Di zaman ketika kesuksesan sering diukur dari angka, followers, omzet, dan aset, banyak orang merasa harus terus mengejar lebih. Promosi jabatan, buka bisnis, beli rumah, investasi, semua terlihat seperti daftar wajib agar dianggap berhasil.
Tidak sedikit juga orang Kristen yang akhirnya menyamakan “berkat Tuhan” dengan “saldo bertambah”. Akibatnya, saat hidup sedang seret, muncul rasa bersalah, seolah-olah iman kurang kuat atau Tuhan sedang menjauh.
Pertanyaan inilah yang dibahas secara jujur dan terbuka dalam podcast Cahaya Bagi Negeri bersama Pdt. Dr. Johan Lumoindong.
Sukses Menurut Alkitab
Dalam podcast Cahaya Bagi Negeri, Pdt. Dr. Johan Lumoindong mengajak kita menata ulang cara memandang sukses, karier, dan kekayaan.
Salah satu kalimat yang cukup menohok adalah ketika beliau menegaskan bahwa keberhasilan tidak bisa dijadikan ukuran tunggal seseorang dikenan Tuhan.
“Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa kesuksesan atau kekayaan adalah satu-satunya standar keberhasilan seseorang di hadapan Tuhan,” ujarnya.
Lalu beliau membawa kita ke Mazmur 1 yang berbicara tentang “berbahagialah orang” yang menjaga langkah, telinga, dan pergaulan. Intinya sederhana, sukses menurut Alkitab dimulai dari arah hidup, bukan sekadar hasil yang bisa dilihat saja.
Ambisi Itu Perlu, Asal Tidak Berlebihan
Menariknya, podcast ini tidak menghakimi ambisi. Justru sebaliknya. “Ambisi itu wajar dan perlu,” kata Pdt. Johan. Ambisi diperlukan agar seseorang mau bertumbuh, bekerja keras, dan bertanggung jawab.
Namun, ambisi juga perlu dikendalikan. Jika berlebihan, ambisi bisa membuat seseorang menjauh dari Tuhan, keluarga, dan nilai-nilai yang benar.
Di sinilah keseimbangan menjadi kunci, antara dorongan untuk maju dan kesadaran untuk tetap bergantung kepada Tuhan.
Tuhan Tidak Anti Kemakmuran
Pdt. Johan menyebut Ayub sebagai contoh bahwa hidup diberkati bukan hal yang dilarang. “Tuhan tidak anti kemakmuran,” tegasnya.
Tetapi beliau memberi catatan penting bahwa berkat bukan tujuan akhir orang percaya. Orang yang diberkati juga dipanggil menjadi berkat bagi orang lain.
Bagaimana dengan Budaya Flexing di Media Sosial?
Beliau memberi pembeda yang jelas. “Bersaksi itu berbeda dengan memamerkan,” katanya. Kesaksian bertujuan memuliakan Tuhan, sementara pamer cenderung meninggikan diri.
Masih banyak bagian yang lebih tajam dan praktis, termasuk soal mendidik anak di tengah arus materialisme, dan cara menjaga hati tetap tenang saat tekanan datang.
Kalau kamu sedang bergumul dengan definisi sukses, ambisi, dan berkat, kamu perlu dengar pembahasan lengkapnya. Tonton podcast full-nya di YouTube Cahaya Bagi Negeri dan ambil pelajaran yang relevan untuk kehidupan sehari-hari.
Sumber : YouTube Cahaya Bagi Negeri