Seorang Ayah di Pekanbaru Bangkit dari Kecemasan dan Pulihkan Hubungan Keluarga
Sumber: Jawaban.com

Impact Story / 13 February 2026

Kalangan Sendiri

Seorang Ayah di Pekanbaru Bangkit dari Kecemasan dan Pulihkan Hubungan Keluarga

Aprita L Ekanaru Official Writer
2433

“Kalau anak-anak berbicara, saya memilih pergi. Pikiran saya kosong dan saya tidak peduli apa pun.”

Pernyartaan di atas menggambarkan kondisi terendah yang pernah dialami Bapak Eka Kurnia Hermansyah, seorang ayah tiga anak yang tinggal di Pekanbaru dan merupakan jemaat GBI API Pemulihan. Dalam perjalanan hidupnya, ia harus menghadapi pergumulan berat berupa kecemasan berlebihan yang berlangsung sekitar satu setengah tahun dan sangat memengaruhi perannya sebagai ayah dan suami. 

Kecemasan tersebut membuat Bapak Eka menarik diri dari lingkungan sekitar, bahkan dari keluarganya sendiri. Ia tidak mampu berkomunikasi dengan anak-anaknya, menghindari interaksi sosial, dan merasa takut berada di tempat ramai. Aktivitas sederhana seperti mengantar anak ke sekolah pun menjadi hal yang mustahil baginya. Akibat kondisi ini, perhatian terhadap anak-anak berkurang drastis, terutama pada masa penting pertumbuhan anak sulungnya.

Pergumulan yang dialami Bapak Eka tidak terlepas dari perjalanan hidupnya di masa lalu. Ia pernah mengambil keputusan besar untuk meninggalkan kebiasaan buruk secara total. Keputusan tersebut menjadi titik balik hidupnya, namun juga membawa dampak pada kesehatan fisik dan mental. Emosi yang sulit dikendalikan, gangguan kecemasan, serta masalah kesehatan lain menjadi tantangan yang harus ia hadapi hari demi hari.

Perubahan mulai terlihat ketika Bapak Eka bersama istrinya mengikuti The Parenting Project. Melalui program ini, ia belajar kembali tentang arti kebersamaan dalam keluarga, pentingnya komunikasi yang sehat, serta bagaimana membangun relasi yang benar dengan anak-anak. Ia mulai mempraktikkan hal-hal sederhana namun bermakna, seperti mengajak anak bermain, meluangkan waktu untuk berbicara, dan belajar merespons anak dengan lebih sabar.

Salah satu langkah penting yang menjadi titik pemulihan hubungan adalah ketika Bapak Eka dengan rendah hati meminta maaf kepada anak-anaknya. Ia menjelaskan kondisi yang selama ini ia alami dengan jujur dan terbuka. Respons anak-anak yang penuh pengertian justru menjadi kekuatan baru baginya untuk terus berproses dan tidak menyerah.

Kini, meskipun proses pemulihan masih berjalan, Bapak Eka merasakan perubahan nyata dalam keluarganya. Komunikasi dengan anak semakin terbuka, kehangatan mulai kembali terbangun, dan ia tidak lagi sepenuhnya dikuasai oleh kecemasan. Kesaksian hidupnya menjadi pengingat bahwa pemulihan keluarga membutuhkan proses, keterbukaan, dan kesediaan untuk belajar. Ia berharap kisah ini dapat menguatkan para orang tua lain bahwa tidak ada kata terlambat untuk bangkit dan memulihkan peran dalam keluarga.

Sumber : Jawaban.com
Halaman :
1

Ikuti Kami