Petrus Striprastio pernah berada di posisi yang tidak pernah ia bayangkan. Ia gagal sebagai kepala keluarga, bangkrut sebagai pengusaha, terhimpit utang lebih dari satu miliar rupiah, dan kehilangan harga diri di depan orang-orang terdekatnya. Di masa itu, hidup terasa begitu gelap hingga ia berpikir bahwa kematian mungkin satu-satunya jalan keluar. Namun melalui perjumpaan sederhana dengan layanan doa di media sosial, hidup Petrus perlahan dipulihkan Tuhan.
Sebelumnya, Petrus adalah seorang pengusaha kayu yang cukup berhasil. Ia pernah menjalankan usaha suplier bahan bangunan, mendirikan industri pemergajian kayu, hingga membuka peluang usaha tambang pasir. Dengan banyak relasi dan pengalaman, ia merasa mampu mengatur segala sesuatu dengan kekuatannya sendiri.
Namun pandemi COVID-19 menjadi awal kemerosotan. Proyek-proyek terhenti, usaha mandek, dan kondisi keuangan keluarga runtuh. Perlahan, Petrus kehilangan pendapatan yang selama ini menjadi tumpuan rumah tangga.
Keadaan semakin buruk ketika omzet toko yang masih tersisa turun drastis. Penghasilan yang biasanya mencapai jutaan per hari menyusut menjadi hanya ratusan ribu. Di tengah kebutuhan yang terus berjalan, tekanan demi tekanan menumpuk tanpa henti.
Utang Petrus mencapai lebih dari satu miliar rupiah. Setiap akhir bulan, pihak bank datang ke rumah, bahkan hingga tengah malam. Ketegangan itu membuat Petrus semakin terpuruk. Ia tidak lagi merasa berguna sebagai ayah maupun suami.
Yang paling menyakitkan, utangnya sampai tersebar ke keluarga besar. Namanya disebut-sebut, masalahnya diceritakan di depan banyak orang. Di mata keluarga, ia menjadi sumber masalah, dan hal itu membuatnya merasa benar-benar kehilangan harga diri.
Di tengah tekanan besar itu, relasi-relasi yang dulu dekat mulai menjauh. Teman-teman yang dahulu bersamanya justru menghilang. Petrus merasa sendirian, dihukum keadaan, dan tidak ada yang bisa ia andalkan.
Petrus sampai pada titik di mana hidup terasa tidak ada artinya. Ia merasa bukan lagi suami dan ayah yang berfungsi dengan semestinya. Dalam keputusasaan itu, ia bahkan mencoba mengakhiri hidupnya sendiri. Salah satunya dengan melilitkan kabel charger ke leher. Namun rasa sakit menghentikannya.
Karena takut mempermalukan keluarga, ia akhirnya tidak melanjutkan niat tersebut. Tetapi hampir setiap malam ia berdoa:
“Tuhan, kalau bisa besok saya jangan dibangunkan lagi.”
Itu bukan doa minta pertolongan. Itu adalah doa orang yang sudah habis harapan.
Sumber : Jawaban.com