Ketika mendengar kisah Natal, ingatan kita biasanya langsung tertuju pada Maria, Yusuf, para gembala, dan palungan sederhana di Betlehem. Gambaran umum yang sarat makna.
Namun, di balik peristiwa kelahiran Yesus, ada tokoh-tokoh lain yang jarang disorot dan seringkali terlupakan. Mereka mungkin tidak hadir di malam kelahiran itu, tetapi peran mereka sangat menentukan dalam mempersiapkan kedatangan Sang Juruselamat.
Alkitab mencatat bahwa rencana Allah tidak pernah berjalan secara tiba-tiba. Ia menenun sejarah keselamatan melalui hidup orang-orang yang setia, bahkan ketika mereka tidak mendapatkan perhatian, dan cenderung terlupakan.
Empat tokoh berikut menjadi bukti bahwa kesetiaan dalam doa dan penantian memiliki tempat penting dalam karya Allah, yakni kelahiran Yesus Kristus, Sang Juruselamat dunia.
Zakharia dan Elisabet
Jauh sebelum Yesus lahir, Allah lebih dahulu mempersiapkan jalan melalui kelahiran Yohanes Pembaptis. Peristiwa ini tidak dapat dilepaskan dari kehidupan Zakharia dan Elisabet, sepasang suami istri yang telah lanjut usia dan lama menantikan keturunan.
Lukas 1:6 mencatat bahwa keduanya hidup benar di hadapan Allah. Di tengah penantian yang panjang dan sunyi, Allah justru bekerja. Malaikat Gabriel menampakkan diri kepada Zakharia dan menyampaikan bahwa Elisabet akan melahirkan seorang anak yang kelak berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia.
Yang sering terlupakan, Elisabet ternyata adalah kerabat Maria. Ketika Maria menerima kabar bahwa ia akan mengandung oleh Roh Kudus, ia segera mengunjungi Elisabet.
Saat Maria memberi salam, bayi dalam kandungan Elisabet melonjak kegirangan dan Elisabet dipenuhi Roh Kudus. Ia menjadi orang pertama yang mengakui bahwa janin dalam rahim Maria adalah Tuhan.
Melalui Yohanes Pembaptis, Allah mempersiapkan hati banyak orang untuk menyambut Mesias. Semua ini dimulai dari kesetiaan Zakharia dan Elisabet dalam doa, jauh sebelum kelahiran Yesus terjadi.
Simeon
Beberapa minggu setelah Yesus lahir, Maria dan Yusuf membawa bayi itu ke Bait Allah. Di sana mereka bertemu Simeon, seorang yang dikenal sebagai orang benar dan saleh. Simeon hidup dalam pengharapan akan penghiburan bagi Israel dan memegang janji bahwa ia tidak akan mati sebelum melihat Mesias.
Ketika Simeon menggendong bayi Yesus, ia menyadari bahwa penantian panjangnya telah berakhir. Dengan penuh syukur, ia memuji Allah karena matanya telah melihat keselamatan yang dijanjikan. Simeon memahami bahwa bayi kecil itu adalah terang bagi bangsa-bangsa dan kemuliaan bagi Israel.
Namun, Simeon juga menyampaikan nubuat tentang penderitaan yang akan datang. Ia mengingatkan Maria bahwa keselamatan itu akan melalui jalan pengorbanan.
Di tengah sukacita Natal, Simeon menegaskan bahwa rencana Allah selalu memiliki makna yang lebih dalam.
Hana
Masih di Bait Allah, hadir pula Hana, seorang nabiah yang telah lama menjanda. Ia menghabiskan hidupnya dengan beribadah, berpuasa, dan berdoa siang dan malam. Hana adalah gambaran kesetiaan yang tenang dan konsisten.
Karena ketekunannya, Hana berada di tempat yang tepat saat Yesus dibawa ke Bait Allah. Ia segera mengucap syukur kepada Allah dan memberitakan tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan bagi Yerusalem.
Hana menjadi salah satu saksi awal yang menyampaikan kabar tentang Yesus setelah kelahiran-Nya.
Zakharia, Elisabet, Simeon, dan Hana mungkin tidak berada di palungan Betlehem. Tetapi tanpa mereka, kisah kelahiran Yesus tidak akan utuh. Lewat hidup yang tampak sederhana, Allah menunjukkan bahwa Ia bekerja melalui orang-orang yang setia dalam penantian.
Kisah mereka mengingatkan kita bahwa Allah tidak pernah mengabaikan doa yang dinaikkan dengan setia. Ia melihat air mata, mendengar pergumulan, dan menggenapi janji-Nya tepat pada waktu-Nya.
Sumber : YouTube Jawaban Channel