Dikenal sebagai pemain FTV dan sinetron dengan senyum yang sering menghiasi layar kaca, Shanice Margaretha (29 tahun) ternyata menyimpan kisah hidup yang tidak banyak orang tahu.
Di balik kariernya di dunia hiburan, ada perjalanan panjang yang dipenuhi luka, kehilangan, dan pergumulan iman sejak usia yang sangat muda.
“Ngapain hidup ya?”
Kalimat itu diucapkan Shanice saat berbincang di podcast Superyouth. Pertanyaan yang keluar dari luka yang begitu dalam yang Shanice alami masih duduk di bangku SMP.
TITIK TERENDAH SHANICE MARGARETHA
Shanice yang saat itu masih berusia belasan tahun, haru menanggung beban yang begitu besar untuk remaja seusianya. Orang tuanya bercerai. Papanya bangkrut dan mengalami kecelakaan parah.
Bahkan sebelum perceraian itu terjadi, Shanice harus menyaksikan pengalaman traumatis yang membekas seumur hidup, ketika mamanya sempat mencoba mengakhiri hidup di kamar miliknya sendiri.
Sebagai remaja, Shanice benar-benar merasa sendirian. Ia memiliki saudara tiri, tetapi jarak usia dan kehidupan membuat mereka tidak dekat. Ia juga tidak merasa memiliki tempat di keluarga besar, baik dari pihak papa maupun mama. Di sekolah, kondisinya tidak lebih baik. Shanice justru dibully karena latar belakang keluarganya.
“Aku sendiri. Dan enggak bisa aku salahkan siapa-siapa. Papa mamaku juga lagi struggling. Aku mau ngapain lagi, Tuhan?” katanya.
Di titik itu, Shanice tidak melihat alasan apapun untuk bertahan hidup. Masalah datang bertubi-tubi dan membuatnya kehilangan motivasi untuk hidup.
“I wanna end my life saat itu. Aku marah, marah banget. Kok keadaannya kayak gini? Kok Tuhan biarin? Kan Tuhan punya power buat ubah, kenapa enggak diubahin?” cerita Shanice kepada tim Superyouth.
“Kenapa Tuhan biarin ini semua terjadi? Aku enggak punya siapa-siapa. You left me behind, God,” lanjut Shanice mengungkapkan keputusasaan yang ia hadapi saat itu.
Shanice ingin bercerita kepada orang tuanya, tetapi tidak sanggup. Bukan karena tidak mau, melainkan karena ia tahu papa dan mamanya juga sedang berjuang dengan luka mereka masing-masing. Shanice memilih memendam semuanya sendirian.
PERNAH MAU NINGGALIN TUHAN?
Ketika ditanya apakah ia pernah ingin meninggalkan Tuhan, jawabannya tegas. TIDAK.
Shanice dengan jujur mengungkapkan kemarahannya tanpa ada keinginan untuk meninggalkan Tuhan. Katanya, “Aku marah sama keadaan, tapi aku mau pulang (menyelesaikan hidupnya,” ungkapnya.
APA YANG MEMBUAT SHANICE BERTAHAN SAMPAI SAAT INI?
Ia percaya, salah satu alasan ia bisa bertahan adalah karena sejak kecil ia mengenal Tuhan. “Aku selalu ingat cerita tentang perjalanan Tuhan sampai akhirnya Dia disalibkan. Itu terekam di pikiranku. Tapi hatiku marah.”
Dari situ Shanice belajar bahwa jarak paling jauh di dunia bukanlah suatu tempat, melainkan hati dan pikiran. “Setelah dewasa aku baru sadar, kalau aku enggak ngelewatin semua itu, aku enggak akan punya cara pandang yang aku punya sekarang.”
“Aku berdoa, ‘Tuhan, pakai aku. Aku mau jadi muridnya Tuhan.’ Terus sekarang, pas lagi dibentuk, kok marah? Pas diamplas, kok marah? Diamplas memang sakit. Sampai akhirnya menjadi halus, dan punya nilai jual kan perlu diproses. Nah balik lagi, berarti Tuhan gak ninggalin aku. Tuhan lagi proses aku,” lanjutnya.
TITIK BALIK KEHIDUPAN SHANICE MARGARETHA
Titik baliknya datang ketika Shanice menyadari satu hal penting. “Papa mama pisah itu bukan salah Shanice. Itu bukan pilihanku. Tapi aku punya pilihan. Do you wanna make it or do you wanna break it?”
Shanice membagikan, ketika mengalami pergumulannya, ia teringat akan kisah Ayub.
“Iblis bisa mencobai, tapi enggak bisa menyentuh nyawa kita. Dan fungsinya iman kita adalah untuk membuktikan bahwa Iblis bisa mencobai dan Tuhan mengizinkannya, tetapi aku tidak akan pernah jatuh tersungkur,” ucap Shanice dengan bangga.
Kisah lengkap perjalanan hidup Shanice Margaretha, termasuk detail yang belum banyak diketahui publik, dibagikan secara utuh dalam podcast Superyouth. Podcast ini menjadi yang pertama bagi Shanice untuk membuka cerita hidupnya.
Jika saat ini Anda sedang berada di titik terendah, memikul pergumulan yang terasa terlalu berat, bahkan sempat berpikir untuk mengakhiri hidup seperti yang pernah Shanice alami, ketahuilah bahwa Anda tidak sendirian.
Ada orang-orang yang rindu berjalan bersama Anda, mendengarkan tanpa menghakimi, dan menopang Anda dalam doa. Layanan Doa CBN siap mendukung dan mendoakan Anda dengan penuh kasih.
Hubungi Layanan Doa CBN di 0822-1500-2424 sekarang. Hidup Anda berharga, dan selalu ada harapan.
Sumber : YouTube Superyouth