Di jantung kota Yerusalem, berdiri sebuah kawasan yang menjadi titik persinggungan tiga agama besar dunia, yakni Yahudi, Kristen, dan Islam.
Tempat itu dikenal sebagai Bukit Bait Suci atau Temple Mount, lokasi yang dipercaya sebagai tempat berdirinya Bait Allah bangsa Israel pada masa lalu.
Saat ini, di atas bukit tersebut berdiri dua bangunan penting bagi umat Islam, yaitu Masjid Al-Aqsa dan Dome of the Rock (Kubah Batu).
Pertanyaannya, bagaimana jika suatu hari Bait Allah dibangun kembali di lokasi itu? Bagi banyak orang, hal ini bukan sekadar isu arsitektur atau arkeologi, melainkan potensi konflik besar yang bisa mengguncang dunia.
Dua Bait yang Pernah Ada
Sejarah mencatat, Bait Allah pertama didirikan oleh Raja Salomo sekitar abad ke-10 SM. Pembangunannya dijelaskan secara detail dalam 1 Raja-Raja 6. Namun, Bait itu dihancurkan oleh bangsa Babel pada tahun 586 SM.
Beberapa dekade kemudian, bangsa Israel yang kembali dari pembuangan membangun Bait Allah kedua di bawah kepemimpinan Zerubabel. Bait ini kemudian dipugar secara megah oleh Raja Herodes.
Namun pada tahun 70 M, pasukan Romawi menghancurkannya, sebagaimana dinubuatkan Yesus dalam Lukas 21:6. Sejak saat itu, tidak ada lagi Bait Allah yang berdiri di Yerusalem.
Isyarat dalam Alkitab
Beberapa bagian Alkitab kerap dianggap menunjuk pada keberadaan Bait Allah ketiga di masa depan.
Ayat-ayat ini kemudian menimbulkan diskusi: apakah benar akan ada pembangunan fisik kembali, ataukah Bait Allah dimaknai secara rohani?
Kontroversi Lokasi
Di sinilah letak persoalan. Bukit Bait Suci saat ini merupakan kompleks Haram al-Sharif, kawasan suci bagi umat Islam. Karena itu, wacana pembangunan kembali Bait Allah secara fisik di lokasi tersebut berpotensi memicu konflik agama dan politik.
Meski demikian, sejumlah organisasi Yahudi seperti Temple Institute sudah melakukan persiapan serius. Mereka membuat replika perkakas Bait, menyiapkan pakaian imam besar, hingga memelihara lembu merah sesuai Bilangan 19:2-10 sebagai syarat ritual penyucian.
Bait Allah dan Akhir Zaman
Bagi sebagian kalangan Kristen, pembangunan Bait Allah ketiga dipandang sebagai tanda penting menjelang akhir zaman. Mereka menafsirkan nubuat dalam Daniel 9:27 dan Matius 24:15 sebagai peristiwa yang terkait dengan masa kesengsaraan besar.
Namun, pandangan lain menekankan bahwa Yesus sendirilah penggenapan Bait Allah.
Yohanes 2:19-21 mencatat perkataan Yesus, “Jawab Yesus kepada mereka: "Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali." Lalu kata orang Yahudi kepada-Nya: "Empat puluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?"”
Bait Allah yang dimaksud bukanlah bangunan batu, melainkan tubuh-Nya sendiri. Rasul Paulus bahkan menegaskan bahwa orang percaya adalah Bait Allah karena Roh Kudus tinggal di dalamnya (1 Korintus 3:16; Efesus 2:22).
Sikap Orang Kristen
Lalu, bagaimana seharusnya sikap kita? Sejarah dan nubuat boleh dipelajari, tetapi fokus iman Kristen bukanlah pada pembangunan batu-batu fisik, melainkan pada Kristus sebagai Bait Allah sejati.
Dengan demikian, isu Bait Allah ketiga bisa menjadi pengingat bahwa nubuatan Alkitab terus berbicara hingga hari ini.
Tetapi yang terpenting adalah menjaga hubungan pribadi dengan Tuhan dan hidup sebagai bait Roh Kudus yang memuliakan-Nya.
Untuk penjelasan lebih lengkap tentang Bait Allah ketiga serta nubuat Alkitab di akhir zaman, Anda bisa langsung tonton video selengkapnya di bawah ini di YouTube Jawaban Channel.
Sumber : YouTube Jawaban Channel