Banjir dan longsor yang melanda Aceh dan Sumatera Utara bukan hanya menyapu rumah, jalan, dan fasilitas umum. Di balik puing-puing bangunan dan lumpur yang masih tertimbun, ada duka kehilangan lain yang sering luput dari perhatian yaitu pendidikan anak-anak yang terhenti, terbatas dan tidak nyaman.
Sekolah—ruang aman bagi anak untuk belajar, bertumbuh, dan bermimpi—berubah menjadi bangunan penuh lumpur, rusak total dan digantikan dengan tenda darurat sementara yang sangat terbatas. Bagi ribuan anak, bencana ini bukan sekadar peristiwa alam, melainkan titik balik yang menentukan masa depan mereka.
Fakta di Lapangan: Skala Dampak yang Massive
Berdasarkan data Kementerian Pendidikan per 15 Januari 2026, sedikitnya 4.000-an sekolah dari jenjang PAUD hingga SMA terdampak banjir dan longsor di Aceh dan Sumatera Utara. Dampaknya tidak kecil—576.905 siswa terancam tidak dapat mengakses pendidikan secara layak.
Dua bulan setelah bencana, sebagian sekolah memang sudah mulai beroperasi kembali. Namun kenyataannya, lebih dari 30% sekolah mengalami rusak berat hingga rusak total, memaksa proses belajar mengajar berlangsung di ruang darurat dengan fasilitas yang sangat terbatas.
Potret Pendidikan Darurat di Aceh dan Sumatera Utara

Banjir Merusak sekolah dan fasilitas belajar
Kondisi Sekolah di Aceh
Bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh meninggalkan dampak serius terhadap sektor pendidikan. Sebanyak 2.805 sekolah dari jenjang PAUD hingga SMA terdampak, membuat 362.617 anak terancam kehilangan akses belajar yang layak. Dari total sekolah yang ada, tercatat 965 sekolah (34%) mengalami rusak berat dan 165 sekolah (6%) rusak total. Situasi ini memaksa siswa harus mengikuti proses belajar di tenda-tenda darurat atau menumpang di gedung lain yang terbatas secara fasilitas.
Dampak kehilangan ruang sekolah paling besar dirasakan pada jenjang PAUD dan Sekolah Dasar, sebagai fondasi awal pembentukan karakter dan kemampuan belajar anak.
Dampak pada Jenjang PAUD
• 976 sekolah PAUD terdampak
• 36.026 siswa kehilangan ruang belajar yang layak
• 2.964 guru turut terdampak dalam proses pembelajaran
Dampak pada Jenjang Sekolah Dasar (SD)
• 1.027 sekolah SD terdampak
• 166.360 siswa terpengaruh langsung
• 14.460 guru harus mengajar dalam kondisi darurat
Kondisi Sekolah di Sumatera Utara
Bencana banjir dan longsor yang melanda Sumatera Utara juga membawa dampak besar terhadap dunia pendidikan. Tercatat 1.261 sekolah dari jenjang PAUD hingga SMA terdampak, dengan 214.288 anak terancam kehilangan akses belajar yang layak. Di tengah proses pemulihan yang berjalan, kondisi kerusakan sekolah masih menjadi tantangan serius—sebanyak 211 sekolah (17%) mengalami rusak berat dan 7 sekolah (1%) rusak total.
Dampak ini paling terasa pada jenjang pendidikan paling rentan, yaitu PAUD dan Sekolah Dasar.
Dampak pada Jenjang PAUD
• 235 sekolah PAUD terdampak
• 7.956 siswa kehilangan ruang belajar yang layak
• 612 guru turut terdampak dalam proses pembelajaran
Dampak pada Jenjang Sekolah Dasar (SD)
• 663 sekolah SD terdampak
• 95.288 siswa kehilangan ruang belajar yang layak
• 7.475 guru turut terdampak dalam proses pembelajaran
Meskipun pemerintah, secara khusus kementerian Pendidikan telah melakukan berbagai upaya...
Baca di Halaman Berikutnya -->
pemulihan pendidikan pasca bencana, namun ada begitu banyak kebutuhan yang mendesak untuk segera dipenuhi.
Berikut Kebutuhan Pemulihan Pendidikan di Aceh dan Sumatera Utara
Di balik ribuan sekolah yang terdampak bencana banjir dan longsor, terdapat kebutuhan mendesak yang sangat menentukan proses pendidikan anak-anak di Aceh dan Sumatera Utara, diantaranya:
1. School Kit (Perlengkapan Sekolah)
Total kebutuhan: 160.111 paket
Sudah tersalurkan: 27.000 paket
Tersedia 2026: 23.120 paket
Masih kurang: 109.991 paket
2. Ruang Kelas Darurat (RKD)
Total kebutuhan: 381 unit
Sudah tersedia: 204 unit
Masih kurang: 177 unit
3. Dana Operasional Pendidikan Darurat
Total kebutuhan: 4.594 sekolah
Masih kurang: 310 sekolah
Kebutuhan dana: ± Rp620 juta
4. Tunjangan Guru Terdampak Bencana
Total guru terdampak: 56.882 orang
Masih belum terjangkau: 40.443 guru
Kebutuhan dana: ± Rp221,3 miliar
5. Dukungan Psikososial
Total kebutuhan: 1.280 sekolah
Sudah terlaksana: 680 sekolah
Sisanya akan dilanjutkan terintegrasi di semester genap 2026

Pendidikan Darurat: Lebih dari Sekadar Belajar
Melalui Surat Edaran Mendikdasmen No. 1 Tahun 2026, pembelajaran darurat dirancang dalam tiga fase—tanggap darurat, pemulihan dini, hingga pemulihan lanjutan. Fokusnya bukan hanya akademik, tetapi juga kesehatan mental, rasa aman, dan ketahanan anak menghadapi trauma bencana.
Namun, semua strategi ini membutuhkan satu hal yang tidak bisa ditunda yaitu ruang belajar yang layak dan aman sekarang juga!
Saatnya Kita Hadir Bersama!
Sebagai dukungan awal di tengah situasi krisis, CBN Indonesia, melalui pelayanan kemanusiaan Obor Berkat Indonesia, telah menyalurkan bantuan tanggap darurat kepada lebih dari 28.528 korban terdampak banjir dan longsor di Aceh dan Sumut.
Kini, langkah berikutnya adalah membangun Sekolah Darurat—agar anak-anak tidak kehilangan waktu belajar, harapan, dan masa depan mereka. Hari ini, Anda diundang untuk tidak hanya tahu situasi dan kondisi di sana, tetapi juga terpanggil untuk ikut ambil bagian.
Mulai Februari 2026, kami akan melanjutkan bantuan dengan menyediakan ruang belajar sementara yang aman dan layak di 4 titik terdampak, yang diantaranya kami akan memulai pembangunan 1 sekolah darurat di SD Negeri Pagar Honas, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara dan 1 lainnya di SD Negeri Alur Jambu, Aceh Tamiang.
Namun perjuangan ini belum selesai. Kami masih membutuhkan dukungan untuk membangun 2 Sekolah Darurat lainnya, tempat ribuan anak masih belajar di tengah keterbatasan.
Melalui doa, kepedulian, dan uluran tangan Anda, satu ruang kelas bisa berdiri. Satu sekolah bisa kembali hidup. Dan satu anak bisa kembali bermimpi. Karena ketika kita menolong satu anak untuk kembali belajar, kita sedang menjaga satu masa depan tetap hidup.
Hubungi kami untuk informasi selengkapnya di nomor kontak Admin OBI: 0818 9000 43