku. Toh, nanti justru bikin makin pusing. Iya kalau mereka mau bantu dukung, ini malah bikin mental down.” Perkataan itu membuat saya merenung. Mungkin ia pernah mengalami respons yang tidak menyenangkan—alih-alih dikuatkan, ia justru merasa dihakimi atau didikte. Luka semacam itu bisa membuat seseorang memilih diam dan menanggung semuanya sendirian.  

Namun Firman Tuhan dalam Amsal 17: 17 mengingatkan kita bahwa rancangan Allah berbeda. Tuhan tidak menciptakan kita untuk berjalan sendiri. Ia menghadirkan sahabat dan saudara seiman yang “menaruh kasih setiap waktu” dan “menjadi saudara dalam kesukaran”. Artinya, dalam masa sulit justru kehadiran orang lain adalah bagian dari cara Tuhan bekerja memulihkan dan menguatkan kita. Jika ada orang yang gagal mengasihi dengan benar, itu bukan berarti kita menutup pintu bagi semua dukungan. 

Ketika seseorang menolak meminta pertolongan karena takut dihakimi, ia sebenarnya sedang menutup akses terhadap kasih yang Tuhan sediakan melalui komunitas. Tidak sedikit orang yang memilih memendam pergumulan berakhir dalam keputusasaan yang mendalam. Sebaliknya, ketika kita membuka diri kepada saudara seiman yang tepat, kita memberi ruang bagi Tuhan untuk menguatkan melalui doa, pelukan, dan kehadiran yang tulus. 

Sebagai orang percaya, kita juga dipanggil untuk menjadi sahabat seperti yang digambarkan dalam Amsal. Bukan sahabat yang mendikte atau menggurui, tetapi yang hadir, mendengar, dan menopang. Jangan sampai sikap kita justru menghalangi aliran kasih dan penghiburan Tuhan bagi mereka yang sedang terpuruk. Terkadang, yang dibutuhkan bukan nasihat panjang, melainkan telinga yang mau mendengar dan hati yang mau memahami. 

Minta tolong bukan tanda kelemahan. Justru itu adalah keberanian untuk mengakui bahwa kita membutuhkan tubuh Kristus. Dan menjadi penolong yang penuh kasih adalah kehormatan, karena melalui kita Tuhan menghadirkan harapan bagi sesama.   

 

Refleksi Pribadi: 

1. Apakah saya sedang memendam pergumulan karena takut dianggap lemah? 

2. Siapa sahabat rohani yang bisa saya percaya untuk berbagi dan berdoa bersama? 

3. Ketika orang lain datang kepada saya dalam kesulitan, apakah saya hadir dengan kasih atau dengan penghakiman? 

Ikuti Kami