Indonesia Evakuasi Masyarakat Gaza, Apa Tantangannya?
Sumber: Kompas.com

News / 17 April 2025

Kalangan Sendiri

Indonesia Evakuasi Masyarakat Gaza, Apa Tantangannya?

Aprita L Ekanaru Official Writer
5037

Ketika krisis kemanusiaan di Gaza semakin memilukan, Indonesia mengulurkan tangan untuk mengevakuasi 1.000 warga Palestina yang paling rentan. Namun, di balik niat baik ini, muncul pertanyaan kritis: Apakah ini solusi tepat, atau justru berisiko memperburuk konflik?

 

Evakuasi Gaza dalam Sorotan

Konflik Israel-Palestina terus memakan korban jiwa, dengan Gaza sebagai episentrum penderitaan. Menanggapi tragedi ini, Presiden Prabowo Subianto menyatakan kesiapan Indonesia mengevakuasi sekitar 1.000 warga Gaza, terutama anak yatim, korban luka, dan kelompok rentan. Inisiatif ini menuai pujian sekaligus kritik tajam, memantik perdebatan tentang etika, hukum, dan implikasi politiknya.

 

Tantangan yang Dihadapi

Kementerian Pertahanan RI telah bersiap melaksanakan misi ini, namun rencana tersebut dipertanyakan banyak pihak:

  • Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Nahdlatul Ulama (NU) khawatir evakuasi justru dimanfaatkan Israel untuk menguasai Gaza lebih luas.
  • Pakar hukum internasional mempertanyakan kesesuaiannya dengan regulasi global dan nasional.
  • Sebagian publik Indonesia merasa langkah ini bisa memicu masalah sosial jika tidak direncanakan matang.

"Evakuasi bukan solusi akar masalah. Fokus seharusnya pada tekanan diplomatik untuk gencatan senjata dan bantuan di tempat," tegas salah satu analis hubungan internasional.

 

Jalan yang Lebih Aman?

Alih-alih evakuasi massal, banyak pihak mendorong pembukaan koridor kemanusiaan jalur aman untuk pengiriman bantuan makanan, obat-obatan, dan tenaga medis. Sayangnya, upaya ini sering gagal akibat blokade atau serangan mendadak. Organisasi seperti WHO dan PBB terus mendesak akses lebih besar, sementara negara seperti Jepang telah memulai evakuasi terbatas untuk pasien kritis.

 

BACA HALAMAN SELANJUTNYA>>

Doa dan Aksi Nyata

Sebagai komunitas yang dipanggil untuk "menjadi pembawa damai" (Matius 5:9), umat Kristen diajak:

  • Berdoa untuk perdamaian di Gaza dan kebijaksanaan pemimpin dunia.
  • Mendukung bantuan kemanusiaan melalui lembaga terpercaya.
  • Menyuarakan keadilan tanpa memihak kekerasan.

"Tuhan peduli pada orang terlantar dan terluka. Tindakan kita harus lahir dari kasih, bukan kepentingan politik," ingat Pendeta Daniel Tanubrata, salah satu penggiat dialog lintas iman.

 

Solidaritas yang Bijak

Niat Indonesia patut diapresiasi, tetapi krisis Gaza membutuhkan solusi holistik, tekanan diplomatik, bantuan langsung, dan komitmen global untuk mengakhiri kekerasan. Sebagai orang percaya, mari terus berharap dan bekerja untuk perdamaian sejati, di mana "tidak akan lagi ada ratapan atau jerit sakit" (Wahyu 21:4).

Sumber : Berbagai sumber | Jawaban.com
Halaman :
Tampilkan per Halaman

Ikuti Kami