Dari Pernikahan yang Penuh Luka Menuju Pelukan Kasih Tuhan yang Memulihkan
Sumber: Jawaban.com

Impact Story / 11 February 2026

Kalangan Sendiri

Dari Pernikahan yang Penuh Luka Menuju Pelukan Kasih Tuhan yang Memulihkan

Lori Official Writer
2592

Perjalanan hidup Ibu Retno (56 tahun) ibarat sebuah cerita yang diawali dari satu keputusan besar keluarganya hingga membawanya pada babak yang tak pernah ia bayangkan seumur hidupnya yaitu mengarungi bahtera pernikahan dengan sosok laki-laki yang tak pernah ia cintai.

Di masa setelah lulus SMA, ibu Retno harus menjalani perjodohan dengan laki-laki yang tak pernah ia cintai. Keputusan ini terjadi karena orangtuanya kuatir dengan pergaulannya yang dikelilingi lebih banyak anak laki-laki.  Ia pun dijodohkan dan menikah dengan seorang angkatan. Namun pernikahan ini justru jauh dari kata bahagia - tak ada benih cinta, juga tak ada perlindungan yang selayaknya ia dapatkan sebagai istri selain tekanan emosional, kekerasan dan beban finansial.

Di tengah pernikahan yang penuh luka itu, Ibu Retno kembali menjalin hubungan dengan seorang teman lama semasa SMA. Hubungan tersebut berujung pada pernikahan siri, dan dari hubungan itulah lahir seorang anak. Namun luka kembali terulang. Pria yang dinikahi secara siri justru menikah resmi dengan perempuan lain dan terus terjebak dalam perselingkuhan. Hubungan itu pun tidak mendapat restu orang tua dan akhirnya berakhir.

Rangkaian peristiwa ini membuat Ibu Retno berada di titik terendah hidupnya. Ia merasa gagal, berdosa, dan jauh dari Tuhan. Dalam keputusasaan, ia sempat meninggalkan imannya, mengikuti ibadah agama lain, aktif dalam pengajian, bahkan mencari pertolongan lewat dukun—semua dilakukan karena kerinduannya yang besar untuk dipulihkan dan mendapatkan ketenangan batin. Namun damai sejahtera yang ia cari tak pernah benar-benar ia temukan.

 

Baca Juga: Pemulihan Hidup Petrus dari Titik Paling Gelap

 

Saat Tuhan Mengetuk Pintu

Pada tahun 2024, Tuhan mulai mengetuk pintu hatinya dengan cara yang sederhana namun penuh makna. Suatu hari, ia menyaksikan tayangan kesaksian di Solusi TV melalui YouTube, tentang Jonathan—seorang transgender yang bertobat dan dipulihkan oleh kasih Tuhan Yesus. Kesaksian itu menyentuh hatinya begitu dalam.

“Kalau Tuhan bisa mengampuni dan memulihkan hidupnya,” pikir Ibu Retno, “mungkin Tuhan juga masih mau menerima saya.”

Dengan hati yang gemetar namun penuh harap, pada 26 Mei 2024, Ibu Retno menghubungi Layanan Doa CBN melalui WhatsApp. Dalam percakapan awal, ia dengan jujur mengungkapkan rasa bersalah, ketakutan, dan kerinduannya untuk hidup normal—tanpa terus dihantui masa lalu.

Melalui bimbingan yang ia terima, Ibu Retno kembali diingatkan bahwa kasih Tuhan tidak pernah berhenti, sekalipun manusia pernah jatuh sangat dalam. Ia dikuatkan oleh firman Tuhan: “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” (1 Yohanes 1:9)

Ia terus diarahkan untuk mengerti bahwa keselamatan bukanlah hasil usaha manusia, melainkan anugerah Allah melalui pengorbanan Yesus Kristus (Efesus 2:8–9).

Hari itu menjadi momen penting dalam hidup Ibu Retno. Dengan hati yang hancur namun penuh pengharapan, ia dibimbing untuk mengaku dosa, bertobat, dan menerima kembali Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya, berpegang pada janji Firman Tuhan.

Setelah didoakan, Ibu Retno merasakan kelegaan dan damai sejahtera yang belum pernah ia alami sebelumnya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, hatinya terasa ringan.

 

Baca Juga: Dari Kekosongan Hati Menuju Damai Sejahtera dalam Yesus

 

Benih Transformasi Tuhan Mulai Tumbuh

Sejak saat itu, Ibu Retno terus mendapatkan pendampingan rohani melalui Layanan Doa CBN. Ia menerima doa, renungan harian, dan penguatan iman secara rutin. Perlahan namun pasti, perubahan nyata mulai terjadi.

Ia belajar mengampuni—bukan hanya orang-orang yang telah menyakitinya, tetapi juga dirinya sendiri. Ketakutan yang dulu menguasai hidupnya digantikan dengan ketenangan dan pengharapan baru. Ia kini berani menyatakan imannya bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan.

Pemulihan itu juga berdampak pada keluarganya. Anak-anaknya mulai menunjukkan perubahan positif, khususnya anak bungsunya yang kini bertumbuh dengan iman yang kuat, menjadi berkat di sekolah, dan menunjukkan prestasi yang membanggakan. Dalam hal ekonomi, Ibu Retno menyaksikan pertolongan Tuhan yang ajaib—di saat-saat sulit, selalu ada jalan yang Tuhan bukakan tepat pada waktunya.

Sebagai respons atas kasih Tuhan yang ia terima, Ibu Retno pun mulai melayani di gereja tempat ia berjemaat, GPDI. Ia terlibat sebagai usher dan kolektan—dari seorang yang dulu merasa tidak layak, kini ia melayani dengan hati penuh syukur.

Hari ini, Ibu Retno dengan berani bersedia membagikan kepingan cerita di masa lalunya tentang bagaimana pribadi yang dulunya kompromi dalam dosa telah kembali menjadi pribadi yang merasa diterima dan dikasihi Tuhan. 

Berkat cara Tuhan yang tak terselami, Ibu Retno bisa menemukan jalan menuju kedamaian dan ketenangan hati.

Ibu Retno adalah salah satu dari ribuan jiwa yang Anda jangkau melalui tayangan-tayangan media CBN Indonesia yang selama ini Anda dukung. Namun masih banyak orang yang rindu akan kasih Tuhan. Mari terus menjangkau melalui media online bersama CBN Indonesia.

 

YUK DONASI SEKARANG  

Halaman :
1

Ikuti Kami