Pertemanan seharusnya menjadi ruang yang aman untuk bertumbuh, berbagi cerita, dan saling menguatkan. Dalam relasi yang sehat, kita merasa diterima apa adanya dan didukung untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Namun pada kenyataannya, tidak semua pertemanan membawa dampak positif. Ada relasi yang justru melelahkan secara emosional dan perlahan menggerus sukacita. Inilah yang sering disebut sebagai pertemanan toxic.
Melalui sebuah video Superyouth, dua remaja Gen Z membagikan pandangan mereka mengenai ciri-ciri pertemanan toxic yang sering mereka temui dalam kehidupan sehari-hari.
BACA JUGA: 2 Gaya Parenting Toxic di Alkitab yang Hancurkan Anak, Patut Dihindari!
Jawaban mereka mencerminkan pengalaman yang relevan dengan dinamika relasi anak muda masa kini. Dari wawancara tersebut, muncul empat ciri utama yang patut diperhatikan bersama, berikut:
Pertama, sikap manipulatif.
Teman yang manipulatif seringkali menggunakan cara halus untuk mengendalikan orang lain. Mereka bisa membuat kita merasa harus selalu mengikuti keinginan mereka, meski itu bertentangan dengan hati nurani atau kebutuhan pribadi.
Dalam jangka panjang, relasi seperti ini membuat seseorang kehilangan kebebasan dan kepercayaan diri. Pertemanan yang sehat seharusnya memberi ruang untuk saling menghargai pilihan masing-masing
Kedua, guilt tripping.
Guilt tripping adalah tindakan membuat seseorang merasa bersalah agar mau menuruti keinginan orang lain. Misalnya, ketika kita menolak permintaan teman, lalu mereka merespons dengan kalimat seperti, “Kalau kamu teman aku, harusnya kamu mau.”
Lama-kelamaan, pola ini bisa membuat kita merasa bersalah terus-menerus, bahkan atas hal-hal yang sebenarnya wajar. Relasi yang sehat seharusnya dibangun di atas pengertian, bukan rasa bersalah.
BACA JUGA: Terjebak dalam Pertemanan Toxic? Ini Cara Keluar Menurut Firman Tuhan
Ketiga, melakukan sesuatu tanpa concern.
Teman toxic seringkali bertindak tanpa mempertimbangkan perasaan atau kondisi kita. Mereka bisa berbicara atau bertindak seenaknya, tanpa empati, lalu menganggap itu hal biasa.
Padahal, perhatian dan kepedulian adalah fondasi penting dalam pertemanan. Ketika concern hilang, relasi pun berubah menjadi hubungan yang timpang dan menyakitkan.
Keempat, tidak memberikan feedback yang membangun.
Salah satu responden menyebutkan contoh “sayang sendiri”, yaitu ketika satu pihak merasa sudah memberi perhatian, tetapi tidak pernah benar-benar mendengarkan atau memberi respons yang berarti.
Pertemanan yang sehat membutuhkan komunikasi dua arah, di mana masing-masing pihak mau mendengar, menanggapi, dan bertumbuh bersama. Tanpa feedback serupa, pertemanan hanya berjalan satu arah dan terasa hampa.
BACA JUGA: Ciri-Ciri Perilaku Rekan Kerja Manipulatif yang Perlu Anda Ketahui
Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk hidup dalam kasih yang nyata dan membangun. Mengenali ciri-ciri teman toxic bukan berarti kita menghakimi atau menjauh tanpa belas kasih, melainkan belajar lebih bijak dalam menjaga relasi.
Tuhan rindu setiap anak-Nya memiliki pertemanan yang menumbuhkan iman, karakter, dan kasih yang sejati.
Sumber : Superyouth