Mendesak! Intoleransi Masih Merajalela, Hak Beribadah Dibatasi Aturan yang Bermasalah?
Sumber: Cahaya Bagi Negeri Youtube

Milenial / 12 January 2026

Kalangan Sendiri

Mendesak! Intoleransi Masih Merajalela, Hak Beribadah Dibatasi Aturan yang Bermasalah?

Aprita L Ekanaru Official Writer
1446

Viral di media sosial, aksi pengerusakan rumah doa di Desa Tangkil, Cidahu, kembali mencoreng wajah toleransi Indonesia. Peristiwa ini bukanlah yang pertama dan, sayangnya, mungkin bukan yang terakhir. Dalam podcast Cahaya Bagi Negeri, Sahat Martin Philip Sinurat dari Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (Gamki) membongkar akar persoalan intoleransi yang sistemik.

“Bagaimana kita bisa katakan negara kita negara Pancasila? Kalau hak kita yang paling hakiki saja, kita harus minta izin orang lain untuk beribadah,” tegas Sahat, menyoroti sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa yang seolah dikalahkan oleh aturan teknis.

 

Diskusi ini mengungkap fakta mencengangkan:

Regulasi Bermasalah: Peraturan Bersama Menteri (PBM) tentang rumah ibadah dianggap menjadi biang keladi, di mana pembangunan tempat ibadah mensyaratkan izin 60 warga sekitar yang berbeda agama. Aturan ini dinilai mempersulit dan mendiskriminasi hak paling dasar.

Pembiaran Aparat: Seringkali, ketika terjadi intimidasi atau persekusi, pemerintah daerah enggan mengambil sikap tegas membela kelompok yang terdampak, cenderung diam demi alasan politik.

Dampak Nyata pada Anak: Kisah pilu dialami anak-anak SD di Padang yang tidak mendapat guru agama Kristen di sekolah. Saat mereka belajar di sebuah rumah doa, justru diintimidasi dan dipukuli oleh sekelompok orang. Wapres Gibran pun turun tangan, namun apakah perubahan berjalan sustain?

Fenomena "No Viral, No Justice": Banyak kasus hanya ditangani serius setelah viral di media sosial. Tanpa sorotan publik, ketidakadilan sering dibiarkan berlalu.

Sahat juga membagikan langkah konkret yang dilakukan Gamki, termasuk mengkaji ulang untuk kembali mengajukan judicial review terhadap PBM bermasalah tersebut ke Mahkamah Agung. Ia menegaskan, perjuangan ini bukan hanya untuk umat Kristen, tetapi untuk semua warga negara yang hak konstitusionalnya terancam.

“Kita yang mayoritas toleran jangan diam. Ayo bersuara,” ajaknya, mengajak seluruh elemen masyarakat, terutama generasi muda, untuk aktif menjaga kebhinekaan dan melawan segala bentuk intoleransi.

Masih banyak pembahasan mendalam lainnya:

  • Bagaimana seharusnya sikap gereja dan umat Kristen menyikapi isu ini?
  • Strategi apa saja yang bisa dilakukan di tingkat akar rumput?
  • Bagaimana menjaga prinsip kasih dan keadilan di tengah gempuran ujaran kebencian di media sosial?

Temukan analisis lengkap, data lapangan, dan solusi yang ditawarkan oleh Sahat Martin Philip Sinurat dalam percakapan seru ini.

Jangan lewatkan insight pentingnya! Tonton video selengkapnya di bawah ini.

Sumber : Cahaya Bagi Negeri Youtube
Halaman :
1

Ikuti Kami