Istilah “karma” sering muncul dalam kehidupan sehari-hari untuk menjelaskan balasan atas tindakan seseorang. Banyak orang menghubungkannya dengan keadilan universal bahwa apa yang kita lakukan akan kembali kepada kita.
Namun sebagai orang Kristen, apakah kita memang percaya pada karma? Atau Alkitab memiliki penjelasan lain yang lebih tepat?
Dalam salah satu podcast SuperYouth, Ps. Jonathan Prasetia dari GKY Greenville, Jakarta Barat memberikan penjelasan yang mudah dipahami mengenai hal ini.
Apakah Karma Termasuk Ajaran Kekristenan?
Ps. Jonathan menjelaskan bahwa karma tidak berasal dari Alkitab, melainkan dari kepercayaan lain yang memiliki konsep berbeda mengenai kehidupan dan balasan.
“Karma itu bukan dari Alkitab. Itu berasal dari kepercayaan lain,” ungkap Ps. Jonathan.
Dalam konsep karma, seseorang akan menerima balasan atas perbuatannya, baik dalam kehidupan saat ini maupun pada kehidupan berikutnya melalui siklus reinkarnasi. Kekristenan tidak mengenal reinkarnasi ataupun mekanisme balasan semacam itu.
Alkitab memperkenalkan prinsip yang berbeda, yaitu hukum tabur tuai. Ps. Jonathan merujuk pada Galatia 6:7 sebagai dasar utama, tertulis, “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.”
Prinsip ini mengajar bahwa tindakan manusia memiliki konsekuensi. Namun bukan karena mekanisme karma, melainkan karena Tuhan menanamkan hukum moral dalam kehidupan manusia.
Dengan kata lain, balasan yang kita terima bukan hasil dari siklus alam, tetapi bagian dari rancangan Tuhan yang adil.
Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah: Jika seseorang pernah berbuat salah dan sudah meminta maaf, apakah ia tetap harus menanggung akibatnya?
Ps. Jonathan menegaskan bahwa setiap dosa tetap memiliki konsekuensi.
“Setiap dosa pasti ada konsekuensinya. Tetapi ketika seseorang bertobat, Tuhan memakai konsekuensi itu untuk membentuk hati—supaya lebih rendah hati, sabar, dan menghasilkan buah Roh Kudus,” jelasnya.
Artinya, konsekuensi bukan lagi bentuk hukuman yang menjatuhkan, melainkan sarana Tuhan untuk menumbuhkan karakter dan kedewasaan rohani.
Tidak Semua Hal dalam Hidup adalah Tabur Tuai
Ps. Jonathan juga menjelaskan bahwa prinsip tabur tuai bukan satu-satunya cara Tuhan bekerja. Ada momen di mana apa yang dialami seseorang tidak berhubungan dengan apa yang ia tabur. Ia mencontohkan kisah Ayub.
“Harusnya Ayub menuai yang baik. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Ini memasuki wilayah kedaulatan Tuhan. Hal yang berada di luar pemahaman manusia,” jelasnya.
Hikmat pertama adalah tabur tuai. Hikmat kedua adalah misteri kedaulatan Tuhan, yang seringkali tidak dapat dijelaskan dengan logika sederhana. Tetapi melalui proses itu, Ayub justru mengenal Tuhan secara lebih dalam.
Dari penjelasan Ps. Jonathan, dapat disimpulkan bahwa kekristenan tidak mengenal karma, melainkan mengajarkan bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi melalui prinsip tabur tuai, namun di atas semua itu Tuhan tetap berdaulat dan memakai setiap proses untuk membentuk karakter, mendewasakan iman, dan membawa kita semakin mengenal-Nya.
Penjelasan lengkap Ps. Jonathan soal karma dalam pandangan kekristenan:
Sumber : YouTube Superyouth