Saat Anak Berkata “Pa..Ma…Suamiku Selingkuh”, Apa yang Harus Orang Tua Lakukan?
Sumber: Jawaban.com

Parenting / 23 August 2025

Kalangan Sendiri

Saat Anak Berkata “Pa..Ma…Suamiku Selingkuh”, Apa yang Harus Orang Tua Lakukan?

Lori Official Writer
4655

Seorang istri mulai kebingungan saat mendapat pesan yang tak biasa dari suaminya. “Sayang, aku sudah sampai nih, buka pintu dong…” Padahal suami biasa menyapanya dengan panggilan “Mama”. Sang istripun mulai curiga bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Sampai akhirnya setelah ditelusuri, terkuak bahwa ternyatanya suaminya selingkuh.

Sebagai orang tua, kita pasti berharap supaya setelah menikah, anak-anak kita akan menjalani rumah tangga yang rukun dan harmonis. Tetapi bagaimana jika sang anak justru pulang dengan menangis dan berkata “Pa…Ma…suamiku selingkuh.”

Jika itu terjadi, yang bisa orang tua lakukan adalah mendampingi anak bertahan di situasi yang tidak mudah ini. 

 

Baca Juga: Saat Anak Berkata “Pa, Ma, Aku Hamil…”, Bagaimana Respon Anda Sebagai Orang Tua?

 

Terkadang, orang tua bisa saja memilih untuk bertindak emosional dan mencoba untuk bertindak. Tetapi tindakan itu tentu tidak akan bisa menyelesaikan masalah. Karena itu, kita perlu tetap bijak dalam bersikap. Jadi, berikanlah dukungan agar anak dapat melewati masa-masa sulitnya. Tentu saja kita tidak boleh menyarankan anak untuk bercerai karena itu bukan yang dikehendaki Tuhan.

Tetapi mari bantu anak untuk merefleksikan diri dan memberikan respons yang tepat sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan. Di dalam setiap persoalan rumah tangga, pihak korban akan selalu membutuhkan waktu untuk berproses dan menerima kondisi yang terjadi. Tidak ada salahnya jika anak memutuskan untuk beristirahat sejenak. Biarkan mereka mengambil waktu dan jarak untuk sama-sama mengevaluasi diri. Seperti disampaikan dalam 1 Korintus 7: 5, “Janganlah kamu saling menjauhi, kecuali dengan persetujuan bersama untuk sementara waktu, supaya kamu mendapat kesempatan untuk berdoa. Sesudah itu hendaklah kamu kembali hidup bersama, supaya Iblis jangan menggodai kamu, karena kamu tidak dapat menahan hawa nafsu.” 

Setelah itu, kita pasti akan berharap supaya anak kita bisa duduk bersama dan berbicara dari hati ke hati serta mencari pertolongan dengan menemui konselor pernikahan. Meskipun realitasnya pasti akan terasa sulit untuk bersikap seperti sedia kala karena kepercayaan yang merupakan fondasi utama dalam pernikahan telah hancur dan harus dibangun kembali dari awal. 

 

Baca Juga: Pasangan atau Sahabat, Mana yang Harus Diprioritaskan? Mari Lihat Pandangan Alkitab

 

Tetapi inilah yang tentunya kita berharap bisa diperjuangkan oleh anak. Bagi pasangan yang berselingkuh, dia harus bisa merebut kembali kepercayaan pasangannya. Sementara bagi pihak korban, jangan menyerah dan memberikan apa yang seharusnya menjadi hak untuk terus dipertahankan.

Perselingkuhan bisa terjadi karena ada celah yang disadari maupun tidak disadari oleh dua belah pihak. Jadi, diperlukan refleksi bersama dan usaha untuk memperbaiki fondasi pernikahan dari awal. Sementara di sepanjang proses ini, orang tua perlu hadir untuk mengarahkan anak-anak kita kepada pertobatan dan kasih Kristus yang menjadi landasan pernikahan mereka.

 

Disadur dari buku Learning to Hold After Marriage oleh Charlotte Priatna.

Halaman :
1

Ikuti Kami