Frosty Sahambangung, anak laki-laki berusia 12 tahun, tinggal bersama neneknya di sebuah lingkungan yang cukup padat. Sejak kecil, Frosty dikenal pendiam dan pemikir.
Ia bukan anak yang mudah terbuka, apalagi kepada teman-teman sekolahnya yang mayoritas berbeda agama.
Saat duduk di bangku SD negeri, Frosty hanya memiliki satu sahabat dekat yang bernama Matthew karena mereka sama-sama beriman kepada Kristus. Frosty enggan terlalu dekat dengan teman lain.
Ada rasa takut, rasa tidak nyaman, bahkan rasa bersalah. Ia khawatir membawa bekal yang mungkin tidak halal, atau secara tidak sadar melakukan sesuatu yang bisa menyinggung.
Dari luar, Frosty tampak menjaga diri. Tapi sebenarnya, hatinya penuh kebingungan. Ia tumbuh dengan kewaspadaan yang berlebihan.
Apalagi setelah pernah mengalami masa-masa kerusuhan di sekitar rumah. Sejak itu, setiap kali sang mama belum pulang dan ia hanya berdua dengan nenek, rasa takutnya muncul lagi.
“Gimana kalau sesuatu terjadi dan aku harus lindungi nenek sendirian?” pikirnya berkali-kali.
Di sekolah, Frosty juga seringkali menilai teman dari cara mereka berpakaian atau berbicara. Anak yang terlihat kotor atau kasar, langsung membuatnya menarik diri. Dalam pikirannya, ia lebih baik.
Tapi semua itu mulai berubah saat Frosty menyaksikan episode Superbook tentang Petrus dan Kornelius.
Dalam kisah Petrus dan Kornelius, diperlihatkan bagaimana Tuhan mengubah pandangan Petrus yang awalnya enggan menerima orang non-Yahudi.
Tuhan menunjukkan bahwa setiap orang berharga di mata-Nya. Tidak peduli suku, bangsa, atau latar belakangnya.
Saat menonton itu, muncul sebuah kesadaran dalam hati Frosty, “Eh… kok aku kayak Petrus ya?”
Ia sadar, selama ini ia juga pilih-pilih dalam berteman, hanya mau bersama orang yang menurutnya “layak”.
Dari sana, perubahan dimulai. Perlahan, Frosty belajar untuk tidak lagi cepat menghakimi. Ia mencoba membuka diri.
Frosty belajar bahwa kasih Tuhan tidak terbatas, dan sebagai anak-Nya, Frosty juga dipanggil untuk mencintai tanpa batasan.
Sekarang, Frosty tidak lagi membedakan teman karena agama atau penampilan. Ia mau jadi sahabat bagi siapa saja.
Jika melihat ada yang tertinggal, ia berusaha untuk mendekatinya.
Jika ia mendengar komentar merendahkan orang lain, Frosty dengan berani menegur orang tersebut karena ia tahu bahwa Tuhan yang sama yang mengasihi dirinya, juga mengasihi semua orang.
Terima kasih kepada para Mitra Superbook yang telah setia mendukung pelayanan ini. Karena kasih dan kemurahan hati Anda, anak-anak seperti Frosty bisa mengalami perubahan hidup dan bertumbuh dalam iman kepada Tuhan.
Jika Anda rindu melihat lebih banyak anak di Indonesia mengalami kasih Kristus dan dibentuk sejak dini lewat firman Tuhan, mari terus dukung pelayanan Superbook.
Kunjungi www.superbookindonesia.com dan jadilah bagian dari misi penting ini. Satu langkah dukungan Anda bisa berdampak selamanya bagi masa depan anak-anak kita. Anda juga bisa mendukung superbook dengan menjadi mitra CBN, klik tombol di bawah.
Sumber : Jawaban.com