Hari Pertama Sekolah, Anak Malah Tantrum? Parents Jangan Langsung Marah. Ini Solusinya
Sumber: Canva Teams | Aflo Images from Aflo

Parenting / 5 January 2026

Kalangan Sendiri

Hari Pertama Sekolah, Anak Malah Tantrum? Parents Jangan Langsung Marah. Ini Solusinya

Claudia Jessica Official Writer
1269

Setelah libur panjang, akhirnya tiba juga hari pertama sekolah. Bagi sebagian anak, momen ini bisa terasa menyenangkan karena bertemu teman-teman dan guru. Namun, tidak sedikit pula yang justru menolak berangkat sekolah.

Liburan yang penuh kebebasan membuat anak terbiasa bangun siang, bermain tanpa jadwal, dan menjalani hari tanpa rutinitas yang teratur. Ketika semua itu berubah, wajar jika anak merasa keberatan

Salah satu video yang beredar di media sosial memperlihatkan seorang anak yang menangis dan tidak mau berangkat sekolah. Ia ingin sekolahnya dimulai siang hari saja dan berharap bisa bersekolah di tempat yang tidak memiliki banyak peraturan.

Sekilas terlihat menggemaskan, tetapi di balik itu tersimpan kebingungan anak menghadapi perubahan ritme hidupnya. Penolakan seperti ini seringkali bukan karena anak malas, melainkan karena ia belum siap secara emosional untuk kembali ke rutinitas yang baru.

Anak Belum Paham Aturan, Tapi Bisa Mengenal Kebiasaan

Pada usia balita, anak memang belum mampu memahami konsep aturan, termasuk peraturan sekolah.

Melansir dari kumparanmom, Psikolog Klinis, Raden Mutiara Puspa Wijaya, M.Psi, menjelaskan bahwa anak usia dini belum perlu dikenalkan pada konsep “aturan” karena mereka belum benar-benar memahaminya. Yang bisa mereka pelajari adalah kebiasaan.

Anak-anak belajar melalui pengulangan. Ketika suatu hal dilakukan secara konsisten, mereka akan mulai mengenal pola, meskipun belum memahami alasannya secara logis.

Gunakan Kalimat Sederhana yang Mudah Dipahami

Daripada menjelaskan panjang lebar tentang aturan sekolah, orangtua bisa menyampaikan kalimat sederhana yang mudah dipahami anak-anak.

Misalnya, “Kalau sekolah, kita berangkat pagi. Kalau siang, sekolahnya sudah selesai.” Kalimat seperti ini lebih mudah diterima anak karena berkaitan langsung dengan pengalaman sehari-hari mereka.

Penjelasan yang singkat dan jelas membantu anak merasa lebih aman dan tidak kewalahan dengan informasi yang belum siap mereka cerna.

Disiplinnya Anak-anak Tidak Diukur dari Kepatuhannya Terhadap Aturan

Pemahaman tentang aturan baru mulai berkembang pada anak usia sekitar delapan tahun ke atas.

Sebelum usia tersebut, disiplin pada anak usia dini tidak dilihat dari kepatuhannya terhadap aturan tertulis, melainkan tentang mengenal waktu, membentuk kebiasaan, dan memahami batas sederhana.

Di tahap ini, yang anak butuhkan bukan tekanan, tetapi pendampingan. Rutinitas yang dilakukan secara konsisten akan menolong anak belajar keteraturan secara alami.

Konsistensi Orangtua Lebih Penting dari Penjelasan Panjang

Menurut Mutiara, konsistensi orang tua memegang peranan yang sangat penting. Ketika orangtua konsisten dalam jam bangun, persiapan, dan waktu berangkat sekolah, anak akan lebih mudah menyesuaikan diri. Dari situlah anak perlahan memahami bahwa ada pola yang perlu diikuti.

Hari pertama sekolah bisa menjadi momen untuk melatih kesabaran dan kasih kita sebagai orang tua. Tangisan dan penolakan anak bukan berarti kita gagal mendidik mereka, melainkan bagian dari proses pertumbuhannya.

Sumber : Berbagai Sumber
Halaman :
1

Ikuti Kami