Pernikahan Kristen bukan sekadar status, tetapi perjanjian kudus di hadapan Allah. Karena itu, ketika perceraian terjadi, banyak orang percaya diliputi pertanyaan, rasa bersalah, bahkan kebingungan tentang "bolehkah orang yang bercerai menikah lagi?" Jawabannya perlu dilihat dari kebenaran firman Tuhan, bukan dari opini manusia, tren media sosial, atau contoh tokoh tertentu.
BACA JUGA: Melaney Ricardo: "Pernikahan Itu Nggak Mudah, Harus Diusahakan"
Alkitab menegaskan bahwa pernikahan pada dasarnya adalah satu pria dan satu wanita, seumur hidup, dan hanya maut yang memisahkan. Yesus berkata bahwa apa yang dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia. Tuhan juga menyatakan bahwa Ia membenci perceraian. Ini menunjukkan kehendak Allah yang sempurna: pernikahan dipelihara dalam kesetiaan, pengampunan, dan pertumbuhan karakter.
Namun di sisi lain, kenyataan hidup tidak selalu ideal. Perceraian tetap terjadi bahkan di antara orang percaya. Yesus pernah menjelaskan bahwa perceraian muncul karena kekerasan hati manusia, bukan karena itu rancangan Allah. Karena itu, pembahasan tentang menikah lagi setelah bercerai perlu kehati-hatian.
Ada prinsip yang umumnya dipegang dalam Alkitab. Pertama, menikah lagi diperbolehkan jika pasangan telah meninggal, karena ikatan pernikahan berakhir oleh maut. Kedua, dalam ajaran Yesus ada pengecualian terkait “zina”. Banyak penjelasan menyoroti bahwa kata yang dipakai mengarah pada kerusakan seksual yang menjadi pola hidup dan tanpa pertobatan, bukan sekadar jatuh dalam dosa sekali lalu dijadikan alasan untuk memutuskan pernikahan. Itu sebabnya, keputusan seperti ini perlu pendampingan rohani dan penyelidikan yang bijaksana.
Selain itu, Alkitab juga membahas kasus ketika seorang percaya diceraikan oleh pasangan yang tidak beriman karena tetap setia kepada Kristus. Dalam situasi tertentu, orang percaya itu disebut “tidak terikat” dan dipanggil hidup dalam damai sejahtera. Ada pula kasus perceraian yang terjadi sebelum seseorang mengenal Tuhan, lalu setelah hidup baru di dalam Kristus, diperlukan tuntunan pastoral untuk menilai langkah yang paling benar dan membangun.
BACA JUGA: Bukan Perselingkuhan, Ternyata Inilah Penyebab Perceraian Tertinggi di Indonesia
Apa pun kondisinya, satu hal penting, bahwa perceraian hampir selalu membawa dampak besar secara rohani, emosional, sosial, dan sangat sering melukai anak. Karena itu, bila saat ini pernikahan sedang berada di ujung tanduk, jangan merasa sendirian.
Bila Anda sedang mengalami masalah dalam pernikahan dan terfikir untuk bercerai, Anda butuh seseorang untuk mendukung dalam doa. Hubungi Layanan Doa CBN agar Anda dikuatkan, dituntun, dan menerima pengharapan untuk melangkah dalam terang firman Tuhan.
Sumber : Jawaban.com