Tahukah Anda, selain bahasa Ibrani dan Yunani, ada satu bahasa lain tidak kalah penting dan menjadi salah satu dari tiga bahasa utama yang membentuk pondasi Alkitab, yaitu bahasa Aram.
Bahasa ini menempati posisi istimewa dalam sejarah iman Kristen karena menjadi bahasa keseharian Yesus dan masyarakat di tanah Israel pada abad pertama.
Meskipun jarang dibahas dalam pengajaran, banyak kata yang diucapkan Yesus dalam Perjanjian Baru sebenarnya berasal dari bahasa Aram, bahkan beberapa tetap dipertahankan dalam teks Yunani tanpa diterjemahkan.
Lalu, seperti apa sejarah bahasa ini, dan mengapa ini menjadi penting?
Asal dan Sejarah Bahasa Aram
Bahasa Aram berasal dari bangsa Aram, keturunan Sem, yang mendiami wilayah Mesopotamia bagian utara, daerah yang kini meliputi Suriah dan Irak bagian utara. Dalam Alkitab, nama Aram sering muncul sebagai sebutan wilayah tersebut (Kejadian 10:22; Bilangan 23:7).
Sekitar abad ke-10 sebelum Masehi, bahasa Aram mulai digunakan secara luas dan mencapai puncak kejayaannya ketika Kekaisaran Asyur dan Babel menjadikannya bahasa resmi administrasi dan perdagangan internasional. Karena digunakan lintas bangsa, bahasa Aram dikenal sebagai lingua franca atau bahasa penghubung di Timur Tengah kuno.
Bahkan, beberapa bagian dalam Perjanjian Lama ditulis dalam bahasa ini, seperti sebagian kitab Ezra dan Daniel. Hal tersebut menunjukkan betapa pentingnya peran bahasa Aram pada masa pembuangan, ketika bangsa Israel hidup di bawah kekuasaan Babel dan Persia.
Perkembangan Bahasa Aram di Tanah Yehuda
Setelah bangsa Yahudi kembali dari pembuangan, mereka membawa pengaruh bahasa Aram ke tanah Yehuda. Lambat laun, bahasa Ibrani klasik mulai jarang digunakan dalam percakapan sehari-hari dan lebih difungsikan sebagai bahasa ibadah serta teks suci.
Sementara itu, bahasa Aram menjadi bahasa rakyat, bahasa pasar, rumah tangga, dan percakapan sosial. Ketika Yesus lahir di dunia, orang Yahudi pada umumnya berbicara dalam dialek Aram Galilea, dialek khas wilayah utara Israel.
Pada masa itu, ada tiga bahasa yang hidup berdampingan:
Pada masa itu, tiga bahasa digunakan secara berdampingan: bahasa Ibrani dipakai dalam kegiatan keagamaan di sinagoga, bahasa Aram digunakan untuk percakapan sehari-hari, sedangkan bahasa Yunani Koine berperan dalam urusan pemerintahan dan perdagangan internasional.
Maka dari itu, bahasa Aram bisa disebut sebagai bahasa ibu Yesus dan masyarakat Yahudi pada masa itu.
Yesus Menggunakan Bahasa Aram
Yesus mengajar, berbicara, dan menjangkau orang-orang di sekitarnya menggunakan bahasa Aram. Ia menggunakan bahasa yang akrab bagi telinga masyarakat Galilea dan Yudea.
Pilihan Yesus untuk memakai bahasa rakyat menunjukkan kerendahan hati dan kasih-Nya yang besar. Ia tidak menggunakan bahasa tinggi yang hanya dimengerti kalangan terpelajar, tetapi berbicara dengan bahasa yang dekat dengan hati manusia.
Melalui bahasa Aram, pengajaran Yesus menjadi hidup dan relevan bagi setiap orang muladi dari nelayan, petani, bahkan anak-anak. Kata-kata-Nya bukan sekadar ucapan, melainkan saluran kasih Allah yang menyentuh kehidupan sehari-hari umat-Nya. Bahasa ini menjadi jembatan yang menghubungkan Allah dan manusia.
Bahasa Aram di Masa Kini
Meskipun telah berusia lebih dari 3.000 tahun, bahasa Aram belum sepenuhnya punah. Hingga kini, masih ada komunitas kecil di Timur Tengah, terutama di Suriah, Irak, Iran, dan Turki bagian timur yang menggunakan bentuk modernnya seperti Neo-Aramaik atau Suryani.
Bahasa Suryani, yang merupakan turunan dari Aram, bahkan tetap digunakan sebagai bahasa liturgi di gereja-gereja Timur kuno, seperti Gereja Ortodoks Siria dan Gereja Asiria di Timur. Kitab suci versi Peshitta ditulis dalam bahasa Syria Aram dan masih digunakan oleh banyak umat Kristen Timur hingga sekarang.
Sayangnya, peperangan dan diaspora membuat bahasa ini semakin terancam punah. Namun di sejumlah sekolah teologi Timur, bahasa Aram masih diajarkan untuk menjaga warisan linguistik Yesus agar tidak hilang.
Makna Rohani di Balik Bahasa Aram
Mengetahui bahwa Yesus berbicara dalam bahasa Aram memberi makna rohani yang mendalam. Pertama, hal ini mengingatkan kita bahwa Firman Allah benar-benar turun ke dunia dalam bentuk yang sederhana dan nyata. Ia berbicara dengan bahasa rakyat, bukan bahasa para petinggi.
Kedua, bahasa Aram menunjukkan bahwa kasih Allah melampaui batas bahasa dan budaya. Firman Tuhan bisa dimengerti oleh siapa saja yang mau mendengarnya, karena kasih-Nya bersifat universal.
Bahasa Aram menjadi simbol bagaimana Allah mendekat kepada manusia, bukan dari tempat yang jauh dan tinggi, tetapi dari tengah-tengah kehidupan kita.
Sumber : YouTube Jawaban Channel