Sumber: Christian Daily International

News / 17 June 2025

Kalangan Sendiri

"Kalau Gereja Tidak Memuridkan, Gereja Akan Mati" – Peringatan dari Forum Injili Asia

Claudia Jessica Official Writer
4652

JAWABAN.COM – Forum Kepemimpinan Injili Asia (Asia Evangelical Leadership Forum) resmi ditutup pada Jumat, 13 Juni 2025, dengan satu pernyataan tegas yang menggema: Jika gereja tidak memuridkan, maka gereja akan mati.

Seruan ini disampaikan sebagai panggilan mendesak kepada gereja-gereja di Asia untuk kembali kepada misi utama yang Yesus sendiri tetapkan, yaitu menjadikan semua bangsa murid-Nya.

Forum bertema Disciple or Die 2 ini dihadiri oleh para pemimpin Injili dari berbagai negara di Asia. Selama tiga hari, para peserta berdiskusi secara strategis untuk memperkuat pemuridan sebagai inti dari pelayanan gereja.

Dalam sesi penutup, Dr. Bambang Budijanto, Sekretaris Jenderal Asia Evangelical Alliance (AEA), menekankan bahwa gereja saat ini tidak sedang berada dalam masa yang biasa-biasa saja.

“Kita tidak punya banyak waktu, dan taruhannya sangat besar. Jika gereja tidak memuridkan, gereja akan mati,” ujarnya.

Bambang menegaskan bahwa pemuridan bukan sekadar salah satu pilihan strategi pelayanan, melainkan satu-satunya strategi yang Yesus wariskan kepada para pengikut-Nya.

Ia mengajak gereja-gereja untuk bertobat dari kecenderungan menaruh fokus pada program dan aktivitas organisasi, tetapi lupa untuk taat secara pribadi kepada Kristus.

“Kadang misi gereja jadi lebih besar dari Yesus. Organisasi jadi lebih besar dari Yesus. Akhirnya, kita jadi hancur secara rohani,” tambahnya.

Senada dengan Budijanto, Uskup Efraim Tendero, mantan Sekretaris Jenderal World Evangelical Alliance, mengingatkan bahwa gereja tidak boleh menyia-nyiakan waktu.

Ia menyebutkan bahwa meskipun gereja telah berdiri selama hampir 2.000 tahun, kurang dari 12% populasi dunia adalah pengikut Kristus yang sungguh-sungguh.

“Kita tertinggal jauh. Setelah bertahun-tahun, mengapa kita tidak lebih maju dalam menjangkau dunia? Karena kita telah mengabaikan hal yang utama (memuridkan),” ujarnya dengan nada serius.

Tendero juga menyampaikan bahwa pertumbuhan gereja mula-mula bukan hanya karena para rasul, melainkan karena orang-orang percaya biasa yang terus bersaksi meski dianiaya.

Hari ini, gereja justru cenderung menjadi terlalu profesional dan pasif, membuat banyak jemaat hanya jadi penonton.

“Kita perlu mengoreksi kelalaian besar ini,” katanya.

“Kita telah mengesampingkan pemuridan sementara mengisi waktu kita dengan banyak hal baik lainnya. Sudah waktunya untuk menyelaraskan diri,” lanjutnya lagi.

Pada malam terakhir, peserta forum diajak mengambil bagian dalam Perjamuan Kudus sebagai tanda penyerahan kembali hidup kepada Kristus.

Budijanto memimpin momen ini dengan mengingatkan bahwa pemuridan bukanlah transfer informasi, melainkan hidup yang dipecah bagi sesama—seperti roti yang dipecah dalam perjamuan.

“Tidak ada dampak kekal tanpa kesatuan. Dan kesatuan hanya lahir dari kerendahan hati dan pengorbanan,” tegasnya.

Forum ini ditutup dengan komitmen untuk menjadikan pemuridan sebagai prioritas utama pelayanan.

AEA dan para pemimpin yang hadir menegaskan bahwa setiap gereja dipanggil untuk menghasilkan murid yang akan memuridkan orang lain.

Disciple or die bukan slogan. Itu adalah panggilan Yesus. Dan malam ini, kita memilih untuk taat,” tutup Budijanto.

Kini saatnya gereja di Asia kembali kepada inti misi yang sesungguhnya—memuridkan bangsa-bangsa, bukan sekadar menjalankan program. Karena ketika gereja sungguh-sungguh memuridkan, gereja akan hidup.

Inilah yang menjadi fokus utama CBN Indonesia dalam menjalankan visinya untuk memenuhi Amanat Agung Tuhan Yesus dengan menjangkau, memberitakan Injil, dan memuridkan setiap generasi.

Melalui berbagai media, program pemuridan, dan pelayanan digital, CBN terus mendorong gereja dan orang percaya untuk terlibat aktif dalam gerakan pemuridan di Indonesia dan Asia.

Ketahui lebih banyak tentang pelayanan CBN di sini

Sumber : christianpost
Halaman :
1

Ikuti Kami