Menjaga Batas yang Sehat dalam Hubungan
Kalangan Sendiri

Menjaga Batas yang Sehat dalam Hubungan

Lori Official Writer
      153

Amsal 4:23

“Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.”

 

Kita diciptakan sesuai dengan rancangan Tuhan—untuk mengasihi orang-orang yang Dia percayakan dalam hidup kita dan menyelesaikan setiap tugas yang Dia berikan. Kehidupan kita akan berbuah dan bermakna ketika kita hidup sesuai dengan tujuan yang jelas dan mengerjakannya bersama orang-orang yang saling mendukung. 

Namun dalam kenyataannya, perjalanan itu tidak selalu mudah. Salah satu tantangan terbesar sering kali datang dari hubungan itu sendiri. Mungkin itu dalam relasi antara pemimpin dan bawahan, sesama rekan kerja, mitra pelayanan, atau bahkan antar pemimpin, kualitas hubungan sangat memengaruhi kualitas hidup dan pekerjaan kita. 

Relasi yang tidak sehat dapat menguras energi, mengalihkan fokus, menimbulkan kekecewaan, bahkan melukai emosi. Tanpa disadari, kita bisa kehilangan semangat dan arah hanya karena membiarkan dinamika hubungan yang salah terus berlangsung. Banyak dari kita pernah merasakannya—dan kita tahu itu bukan kondisi yang ideal. 

Alkitab sebenarnya memberikan solusi yang sederhana namun mendalam supaya menjadi pribadi yang mampu menetapkan batas yang sehat. Batas adalah garis yang jelas antara tanggung jawab kita dan tanggung jawab orang lain. Batas menolong kita memahami di mana peran kita dimulai dan di mana peran orang lain seharusnya berjalan. Dengan batas yang sehat, kita dapat mengelola waktu, tenaga, sumber daya, bahkan emosi dengan bijaksana. 

Batas juga membantu kita menentukan kapan harus berkata “ya” dan kapan perlu berkata “tidak”. Sayangnya, tidak sedikit orang merasa bersalah ketika menetapkan batas. Ada anggapan bahwa membatasi diri berarti tidak mengasihi atau bersikap egois. Padahal, menjaga batas justru merupakan bentuk tanggung jawab atas hidup yang Tuhan percayakan kepada kita.  

Menetapkan batas bukan berarti menjauh dari orang lain, melainkan menjaga hati agar tetap sehat sehingga kita dapat terus mengasihi dan menjalani panggilan Tuhan dengan benar. 

Amsal 4: 23 menegaskan, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” Ayat ini menunjukkan bahwa hati adalah pusat hidup kita—tempat nilai, pikiran, perasaan, dan keputusan terbentuk. Ketika hati terganggu, lelah, atau terluka, seluruh arah hidup kita ikut terpengaruh. Tidak jarang kita kehilangan semangat karena membiarkan orang lain terlalu jauh menguras waktu, tenaga, dan emosi kita. 

Karena itu Firman Tuhan berkata, “di atas segalanya” dan “jagalah”. Ini adalah prioritas dan tanggung jawab. Menjaga berarti melindungi secara aktif, termasuk dengan menetapkan batas yang sehat. Berkata “tidak”, membuat keputusan tegas, atau membatasi akses tertentu bukanlah tindakan egois, melainkan bentuk pengelolaan yang bijaksana atas hidup yang Tuhan percayakan. 

Batas yang jelas dan penuh kasih menolong kita tetap berjalan dalam panggilan Tuhan tanpa kehilangan arah. Hari ini, mintalah hikmat Tuhan untuk menunjukkan batas apa yang perlu kamu tetapkan agar hatimu tetap sehat dan hidupmu tetap selaras dengan kehendak-Nya. 

 

Momen Refleksi:  

Apakah kamu memberi akses terlalu besar kepada orang yang menghambat tujuan dan panggilan Tuhan dalam hidupmu? 

Ikuti Kami