Ibu Nida Belajar Menjadi Orang Tua yang Selaras dan Hadir untuk Anak Remajanya
Sumber: Jawaban.com

Impact Story / 20 November 2025

Kalangan Sendiri

Ibu Nida Belajar Menjadi Orang Tua yang Selaras dan Hadir untuk Anak Remajanya

Aprita L Ekanaru Official Writer
3862

Memasuki usia remaja, anak-anak mulai memiliki pemikiran, pilihan, dan dunia mereka sendiri. Pada fase ini, banyak orang tua merasa kewalahan menghadapi perubahan sikap dan kebutuhan anak. Hal inilah yang dialami Ibu Hotnida (Ibu Nida), seorang dosen dan ibu dari dua anak remaja, yang sempat merasa kebingungan dalam menerapkan pola asuh remaja yang tepat.

Sebagai orang tua, suaminya sering menggunakan pendekatan reaktif, memberi larangan ketika masalah sudah muncul, tanpa memiliki aturan dasar yang jelas sejak awal. Selain itu, perbedaan pendekatan dengan suami membuat pengasuhan menjadi kurang selaras, Ibu Nida cenderung detail dan terstruktur, sedangkan suaminya lebih fleksibel dan menyesuaikan situasi.

Perbedaan ini memicu kebingungan dan membuat aturan rumah kurang konsisten bagi anak-anak.

Perubahan Pola Asuh Melalui The Parenting Project

Titik balik terjadi ketika mereka mengikuti program The Parenting Project hingga Modul 5. Dari setiap sesi, mereka belajar membangun pola asuh yang lebih terarah dan memiliki kesepahaman sebagai orang tua.

Salah satu pelajaran penting adalah peran ayah sebagai nakhoda dalam keluarga, pemimpin yang menetapkan nilai, batasan, dan arahan. Selama ini, Ibu Nida menyadari bahwa ia lebih dominan dalam memberi instruksi, sementara sang suami kurang mengambil peran aktif dalam memberi nilai kepada anak-anak, terutama anak laki-laki yang sebenarnya lebih mudah mendengarkan ayahnya.

Pelajaran tersebut membuka dialog baru dan membantu mereka menyelaraskan visi dalam mendidik anak.

Menjadi Orang Tua yang Lebih Hadir secara Emosional

Selain menyelaraskan peran, perubahan terbesar justru datang dari kesadaran untuk lebih hadir bagi anak. Kesibukan sebagai dosen membuat Ibu Nida sering membawa pekerjaan ke rumah. Secara fisik ia ada, tetapi secara mental tidak sepenuhnya hadir.

Ia mulai berusaha meninggalkan pekerjaan sejenak ketika anak ingin bercerita, menunjukkan karya, atau sekadar meminta perhatian. Misalnya, saat anak perempuannya ingin memperlihatkan tarian di TikTok, ia benar-benar memerhatikan, menatap, dan memberi respons penuh.

Mereka juga mulai membuka percakapan dari hati ke hati tentang perasaan, kebutuhan, dan harapan anak terhadap orang tua. Validasi emosi menjadi bagian penting dalam proses ini.

Parenting adalah Perjalanan Tanpa Akhir

Perubahan pola asuh orang tua ternyata berdampak langsung pada anak-anak. Meski proses perubahan tidak instan, keluarga Ibu Nida merasakan perkembangan yang berarti. Mereka berencana mengulang materi The Parenting Project untuk memperkuat nilai-nilai yang sudah dipelajari.

Bagi Ibu Nida, menjadi orang tua adalah proses belajar yang tidak pernah selesai. The Parenting Project membantu mereka menemukan arah dalam mengasuh anak-anak di masa remaja, fase di mana kehadiran emosional, keselarasan antar orang tua, dan peran ayah yang jelas menjadi kunci.

Dengan komitmen dan pembelajaran berkelanjutan, keluarga mereka kini berlayar lebih stabil di tengah "samudra" pengasuhan remaja.

 

Kisah Ibu Nida menunjukkan bahwa tidak pernah ada kata terlambat untuk memperbaiki hubungan dengan anak. Dengan ilmu yang tepat dan perubahan sikap orang tua, kedekatan yang hilang dapat kembali tumbuh.

Daftarkan gereja Anda untuk mengikuti The Parenting Project, agar semakin banyak keluarga dipulihkan dan diteguhkan di dalam Tuhan.

Sumber : Jawaban.com
Halaman :
1

Ikuti Kami