Gencatan Senjata Israel-Hamas Dimulai, Gaza Mulai Bernapas Lega
Sumber: Getty Images Signature | 200mm

News / 13 October 2025

Kalangan Sendiri

Gencatan Senjata Israel-Hamas Dimulai, Gaza Mulai Bernapas Lega

Claudia Jessica Official Writer
3507

Setelah lebih dari dua tahun perang yang menewaskan puluhan ribu orang dan meluluhlantakkan Jalur Gaza, Israel dan Hamas akhirnya mencapai kesepakatan gencatan senjata tahap pertama. Kesepakatan ini mulai berlaku sejak Jumat, 10 Oktober 2025, dan menjadi titik awal menuju perdamaian yang diharapkan banyak pihak.

Perundingan intensif berlangsung di Sharm el-Sheikh, Mesir, dengan mediasi dari Mesir, Qatar, Turki, dan Amerika Serikat. Hasilnya, kedua belah pihak menyepakati penghentian serangan dan langkah-langkah awal menuju normalisasi di wilayah yang selama ini menjadi pusat konflik Timur Tengah.

Penarikan Pasukan dan Pertukaran Tahanan

Sebagai bagian dari perjanjian, Israel menarik sebagian pasukannya dari Jalur Gaza. Langkah ini menjadi sinyal positif bahwa tekanan militer mulai mereda. Dalam waktu bersamaan, Hamas melepaskan puluhan sandera, termasuk 20 orang yang masih hidup dan 28 jenazah korban perang.

Sebagai gantinya, pemerintah Israel membebaskan sekitar 2.000 tahanan Palestina, termasuk mereka yang sebelumnya ditahan tanpa dakwaan maupun yang divonis seumur hidup.

Pertukaran ini berlangsung di bawah pengawasan internasional, dan menjadi simbol awal rekonsiliasi setelah serangkaian kekerasan yang membuat jutaan warga kehilangan tempat tinggal.

Bantuan Kemanusiaan untuk Gaza

Gencatan senjata juga membuka jalan bagi masuknya bantuan kemanusiaan skala besar. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyiapkan rencana bantuan untuk 60 hari pertama, mencakup pengiriman makanan, obat-obatan, air bersih, dan perlengkapan darurat ke wilayah Gaza. Jalur penyeberangan Rafah di Mesir kembali dibuka, memudahkan ratusan truk bantuan mencapai warga yang selama ini terisolasi akibat blokade.

Menurut laporan Antara dan CNN Indonesia, PBB menargetkan distribusi bantuan bagi lebih dari dua juta penduduk Gaza yang terdampak perang. Di sisi lain, pemerintah Mesir dan Qatar memastikan logistik dan pengawasan keamanan agar penyaluran bantuan berjalan lancar.

Tantangan dan Pelanggaran Awal

Meski gencatan senjata Israel-Hamas telah disepakati, tantangan di lapangan masih besar. Hamas menuduh Israel mengubah daftar tahanan yang akan dibebaskan, sementara Israel menegaskan operasi militernya “belum sepenuhnya berakhir.” Beberapa laporan menyebutkan, pasukan Israel masih membongkar pusat distribusi bantuan di Gaza sesaat setelah perjanjian diberlakukan.

Ketegangan kecil di lapangan ini memunculkan kekhawatiran akan rapuhnya kesepakatan perdamaian yang baru dimulai. Namun, masyarakat internasional mendesak kedua pihak menahan diri dan berkomitmen terhadap proses damai.

Harapan Baru untuk Gaza

Di tengah puing-puing kehancuran, warga Gaza mulai menaruh harapan baru. Banyak dari mereka yang kembali ke wilayah asal meski rumah sudah hancur. “Kami hanya ingin hidup damai dan membangun kembali Gaza,” ujar seorang warga yang dilansir dari Kompas.

Bagi Israel, gencatan senjata ini menjadi ujian politik dan keamanan. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa Israel tetap waspada terhadap potensi ancaman, namun menyambut baik setiap langkah menuju perdamaian jangka panjang.

Sementara itu, komunitas internasional berharap fase pertama ini menjadi pintu bagi dialog lebih luas, termasuk pembahasan mengenai masa depan pemerintahan Gaza dan rekonstruksi wilayah. Seperti disampaikan oleh PBB, “Gencatan senjata bukan akhir, melainkan awal dari proses panjang menuju perdamaian sejati.”

Sumber : Berbagai Sumber
Halaman :
1

Ikuti Kami