Di usianya yang baru 11 tahun, Syaloom sudah belajar satu pelajaran berharga dalam hidup — pelajaran yang bahkan orang-orang yang lebih dewasa darinya masih sering gagal lakukan yaitu bagaimana menerima dirinya sebagai pribadi yang berharga di mata Tuhan.
Syaloom tinggal di Pulau Mundo, Sulawesi Utara. Karena mama dan papanya, bekerja di Papua, ia tinggal bersama oma. Sejak kecil ia dikenal rajin, mandiri, dan aktif di Sekolah Minggu GMIBM Emanuel Lalau. Tapi di balik keceriaannya, Syaloom menyimpan luka kecil di hatinya.
Di sekolah, teman-temannya sering mengejeknya hanya karena rambutnya keriting. “Katanya rambut saya jelek,” tutur Syaloom. Awalnya ia hanya diam, tapi lama-lama ejekan itu membuatnya menjadi insecure dan tidak bersyukur atas dirinya sendiri. Ia mulai merasa bahwa dirinya kurang cantik dan berbeda dari teman-temannya.
Baca Juga: Karena Musa, Angel Belajar Berani dan Percaya Kepada Tuhan
Namun, Tuhan tidak membiarkan anak kecil ini terus hidup dalam perasaan itu. Melalui program Superbook di Sekolah Minggu, Syaloom diperkenalkan pada banyak kisah Alkitab, salah satunya tentang Ayub—seorang yang menderita kusta dan seluruh bagian tubuhnya penuh luka, tetapi dia tidak menyalahkan Tuhan.
Dari situlah Syaloom mulai belajar sesuatu. Ia mulai menyadari bahwa setiap orang punya bagian masing-masing yang Tuhan berikan dengan indah. Jika Ayub bisa tetap bersyukur meski kehilangan segalanya, mengapa ia tidak bisa bersyukur atas rambut keriting yang Tuhan berikan?
“Apa yang Tuhan buat itu baik adanya,” kata Syaloom dengan senyum.
Sejak saat itu, ia tidak lagi malu dengan dirinya. Ketika teman-teman masih kadang mengejek, Syaloom hanya tersenyum. Ia tahu sekarang bahwa Tuhan tidak pernah salah menciptakan dirinya. Rambut keriting yang dulu membuatnya minder kini menjadi alasan untuk bersyukur—tanda bahwa Tuhan menciptakan setiap anak dengan keunikan yang istimewa.
Baca Juga: Tuhan Gantikan Kesedihan Jessen Ditinggal Papa dengan Keberanian, Seperti Nabi Elia
Syaloom belajar bahwa syukur bukan berarti karena hidup yang sempurna, tetapi bagaimana bisa tetap menerima diri dan keadaan seperti Ayub bahwa Tuhan baik dalam segala situasi.
Kini, Syaloom tumbuh menjadi anak yang percaya diri, rajin berdoa, dan berani berdiri tegak dengan keyakinan bahwa hidupnya berharga di mata Tuhan.
Jika Anda terinspirasi dengan kesaksian ini, mari bagikan kepada satu orang terdekat Anda. Dengan demikian Anda telah mendukung pelayanan pemuridan Superbook bahwa dampaknya bisa didengar lebih banyak orang. Yuk share sekarang!