Pertanyaan tentang poligami sering muncul di tengah umat percaya, terutama karena Alkitab mencatat beberapa tokoh Perjanjian Lama yang memiliki lebih dari satu istri. Hal ini menimbulkan kebingungan, jika poligami pernah dilakukan oleh tokoh Alkitab, apakah itu berarti poligami sesuai dengan rancangan Allah?
Untuk menjawabnya, Alkitab perlu dibaca secara utuh dan konsisten, mulai dari rancangan penciptaan hingga ajaran Perjanjian Baru. Alkitab membedakan antara apa yang Tuhan izinkan terjadi dan apa yang menjadi kehendak-Nya.
BACA JUGA: 3 Pelajaran Dari Pernikahan Yakub dan Rahel
Rancangan Allah Sejak Awal Penciptaan
Rancangan Allah tentang pernikahan dinyatakan dengan jelas sejak awal penciptaan manusia.
Kejadian 2:24 menyatakan bahwa seorang laki-laki akan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Ungkapan ini menunjukkan hubungan yang eksklusif antara dua pribadi, bukan lebih.
Rancangan ini menegaskan bahwa pernikahan menurut kehendak Allah adalah persatuan satu laki-laki dan satu perempuan. Poligami tidak pernah disebut sebagai bagian dari rancangan awal penciptaan.
Poligami dalam Perjanjian Lama Bukan Standar Allah
Memang benar, Alkitab mencatat tokoh-tokoh seperti Yakub, Daud, dan Salomo yang melakukan poligami. Namun, penting untuk diperhatikan bahwa Alkitab tidak pernah memerintahkan atau memuji hal tersebut.
Sebaliknya, setiap kisah poligami justru diiringi oleh konflik keluarga, kecemburuan, persaingan, penderitaan emosional, dan penyimpangan hati dari Tuhan
Hal ini menunjukkan bahwa poligami adalah penyimpangan dari rancangan Allah, bukan kehendak-Nya yang sempurna.
BACA JUGA: Kalau Tuhan Mengijinkan Tokoh Alkitab Poligami, Kenapa Sekarang Dilarang?
Penegasan Rancangan Allah oleh Yesus Kristus
Yesus sendiri mengembalikan pemahaman pernikahan kepada kehendak Allah sejak semula. Dalam Matius 19:4–6, Yesus menegaskan bahwa Allah menciptakan manusia sebagai laki-laki dan perempuan, dan keduanya menjadi satu daging.
Yesus tidak menyesuaikan ajaran-Nya dengan budaya atau sejarah, melainkan menegaskan bahwa rancangan Allah bersifat tetap dan tidak berubah.
Standar Allah dalam Perjanjian Baru
Dalam Perjanjian Baru, standar pernikahan dinyatakan dengan lebih jelas. Rasul Paulus menyebut bahwa seorang penilik jemaat harus menjadi suami dari satu istri. Prinsip ini juga ditegaskan dalam ajaran kepada jemaat secara umum.
Dalam 1 Korintus 7:2, Paulus menulis bahwa setiap laki-laki harus mempunyai istrinya sendiri, dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri. Penggunaan bentuk tunggal menegaskan hubungan pernikahan yang eksklusif.
Ini menunjukkan bahwa monogami bukan hanya syarat kepemimpinan, tetapi standar hidup Kristen.
Poligami Tidak Sejalan dengan Gambaran Kristus dan Jemaat
Alkitab menggambarkan pernikahan sebagai gambaran hubungan Kristus dan jemaat-Nya. Kristus digambarkan sebagai satu Mempelai Pria yang memiliki satu Jemaat sebagai Mempelai Wanita.
Jika poligami diterapkan, gambaran rohani ini menjadi rusak. Oleh karena itu, pernikahan monogami mencerminkan kasih, kesetiaan, dan kekudusan hubungan Kristus dengan umat-Nya.
Poligami tidak sesuai dengan rancangan Allah. Meskipun pernah terjadi dalam sejarah Alkitab, praktik tersebut bukanlah kehendak ideal Tuhan. Sejak penciptaan hingga ajaran Perjanjian Baru, Alkitab secara konsisten menunjukkan bahwa pernikahan adalah ikatan kudus antara satu suami dan satu istri.
Rancangan Allah selalu mengarah pada kesetiaan, keutuhan, dan kasih yang mencerminkan hubungan Kristus dengan jemaat-Nya.
Butuh Doa, Konseling, atau Pendampingan?
Jika Anda sedang dalam pergumulan berat seputar keluarga, iman, pernikahan, atau masa lalu, jangan hadapi sendirian. Silakan hubungi nomor Layanan Doa CBN di bawah ini.
Sumber : Jawaban.com