Bagaimana Orang Kristen Menyikapi Politik? Haruskah Kita Anti-Politik atau Sebaliknya?
Sumber: Foto: DPR RI

Kata Alkitab / 25 August 2025

Kalangan Sendiri

Bagaimana Orang Kristen Menyikapi Politik? Haruskah Kita Anti-Politik atau Sebaliknya?

Claudia Jessica Official Writer
418

Politik seringkali menjadi topik yang memicu perdebatan, bahkan di antara sesama orang Kristen. Ada yang melihat politik sebagai sesuatu yang kotor dan harus dijauhi, namun ada pula yang meyakini bahwa orang Kristen justru perlu aktif di dalamnya.

Pertanyaan pentingnya adalah, bagaimana sebenarnya orang Kristen memandang politik? Untuk menemukan jawabannya, kita perlu kembali kepada Alkitab.

Firman Tuhan memberi dasar yang jelas bagaimana orang percaya harus memandang politik dan perannya di tengah dunia. Dari sinilah kita bisa belajar prinsip yang menuntun kita, bukan sekadar berdasarkan opini manusia.

#1 Tuhan yang Memegang Kendali

Hal pertama yang perlu kita ingat adalah bahwa Tuhan tetap berdaulat atas segala sesuatu, termasuk politik. Daniel 2:21 menegaskan bahwa Tuhanlah yang “menurunkan raja-raja dan mengangkat raja-raja.”

Artinya, siapa pun pemimpin yang terpilih, pada akhirnya tetap berada dalam kendali Tuhan. Pemahaman ini akan membantu kita melihat bahwa politik hanya salah satu metode yang Tuhan gunakan untuk mencapai kehendak-Nya.

Sekalipun orang jahat menyalahgunakan kekuasaan politik mereka, Allah tetap bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan. (Roma 8:29)

#2 Politik Tidak Bisa Menyelamatkan Kita

Kedua, kita harus mengingat bahwa politik tidak bisa menyelamatkan kita. Sepanjang pelayanan-Nya, Yesus tidak pernah menyerukan revolusi politik untuk mengatasi ketidakadilan yang ada pada zaman itu.

Para rasul pun tidak menjadikan reformasi politik sekalipun Kekaisaran Romawi begitu tidak adil dan brutal. Mereka tahu bahwa masalah terbesar manusia adalah dosa, dan solusinya hanyalah melalui Injil.

#3 Bukan Anti-Politik

Meski begitu, bukan berarti orang Kristen boleh apatis. Pemerintah ada karena Tuhan yang menetapkannya, dan tugas kita adalah menghormati serta menaati hukum (Roma 13:1–2). Pemerintah dipanggil untuk menjaga ketertiban, menegakkan keadilan, dan melindungi rakyat (1 Petrus 2:13–15; Roma 13:1–8).

Sebagai orang Kristen, kita juga dipanggil untuk menjadi warga negara yang baik. Berpartisipasi dengan benar, seperti menggunakan hak pilih, taat pada hukum, dan berkontribusi dalam menjaga keadilan.

#4 Jangan Letakkan Harapan pada Pemerintah

Namun, ada satu hal penting yang tidak boleh kita lupakan, jangan sampai harapan kita diletakkan pada pemerintah atau politik. Sebab betapapun baiknya sebuah sistem, semuanya tetap terbatas.

Pemerintah bisa menjadi sarana kebaikan, tetapi tidak bisa menyelamatkan. Gereja pun dipanggil bukan untuk mengubah dunia lewat sistem politik, melainkan melalui pemberitaan Injil.

Hanya Kristus yang sanggup mengubahkan hati manusia, dan dari sanalah lahir perubahan sejati yang bertahan lama.

#5 Belajar dari Gereja Mula-Mula

Jika kita melihat sejarah, gereja mula-mula hidup di bawah pemerintahan Romawi yang keras. Meski begitu, mereka tetap menghormati otoritas dan bahkan berdoa bagi para pemimpin mereka. (1 Petrus 2:13–15)

Menariknya, justru dalam kondisi penuh tekanan itulah Injil berkembang pesat. Hal ini mengajarkan kita bahwa doa, kesetiaan, dan ketaatan kepada Tuhan jauh lebih berkuasa daripada strategi politik manusia.

Apa yang Kita Pelajari Hari Ini?

Semua prinsip ini membawa kita pada satu kesimpulan penting, yakni iman Kristen harus menjadi dasar dalam cara kita melihat dan menyikapi politik.

Pemerintah memang punya peran penting, tetapi kita tidak boleh menaruh harapan kita pada manusia atau sistem politik. 

Sebagaimana Injil memanggil kita untuk menjadi garam dan terang di tengah masyarakat. Kehidupan kita harus tetap berakar pada Yesus Kristus dan kebenarannya.

Sumber : gotquestion
Halaman :
1

Ikuti Kami